KH Muhammad Maftuh Sa’id dan Pesantren Al Munawwariyyah (4)

Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah, Desa Sudimoro, Kecamatan Bululawang tidak mengkhususkan sebagai pesantren penghafal Al quran, meski sebagai besar menghafal Al quran. Karena mereka juga mengikuti sekolah formal, mulai SD, SMP, SMA dan SMK. Para santrinya kebanyakan masih seusia anak-anak sekolah dasar.


Tahun 1983, menjadi tahun cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah yang dirintis KH Muhammad Maftuh Sa’id. Awalnya, kiai asal Gresik itu mendapatkan amanah dari salah seorang warga Malang yang akan menitipkan dua orang anaknya untuk dididik Kiai Maftuh, khususnya menghafal Al quran.
Orang tua itu merasa kagum dengan kemampuan putri pertama kiai, Nurul Hafshah yang saat itu masih duduk di bangku SD kelas II, tapi mampu menghafal Al quran beberapa juz dengan suara indah. Itu di dengarkan saat, Hafshah dibawa gurunya tampil di Masjid An Nuur Kidul Pasar Malang yang mengadakan peringatan Nuzulul Quran. Kiai yang merupakan anak pertama dari 13 bersaudara ini memutuskan menerimanya. Waktu itu masih mengontrak rumah di sebelah SDN Sudimoro 2, di ruangan yang hanya 8 x 7 meter.  Momen itulah yang akhirnya ditandai sebagai pendirian pesantren, 7 Syawwal 1402 H atau 28 Juli 1983.
Lambat laun, banyak masyarakat sekitar yang menitipkan pula putra-putrinya untuk diajakan mengaji. Dari awal tidak ada niat untuk mendirikan pesantren sebesar saat ini. Awalnya hanya dari bangunan 8 meter x 7 meter, saat ini sudah mencapai 4 hektar lahan yang dimiliki pesantren.
Dalam membangun pesantren, Kiai Maftuh hanya berpedoman pada “Kurdi” alias syukur dadi dengan modal “Cengkir”, alias kencenge pikir. Pedoman itu yang digunakannya untuk membangun semua bangunan yang ada di pesantrennya. Sampai saat, pesantren masih terus membangun untuk lanjutan bangunan sekolah formal, yang saat masih kekurangan kelas.
“Ya, bangunan semuanya ini hanya berpedoman pada Kurdi, syukur dadi. Rencana saya, asrama untuk santri putri akan ditingkat supaya lebih memadai lagi,” ujar kiai yang selalu merendah ini.
Pesantren yang memiliki santri lebih dari 1700 orang santri itu, berasal dari hampir seluruh provinsi di Indonesia. Ada beberapa santri dari Sumatera, Jakarta, Kalimantan, dan bahkan ada berasal dari Papua. Sebagian besar dari mereka masih usia kanak-kanak. Saking banyaknya anak-anak, pesantren itu seringkali di sebut pesantren unyil dengan kiainya Pak Raden. Karena sebagian besar santrinya anak-anak kecil.
Banyak putra putri orang kota, termasuk kiai pesantren, dititipkan belajar mengahafal al Qur'an di pesantren ini. Sampai-sampai, tidak terkecuai, putra KH Hasan Sahal, pengasuh pesantren Gontor, Ponorogo yang mampu hafal dalam waktu paling cepat, selama 18 bulan.
Meski sang kiai tidak mengenyam pendidikan formal sampai tuntas, Kiai Maftuh mendirikan sekolah formal bagi santrinya, mulai SD Negeri Sudimoro III, SMP, SMA dan SMK Almunawariyyah yang semuanya berada di dalam area pesantren.
“Kami belum menerima pelajar dari luar pesantren. Semua siswa yang belajar di sekolah formal adalah santri pesantren. Usai subuh mereka setoran hafalan Al quran, pagi sekolah, madrasah diniyah dan bakda maghrib, mereka mengulang hafalan Al quran,” terangnya.
Awalnya hanya ada SDN yang saat itu dibangunkan Pemkab Malang. Karena banyak orang tua yang berharap ada sekolah lanjutannya, sehingga pesantren membangun SMP, hingga SMA. Banyak juga permintaan agar santri keluar dari pesantren memiliki keahlian khusus, karena itu pesantren membangun SMK dengan dua jurusan saat ini, IT dan Tata Busana.
Meski sudah ada sekolah sampai SMK, banyak orang tua santri yang berharap tetap dapat melanjutkan pendidikannya di pesantren itu. Mereka berharap pesantren dapat membuka perguruan tinggi Ilmu Al quran yang saat ini keberadaanya masih sangat jarang di Indonesia.
“Cita-cita saya memang bisa membangun perguruan tinggi ilmu Al quran yang berbeda dengan yang sudah ada. Doakan kami agar bisa mewujudkannya,” terang berharap. (bersambung/muhaimin)