Bersihkan Drainase, Dapat Kasur dan TV Rusak

Saat hujan mengguyur dan semua warga memilih berdiam diri dalam kehangatan rumah, berteduh, atau window shopping di mall, ada sebagian orang yang malah menuju saluran drainase dan  lokasi rawan bencana. Itulah Sahabat Perumahan dan Tata Ruang (PPR) Kota Malang. Mereka pantang berteduh lantaran tak ingin rumah warga digenangi banjir.

Pekan lalu, BBM group sebuah kelompok ramai mengomentari foto luapan air di salah satu gang di Tlogomas. Maklum, saat itu hujan pertama. Saluran drainase biasanya masih dipenuhi sampah.
Di tengah berbagai komentar, El Kepet, memberi jawaban terhadap  komentar  tersebut. “Terimakasih fotonya, kami sudah bergerak mengatasi,” katanya.  El Kepet adalah koordinator Sahabat PPR. Salah satu prinsip tim ini yakni bergerak cepat.
Musim hujan merupakan kerja ekstra mereka. Tim beranggota 20 orang ini meningkatkan siaga. Membuka mata dan telinga lebar-lebar wajib hukumnya bagi anggota tim. Semua alat komunikasi seperti handy talky (HT), telepon  dan BBM harus hidup. Bahkan setiap anggota tim bergabung dengan berbagai group BBM dan media sosial. Tujuannya untuk memudahkan dapat informasi tentang banjir.
“Kami sebenarnya tak hanya siaga di saat musim hujan dan rawan bencana. Karena sudah ada satuan tugas lain yang juga bekerja. Tapi kami selalu berkoordinasi dengan satuan tugas lain yang menangani bencana,” kata Kepet tentang tugas utama tim yang dipimpinnya itu.
Tugas utama tim yang berada di bawah Bidang Cipta Karya, Dinas PU, Perumahan dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) ini sebenarnya melakukan pemeliharan fasilitas cipta karya. Salah satunya drainase.
Karena itu, drainase merupakan salah satu  ‘sasaran tempur’ mereka. Saban hari, semua anggota tim berada di saluran drainase. Mereka membersihkan, mengangkut sampah, terutama yang tertutup jembatan.
“Jadi kami tak hanya menunggu saat banjir. Sekarang ketika  tak ada banjir kami juga turun. Bahkan ketika musim kemarau pun kami bergerak,” kata  Kepet bersemangat.
Membersihkan saluran drainase setiap hari, tim ini punya banyak informasi dan pengalaman. Salah satunya jenis sampah yang kerap dibuang masyarakat di saluran drainase.
Kepet dan teman-temannya tak pernah lupa kisah menemukan sampah. Belum lama ini, mereka menelusuri sebuah saluran drainase tertutup. Sebuah avur (penutup jalan di atas saluran drainase) dibuka. Anggota tim pun mulai ‘mancing’ sampah. Satu per satu sampah diangkat menggunakan pengait besi.
Tiba-tiba kait mereka tersangkut sampah. Setelah berjibaku mengangkat kait ke permukaan, ternyata tetap tak bisa. Pilihannya adalah membuka penampang drainase yang tertutup. “Ternyata sampahnya berupa kasur,” kata Kepet sembari tertawa.
Menemukan kasur dan perlengkapan rumah tangga di drainase bagaikan langganan. Mereka sering mengalami hal itu. Selain kasur, TV rusak dan berbagai perlengkapan elektronik. “Biasanya ditemukan di perkampungan. Tapi di perumahan juga ada seperti itu,” kata pria berambut gondrong ini.
Tak sekadar mengangkut, mereka juga memberi penyadaran kepada masyarakat. Biasanya setelah mendapat sampah yang menutupi saluran drainase, anggota tim memberikan penyadaran kepada masyarakat.
”Kalau drainase tersumbat sampah,  pasti menyebabkan luapan air. Nah kalau air meluap, ya masuk ke rumah warga. Akhirnya warga sendiri yang menjadi korban,” terangnya.
Tim ini tak hanya bekerja fisik. Mereka juga dibekali kemampuan melakukan pendataan kondisi saluran drainase. Setiap menjelajah drainase, mereka wajib melek kondisi drainase. Setelah itu langsung mendata.
“Data yang kami dapat di lapangan langsung diserahkan ke Bidang Cipta Karya. Tindaklanjutnya ya oleh Bidang Cipta Karya,” katanya.
Karena harus memberi laporan resmi, mereka rutin berkoordinasi dengan Kepala Bidang Cipta Karya, DPPUPB, Ir Tedy Soemarna, M.Eng.Sc (Aust). “Ya laporan tim biasanya menjadi bahan bagi kami. Peran tim ini sangat penting,” kata Tedy.
Bekerja dalam kondisi rawan bencana, semua anggota Sahabat PPR dibekali kemampuan penanganan bencana dan penyelamatan. Pelatihan merupakan kegiatan rutin yang sudah terprogram.
“Supaya kami tahu teknis penanganan pertama. Karena penanganan pertama sangat penting,” katanya. Karena itulah, semua anggota tim memiliki kemampuan penyelamatan dalam kondisi bencana. “Sedangkan teman-teman anggota tim juga sudah dibekali bekerja secara aman,” sambung Kepet.
Alat kerja pun memadai. Mereka memiliki mobil unit yang siap bergerak. Saat melakukan penelusuran, wajib mengenakan helm pengaman sebagai prosedur standar. Tali temali untuk aksi penyelamatan, seragam dan sepatu yang nyaman pun wajib dikenakan. (van/han)