Trauma Salah Pilih Pemain, Scouting Arema Jungkir Balik

Aktivitas bursa transfer Arema Cronus meningkat pesat belakangan ini. Namun, di balik aktivitas yang kian memanas, tim “scouting” Arema juga makin sibuk memburu informasi soal calon pemain baru. Trauma salah pilih pemain membuat manajemen berhati-hati melihat curriculum vitae (CV) calon pesepakbola Arema.
 
Sejak awal November 2014, publik pecinta Arema Cronus terus dijejali banyak berita serta rumor pemain. Sehari usai kekalahan dari Persib Bandung di Palembang, berita spekulasi pemain baru sudah merebak. Tak bisa dipungkiri,publik Aremania sangat menantikan berita-berita calon pemain baru Singo Edan musim depan.
Setelah Gustavo Lopez, Thierry Gathuessi dan Alberto Goncalves resmi lepas dari Arema, publik pun kian bertanya-tanya, siapakah pemain asing Arema musim depan. Rumor demi rumor bermunculan. Berita pemain asing dari Eropa, Afrika, Asia hingga Amerika Latin jadi makanan sehari-hari.
Rumor yang bergulir ini tidak hanya membuat penasaran publik. Manajemen Arema pun ternyata ikut sibuk mencari informasi soal rumor yang berkembang di masyarakat. Tim scouting Arema, yang masuk dalam jajaran Media Officer, berburu info terkait calon pemain yang dirumorkan datang ke skuad berlogo singa.
Bahkan, bursa transfer kali ini bakal memberi tantangan lebih untuk tim scouting Arema karena seluruh pemain asingnya hengkang. “Awal musim 2013, kita hanya perlu menganalisa CV satu pemain asing saja, yakni Gustavo Lopez. Sekarang, kita harus memburu data calon tiga asing Arema,” terang Media Officer Arema, Sudarmaji kepada Malang Post.
Tim scouting pun harus jungkir balik untuk mengumpulkan serta menyusun data-data calon pemain baru Arema yang jadi spekulasi media. Sebab, menurut Sudarmaji, spekulasi media tersebut sering menjadi acuan serta pertimbangan manajemen untuk merekrut pemain.
“Kita pasti pertimbangkan rumor serta spekulasi media. Sebab, apa yang diinginkan publik, biasanya terungkap lewat media. Tentu kita harus pantau spekulasi, dan itu cukup berat musim ini, karena tiga asing yang hengkang,” tegas pria domisili di Lowokwaru tersebut.
Tim scouting Arema harus melakukan analisa data calon pemain baru secara menyeluruh. Catatan rekor klub serta data profesional sebagai pemain bola, hanyalah awal dari perburuan informasi pemain. Data rekor gol, assist, minute play, hingga klub yang pernah dibela pemain, harus didapatkan oleh tim scouting Arema.
Dari data awal tersebut, tim scouting Arema bisa melakukan investigasi lebih mendalam terhadap kondisi pemain, baik secara fisik maupun mental. “Kalau data gol, minute play dan assist serta klub yang dibela, belum bisa menunjukkan aspek penting tentang sang pemain,” tegas Sudarmaji.
Data awal dari scouting, bisa mengungkap kondisi cedera sang pemain. Data rekor juga memberikan kesempatan bagi manajemen Arema untuk menghubungi mantan klub sang pemain buruan. Dari situ, manajemen bisa wawancara langsung dengan pihak klub yang pernah dibela sang pemain. “Kita bisa bertanya langsung pada klub yang bersangkutan, seperti apa fisiknya, apakah punya cacat cedera, punya penyakit bawaan, punya attitude yang buruk, personality yang jelek. Kita bisa tahu semuanya,” terang Sudarmaji.
Tim scouting Arema bekerja keras untuk memburu informasi sang pemain, karena trauma merekrut pemain yang tidak berkualitas. Landry Poulangoye, adalah contoh terburuk rekrutan pemain, ketika tim scouting Arema tidak seketat sekarang.
Landry Poulangoye adalah rekrutan pemain Arema era Robert Alberts, musim 2009-2010. Dia dikontrak oleh salah satu agen yang dekat dengan Robert. Akibatnya, tidak ada screening ketat terkait kesehatan serta kondisi fisik pemain berpaspor Perancis itu. Akibatnya fatal. Landry ternyata punya cacat dan cedera yang membuat permainannya buruk. Dia hanya bertahan separuh musim, sebelum dicoret sendiri oleh Robert. Sayangnya, pencoretan Landry tidak jelas. Musim 2013, Arema menerima getah kesalahan rekrut era Robert.
Poin Arema era Rahmad Darmawan (RD) di papan klasemen, dikurangi tiga. Lalu, Arema juga harus membayar denda sekitar USD 6500. Tak heran, trauma yang berakibat fatal ini, tak mau lagi diulangi oleh manajemen Arema yang sekarang. “Kita sangat hati-hati dalam mengontrak pemain. Kita menganalisa fisik serta latar belakang pemain. Reputasi boleh bagus, permainan dan skill pun boleh mumpuni. Tapi, kalau ada cacat, kita tidak segan membatalkan kontrak,” tutup Sudarmaji.(fino yudistira/han)