Delegasi Perdana Indonesia, Sekarang Aktif Berorganisasi

Penyandang tuna rungu bukan orang lemah. Mereka sama saja dengan individu lain. Hanya keterbatasan pendengaran menjadi sedikit hambatan dalam berkomunikasi. Tapi, bukan berarti hal tersebut jadi rintangan untuk berprestasi.
Semangat dari karyawan perusahaan rokok (PR) Merapi Agung Lestari, Yoga Dirgantara, tampaknya patut ditiru. Dalam keterbatasan, dia mampu terus berjuang untuk membahagiakan keluarganya. Prinsip dan semangat hidupnya, membuat dia mampu berprestasi, meski selalu hidup dalam keheningan.
Ya, keheningan tersebut ada karena Yoga adalah penyandang tuna rungu. Dia berasal dari keluarga yang sederhana di Jl Raya Janti Barat, Gg1, Sukun, Kota Malang. Kesehariannya, dihabiskan untuk bekerja, meringankan beban orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Di balik itu semua, tidak banyak yang tahu jika dia merupakan pria berprestasi. Yoga, berhasil menjadi perwakilan Indonesia dalam ajang Miss and Mister Deaf International (MDI) 2014 di Londonm Agustus 2014 lalu.
Masyarakat Kota Malang tentunya patut bangga memiliki Yoga. Pria berusia 24 tahun ini membawa nama harum Indonesia, Kota Malang khususnya, ke tingkat dunia. Karena tidak semua penyandang tuna rungu memiliki kesempatan untuk membawa nama baik negara. "Dulu saya hanya bercita-cita pergi ke London dan melihat jam besar bernama big ben. Tidak menyangka, ternyata itu menjadi kenyataan," jelasnya kepada Malang Post dengan artikulasi seadaanya, seraya menggerakkan tangan dan memeragakan apa yang dia katakan.
Meski tidak bisa mendengar, Yoga mampu untuk berkomunikasi dengan banyak orang menggunakan verbal. Kemampuan verbalnya cukup baik, sehingga orang lain bisa mengerti apa yang dia bicarakan, tanpa harus paham bahasa isyarat.
Kesuksesan Yoga terbang ke London bermula ketika dia berhasil masuk seleksi putra-putri tuna rungu Indonesia 2014. Dia dipilih menjadi salah satu peserta ajang yang baru pertama kali dilakukan di Indonesia ini.  Bersama dengan 15 penyandang tuna rungu pilihan dari berbagai daerah di Indonesia lainnya, dia terbang ke Jakarta dan dikarantina, Maret 2014 silam. Saat dikarantina, Yoga merasa bangga, karena dia bisa bertemu dan berkomunikasi dengan para penyandang tuna rungu dari daerah lain.
Di sana, Yoga berbagi cerita dengan para penyandang tuna rungu dari berbagai daerah. Perasaannya saat itu sangat gembira, karena dia berkesempatan memiliki teman dari luar daerah sesama penyandang tuna rungu.
Apalagi, teman-teman Yoga di karantina merupakan penyandang tuna rungu berprestasi.  "Mereka baik, masing-masing punya kemampuan dan saling menghargai. Saya sangat bangga bertemu mereka," urainya.
Tidak disangka, rupanya di ajang tingkat nasional ini Yoga berhasil menjadi juara. Kemenangan di tingkat nasional inilah yang membuat Yoga dikirim sebagai perwakilan Indonesia dalam ajang MDI 2014. Yoga menjadi penyandang tuna rungu pertama yang dijadikan delegasi di MDI.
Dalam ajang tersebut, Yoga harus bersaing dengan 24 peserta dari berbagai negara di dunia. Hal tersebut tidak diambil pusing olehnya. Justru, rasa bahagia bertambah karena akhirnya dia punya jaringan penyandang tuna rungu dari negara-negara lain.
Dari pertemuan dengan penyandang tuna rungu dunia, Yoga menjadi banyak belajar. Dia sering bertukar cerita dengan teman-teman dari negara lain. "Saya akhirnya tahu, ternyata di luar negeri hampir semua penyandang tuna rungu sekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa). Kalau di Indonesia, masih ada tuna rungu yang bersekolah di sekolah umum," jelasnya.
Sayangnya, di ajang tersebut Yoga belum berhasil menyabet gelar juara. Tapi tidak mengapa, bagi Yoga, partisipasi dirinya di tingkat internasional merupakan kebanggaan tersendiri bagi keluarga. Ibu Yoga, Sri Haryani juga sudah bersenang hati melihat anak pertamanya ini berhasil mencapai prestasi gemilang. Dia tidak menyangka, putra kebanggaannya ini bisa menjadi pemenang Kompetisi Putra-Putri Tuna Rungu 2014. "Apalagi sampai ke London, mewakili Indonesia. Jelas bangga sekali," tandasnya.
Menurut Sri, keberhasilan Yoga tidak terlepas dari sikap alaminya yang pandai bergaul dan tak pernah menyusahkan orang lain. Sri mengatakan, Yoga adalah orang yang perhatian, tidak pernah menyusahkan orang tua, apalagi warga sekitar.
Di lingkungan rumahnya, dia dikenal sebagai pria yang baik hati. Tidak jarang warga meminta tolong kepada Yoga. "Dia tidak pernah menolak, apa saja pasti dibantunya. Apalagi sama keluarga, dia sama sekali tidak pernah menyusahkan," jelasnya.
Kini, Yoga kembali melakukan aktivitasnya sebagai karyawan di PR Merapi Agung Lestari. Namun sekarang, kesibukannya bertambah. Yoga semakin giat bergelut di komunitas Akar Tuli, wadah bagi penyandang disabilitas. Selain itu, dia juga aktif di DPD Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Jatim. "Meski kita tuli, kita punya keinginan untuk berorganisasi. Di organisasi, kita berbicara soal program kerja atau masa depan organisasi. Saya pribadi punya keinginan, penyandang tuna rungu di Indonesia kesejahteraannya terjamin," pungkasnya. (Muhamad Erza Wansyah/han)