Bawa Indonesia Hebat di Mata Dunia

Dosen Muda Berprestasi, Berkarya dan Mengabdi
Muda berprestasi. Inilah julukan yang cocok diberikan kepada dua dosen muda asal Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB) Devanto Shasta Pratomo dan Tonny Dian Effendi dari FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Meski usianya masih belia, jam terbang kedua dosen ini sudah melanglang buana, menjajaki kancah dunia.
Usia Devanto sebagai pengajar di FE UB baru 13 tahun sejak 2001. Itu pun terpotong lima tahun saat dia meneruskan studi S3 di Lancaster University, Inggris pada 2004 sampai 2009. Tapi, karirnya di bidang riset dan penelitian, terutama spesialisasi di bidang ekonomi ketenagakerjaan dan migrasi, tidak perlu diragukan lagi.
Belum lama ini, Devanto menjadi peneliti terbaik di Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMO) Jasper Research Award 2013, di Bangkok, Thailand. Sebuah lembaga pendidikan di ASEAN ini memberinya penghargaan karena temuan barunya di bidang migrasi, dikaitkan dengan dunia pendidikan.
"Saya meneliti tentang migrasi di pendidikan. Tulisan saya mungkin dinilai dapat mendukung dunia pendidikan," ujarnya kepada Malang Post di kantornya kemarin (13/11/14). Ayah dua anak ini menemukan perbedaan antara migran dari daerah ke kota, dengan tingkat pendidikan tinggi dan rendah.
Hasil penelitian Devanto menunjukkan, migran dari desa ke kota tidak akan berhasil bila tidak dibekali dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Sebagian mereka yang bertingkat pendidikan rendah, lebih banyak bekerja di sektor informal. Sedangkan migran dengan tingkat pendidikan tinggi, bahkan bisa melampaui kesuksesan penduduk lokal.
"Penelitian ini saya lakukan di empat kota besar, Jakarta, Medan, Samarinda dan Makassar. Hasilnya, penelitian ini membuat saya dipilih menjadi yang terbaik," jelas pria berperawakkan kurus itu.  
Tidak berhenti sampai di situ, berkat penelitian yang sama, Devanto dipanggil oleh pemerintah Kanada untuk mempresentasikannya di depan para peneliti ekonomi lain. Tujuannya, untuk memberikan sumbangsih bagi pengembangan ketersediaan dan kesempatan kerja bagi kelompok-kelompok marginal di wilayah Asia Tenggara, serta meningkatkan perekonomian di lingkungan regional.
Dunia riset dan ilmiah memang sangat digemari pria yang berdomisili di Jl Pandan Arum, Dewandaru, Kota Malang itu. Kegemaran ini, membawa Devanto menerbitkan lima jurnal internasional dari lembaga jurnal di Australia dan Inggris. Kelima jurnal tersebut, dia ambil dari pengamatan sosial di kehidupan sehari-harinya.
"Sebenarnya bila mau melakukan riset, bisa melalui pengamatan di kehidupan sehari-hari. Dari situ, persoalan-persoalan kecil yang sering kita lewati, bisa terungkap dan terselesaikan," terangnya. Pengalaman di kancah dunia tidak itu saja, berkat berbagai karya ilmiahnya, Autralia, Inggris, Kanada, Singapura dan Thailand, berhasil dia pijak.
Di antara semua petualangannya itu, ada pengalaman menarik yang tidak bisa dilupakan olehnya. Devanto mengaku, saat kunjungan ke Australia dia bisa menemui akar ekonomi ketenagakerjaan yang mengamati kondisi ekonomi di Indonesia, Prof Chris Manning. Betapa bangga dan senangnya Devanto sebab selama ini ia hanya mengenal guru besar di Australian National University ini hanya dari buku-buku yang dia baca untuk mendalami bidang ilmunya. "Saat itu saya bisa bertemu langsung dengannya dan melakukan riset bersama. Itu pengalaman paling berkesan bertemu dengan peneliti ternama di dunia," pungkasnya.
Sementara Tonny Dian Effendy juga punya pengalaman serupa saat melanglang buana di negara orang. Ketika menjadi peneliti tamu di Jepang tentang diplomasi publik tahun 2009 sampai 2010, Tonny mengaku sangat terkejut, dirinya mampu menemui guru besar asal Inggris yang hanya dia kenal melalui buku, Prof Hugo Dubson.
"Saya hanya peneliti biasa, bukan siapa-siapa. Saat ke sana, saya bisa menemui beliau dan duduk berhadapan dengannya. Saling berdiskusi tentang ilmu yang kami dalami," jelasnya ekspresif. Menurut Tonny, itu sebuah pengalaman luar biasa yang tak ternilai harganya. Sama seperti Devanto, sebelumnya Tonny hanya bisa berkenalan dengan Prof Hugo Dubson melalui buku-bukunya.
Ya, bulan Agustus 2014 kemarin, usia Tonny genap 32 tahun. Di usia tersebut, Tonny bisa mencapai prestasi yang luar biasa. Pengajar di jurusan Hubungan Internasional (HI) spesialisasi Asia Timur itu, sudah menjajaki tanah Jepang, Portugis, China, Jerman, Thailand dan negara ASEAN lainnya.
Pengalaman paling berharganya dimulai saat Tonny berangkat ke Jepang pada tahun 2009-2010. Saat itu, judul riset Tonny diterima oleh Japanish Institute of International Affairs (JIIA). Dengan penelitian bertema diplomasi publik pemerintah Jepang ini, Tonny belajar banyak. "Pengalaman ke Jepang itu, pertama kalinya saya mencoba mengirimkan judul untuk ikut dalam kompetisi penelitian ilmiah. Tidak diduga, saya menjadi satu dari dua orang terpilih dan diajak penelitian ke Jepang," kata lulusan HI Universitas Negeri Jember (Unej) itu.
Ide Tonny tentang diplomasi publik di Jepang, dinilai baru bagi para peneliti di sana. Tonny melihat, masyarakat Jepang sebenarnya sudah melakukan diplomasi soal ini, tapi tidak menyadarinya. Karena itu, ketika Tonny mengangkat judul tersebut, JIIA langsung menerimanya.
Kesempatan berada di Jepang selama empat bulan tidak dibuang sia-sia. Waktu tersebut dia manfaatkan untuk menambah jaringan. Dia mengunjungi beberapa lokasi yang dinilai bisa menopang gairah intelektualnya, misalnya perguruan tinggi, kementerian luar negeri, sampai kantor perdana menteri Jepang. "Itu waktu berharga, saya pergunakan untuk menambah jaringan. Saya pikir itu sangat penting," kata Tonny semangat.
Beragam pengalaman di negara orang, membuat Tonny belajar, bagaimana membawa nama Indonesia ke dunia. Perasaan ini dia rasakan setiap mengikuti konferensi internasional di negara-negara luar. Saat berdiri, berbicara, berdiskusi atau presentasi, Tonny merasa melakukan hal tersebut bukan sebagai individu.
Saat berdiri di hadapan ratusan akademisi asing, Tonny merasa tanggung jawabnya sangat besar. Pria asal Blitar ini merasa dirinya tidak dipandang orang lain hanya sebagai Tonny, melainkan representasi Indonesia. Apapun yang dia lakukan, secara tidak langsung akan dikaitkan dengan bangsa Indonesia.
"Saya merasa punya tanggung jawab untuk itu. Mereka tidak hanya melihat saya sebagai Tonny. Tapi juga latar belakang saya. Benar apa yang dirasakan banyak orang, ketika sudah sering ke negara lain, ke-Indonesiaan kita akan semakin tinggi. Itu tanggung jawab besar," jelasnya.
Kendati terbebani tanggung jawab besar, Tonny kian bersemangat. Dia punya tekad bulat untuk terus mengunjungi negara-negara lain untuk menimba ilmu. Khusus di Asia Timur, cita-citanya mengunjungi semua negara-negara di wilayah Asia Timur. Bukan untuk bersenang-senang, melainkan berdiplomasi, membawa nama Indonesia besar di mata dunia.
Tonny sekarang sedang menempuh gelar master keduanya di Universiti Sains Malaysia (USM). Studi HI itu dia jalani bersamaan dengan kegiatan mengajarnya di UMM. Baginya, hidupnya akan terus dikerahkan dalam dunia belajar mengajar. "Dengan mengajar, saya mungkin tidak bisa menjadi orang besar. Tapi dengan mengajar, saya bisa membantu orang-orang menjadi besar. Meskipun hanya dengan pengaruh yang sedikit," pungkas pria rendah hati ini. (Muhamad Erza Wansyah/han)