Candi Wesi dan Madrim Piramida Megah bak Gunung Padang

Gunung Arjuno merupakan komplek krsian (baca Karesian) yang sangat megah. Arkeolog Dwi Cahyono menyebut, peninggalan di Gunung Arjuno tak kalah dengan Gunung Padang. Di ketinggian sekitar 2.000 meter diatas permukaan laut, Arjuno menyimpan piramida yang sesungguhnya.

Piramida yang dimaksud adalah bangunan punden berundak. Meski berundak, namun struktur piramida berteras itu adalah peninggalan Majapahit akhir. Revitalisasi tradisi megalitik pada masa itu, membuahkan tradisi baru bernama neomegalitik.
Tradisi neomegalitik muncul ketika agama Hindu pengaruh India mulai melemah dan Islam belum terlalu familier bagi masyarakat Majapahit akhir. Dalam situasi gamang, masyarakat saat itu memilih merevitalisasi agama nenek moyang.
Maka tak salah, di atas Gunung Arjuno yang megah, berjajar struktur piramida berteras. Setelah Candi Sepilar yang fenomenal itu, ternyata Arjuno masih menyimpan candi megah lain. Candi-candi itu berderet di punggungan bukit utara Candi Sepilar. Antara lain Candi Agung, Situs Penambangan Batu Candi serta Candi Wesi.
Khusus Candi Agung, berada sekitar 100 meter dari Sendang Drajat. Candi ini baru terlihat struktur tangga balok batu. Struktur lainnya masih terkubur di bawah tanah dengan pola mengarah vertikal ke puncak. Jika terbuka, candi ini bisa saja sesuai dengan namanya, yakni agung.
Adapun situs penambangan batu candi, merupakan komplek batu-batu vulkanik. Di tempat ini  terdapat sebuah situs berupa batu bersusun dengan orientasi ke puncak Arjuno. Di antara batu-batu itu, masih tampak yang memiliki pelipit. Pertanda dulunya merupakan sebuah struktur, namun kini disusun apa adanya.
Sekitar 30 meter dari situs itu, terdapat batu-batu berukuran raksasa. Dari jejak yang tertinggal, batu itu dulunya ditambang untuk bahan baku candi. Masih tampak goresan di urat-urat batu, berupa bekas tatah untuk memecah batu.
Situs-situs tersebut dihubungkan sebuah jalan setapak di tengah hutan yang rimbun. Sekitar 15 menit berjalan, tim Ekspedisi Samala tiba di struktur piramida berteras. Bangunan ini dinamakan sebagai Candi Wesi. Inilah satu-satunya piramida berteras di Arjuno yang masih sempurna.
Pola penataan Candi Wesi masih menampakkan lay-out piramida berteras secara utuh. Komplek ini berorientasi ke puncak namun menghadap ke arah matahari terbit. Posisinya persis di dekat tebing yang sangat tinggi. Ada tiga bagian penting dari Candi Wesi. Yang pertama adalah halaman teras depan, terkoneksi langsung dengan tebing tinggi. Bagian ini memiliki dua pendopo teras. Sebut saja pendopo teras 1 A pada sisi kiri. Struktur ini dilengkapi menhir  (batu sebagai tempat pemujaan nenek moyang).
yang berada di tengah susunan batu persegi. Sebagian susunan batu, termakan akar pohon besar.
Lantas bagaimana dengan kondisi pendopo teras 1 B. Sayangnya, pendopo teras 1 B telah berubah menjadi pondok pendaki spiritual. Meski demikian, bangunan pondok itu, masih menyisakan jejak pendopo teras, berupa batu besar yang diperkirakan merupakan menhir.
Dari halaman teras depan, terdapat susunan tanah lebih tinggi yang dikelilingi tumpukan batu serupa tanggul. Di tengahnya terdapat anak tangga menuju bagian bagian kedua yakni halaman teras tengah. Bagian ini juga memiliki dua pendopo teras, sebut saja teras 2 A pada sisi kiri. dan Pendopo teras 2 B pada sisi kanan. Keduanya juga dilengkapi dengan menhir. Bentuk menhir pada teras 2 A lebih artistik, karena mirip dengan nisan.
Halaman teras tengah ini, terhubung langsung dengan bangunan utama yakni piramida. Di ujung halaman teras terdapat sebuah kelir berupa lingkaran batu dengan menhir di tengahnya. Fungsinya sama seperti dwarapala kelir di Candi Sepilar, yakni memagari serangan gaib.
Uniknya, di kanan kiri bundaran kelir itu, terdapat anak tangga yang melingkar ke arah piramida. Ketika anak tangga itu bertemu di tengah, maka tampaklah sebuah tangga menuju piramida.  Pada saat itulah, struktur piramida terlihat memiliki tiga teras. Dimulai dari teras I, naik tangga lagi menuju teras II hingga terakhir adalah teras III. Di ujung teras III terdapat tangga menuju altar utama berupa menhir serupa nisan dan sebuah menhir batu bengkok.
“Menhir batu bengkok ini amat jarang, saya hanya lihat seperti ini di Sulawesi, yang kedua ya baru di Candi Wesi ini,” aku arkeolog Universitas Negeri Malang M. Dwi Cahyono.
Jika dilihat dari samping, piramida di Candi Wesi ini merupakan susunan piramida yang rapi. Bagian depan lebih panjang ketimbang bagian belakang yang ramping. Pola penataan atau lay-out-nya disebut sebagai dis-konsentris.
Struktur piramida ini dimulai dari posisi rendah atau profane menuju ke arah suci atau sakral yang terletak pada posisi paling tinggi. Piramida ini menghubungkan manusia yang hidup dengan arwah nenek moyang mereka. Piramida Candi Wesi ini, rupanya bukan satu-satunya di Gunung Arjuno. Sebab, struktur sama, juga didapati di Candi Madrim. Padahal, jarak antara Candi Wesi dengan Candi Madrim amat jauh, sekitar tiga jam berjalan kaki.
Struktur Candi Madrim persisnya berada di dekat Rahtawu atau Tampuono. Pada bagian paling tinggi, atau altar utama, telah ditambah dengan bangunan beratap. Posisi menhir di Candi Madrim, berupa batu besar yang memiliki lubang melingkar.(ary/han/bersambung)