Promosi Langsung ke Daerah, Kunjungan Naik 12 Persen

Ketika mendengarkan nama Jakarta, kemacetan menjadi momok bagi yang ingin berkunjung ke sana. Padahal, ada beberapa hal positif yang patut dicontoh, seperti promosi wisata yang dilakukan tanpa sungkan dengan datang langsung ke daerah meski Jakarta sudah cukup dikenal, karena posisinya sebagai ibu kota negara.

Beberapa waktu lalu, Malang Post mendapatkan kesempatan mengunjungi kota metropolitan itu untuk mengikuti Famtrip yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta. Awalnya, macet menjadi kekhawatiran begitu sampai di Jakarta. Panitia Jakarta Tourism Expo (JTE) pun mengakui ketakutan itu menjadi salah satu momok ketika mempromosikan pariwisata.

"Ketika kami mempromosikan Jakarta, pasti pertanyaannya, bagaimana solusi kemacetan di sini. Namun kami coba meyakinkan calon wisatawan, bila Jakarta kini lebih baik, dan masalah kemacetan bisa diatasi," ujar Staf Promosi Dalam Negeri Disparbud DKI Jakarta, Heru Ardianto.

Dia menyebutkan, ketika melakukan promosi di sembilan kota, salah satu usulan terbaik bagi calon wisatawan yakni berkunjung saat weekend. Sebab, pada masa tersebut tingkat kunjungan dari pebisnis berkurang, baik dari dalam maupun luar negeri. "Jakarta ini menjadi sentra bisnis. Ketika weekday, hotel-hotel penuh dan jalanan lebih macet, makanya bila ingin liburan mending di akhir pekan," beber Heru.

Benar saja, peserta Famtrip pun beruntung datang menjelang weekend atau di hari Jumat. Sehingga, sangat sedikit menerima pandangan kemacetan di Jakarta. Hanya terjadi di beberapa titik saja, itupun berbarengan dengan jam pulang kerja. Waktu perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta ke Pacific Place di kawasan Jakarta Pusat pun hanya butuh waktu satu jam.

Heru mengakui, setahun terakhir masalah kemacetan memang menjadi salah satu fokus penyelesaian oleh Pemda Jakarta. Menurutnya, tahun ini sudah ada perbaikan sekitar 15 persen mengenai pengurangan masalah kemacetan. Misalnya, bila sebelumnya perjalanan dari lokasi A ke lokasi B membutuhkan waktu 1 jam ketika terkena macet, kini bisa sedikit lebih cepat.

"Walaupun belum maksimal, tetapi ada upaya untuk mengatasi masalah ini. Sebab, akses jalan juga diperhitungkan bagi wisatawan yang hendak datang ke Jakarta," beber Heru ketika menemui rombongan Famtrip di kawasan Ancol.

Cara mengurangi kemacetan di Jakarta ini patut ditiru. Di beberapa jalan utama, kendaraan dengan usia di atas 10 tahun juga dilarang melintas. Selain itu, ada pula peraturan jalur three in one. Secara bertahap, program tersebut dijalankan untuk mengatasi masalah utama di provinsi dengan ikon Tugu Monas ini.
Heru menambahkan, masalah berikutnya yang paling ditakuti oleh wisatawan adalah banjir. Apalagi, begitu masuk musim penghujan, beberapa wilayah menjadi langganan banjir. Namun, ada penghitungan siklus banjir besar yang menjadi acuan untuk mengatasi rasa cemas.

Banjir besar di Jakarta yang bisa menimpa hingga Istana Negara ini terjadi lima tahun sekali, kecuali yang terjadi 2013 lalu. Seharusnya, bila dihitung mundur sesuai siklus, terjadi di tahun 2012. Sebab, sebelumnya terjadi banjir besar di tahun 2007 dan 2002.

Masalah banjir ini, coba diatasi dengan pemaksimalan Waduk Pluit dan pembersihan bantaran sungai. Tampak memang, sungai-sungai jauh lebih bersahabat ketika dipandang mata. Selain itu, solusi mengurangi banjir dengan meninggikan beberapa jalan raya. Ketika peserta Famtrip berkeliling kota, beberapa lokasi sedang berlangsung penambalan jalan raya.

"Pemerintah mencoba mengurangi masalah banjir, walaupun hasilnya tidak bisa instan. Namun, seandainya terkena banjir, pasti dipuaskan dengan berbagai pilihan lokasi wisata di Jakarta," terang pria ramah ini.

Heru menerangkan, tetap yakin akan potensi wisata di Jakarta. Sekalipun destinasinya berupa wisata modern seperti pusat perbelanjaan, atau tempat wisata buatan seperti TMII maupun Ancol, wilayah yang mulai kemarin dipimpin oleh Gubernur Basuki Tjahaya Purnama tersebut masih menarik perhatian.

"Jika ingin menemukan surga berbelanja ya di sini. Untuk variasinya, bisa memilih Ancol yang tiap tahun pasti ada sesuatu yang menarik yang ditawarkan," goda pria berkacamata ini.

Heru menjelaskan, salah satu daya tarik tambahan yang bisa pula ditiru oleh kota lain, Jakarta menyiapkan bus wisata untuk mengelilingi kota. Beberapa lokasi penting di kawasan Sudirman, Bundaran HI dan Masjid Istiqlal menjadi jalur yang dilewati oleh bus wisata yang diberi nama Mpok Siti. Di dalam bus tingkat tersebut, akan ada pemandu yang menjelaskan mengenai beberapa lokasi penting yang tengah dilewati oleh bus.

"Wisatawan yang ingin tahu sejarah Jakarta, gedung pertama atau mall pertama, bisa mengikuti City Tour dengan Mpok Siti. Gratis berkeliling Jakarta," papar Heru panjang lebar.

Tercatat, di tahun ini berkat kegigihan melakukan promosi, sekalipun sudah sangat dikenal oleh wisatawan, DKI Jakarta mencatat angka kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 2 juta di tahun 2013. Sementara, untuk wisatawan lokal, mencapai 36 juta orang.

"Untuk yang lokal, kami tidak bisa tahu pasti mereka berwisata atau urusan bisnis dan keluarga di Jakarta. Namun, angka kunjungan ke Jakarta ini mengalami peningkatan sekitar 12 persen setiap tahun," pungkas dia. (stenly rehardson/han)