Sehari Enam Ayat, Tiga Bulan Hafal Dua Juz

Sekelompok santri cowok duduk di pojok masjid, mereka membaca satu ayat lalu menghafalnya. Penggalan ayat bisa dihafal berulang kali, sampai belasan atau bahkan lebih hingga tertancap di dalam otak. Begitu seterusnya.
Kepada tim Sowan Kyai, salah satu santri Muhammad Kholil asal Madura mengaku sudah menghafal sembilan juz, sementara teman-temannya yang lain beragam. Ada yang hafal tiga juz, empat, ataupun lima. “Saya di pondok ini sejak kelas empat SD,” ucap Kholil yang sekarang kelas 1 SMP.
Para santri yang datang dari berbagai daerah ini mengaku masuk pondok atas keinginan sendiri, meski sesekali mereka juga merindukan keluarga di rumah. Jika kangen melanda, mereka bisa menelpon dan menerima telpon dari keluarga setiap sabtu malam dan hari minggu di warung telepon yang disediakan pondok. Karena banyaknya santri, mereka harus mengantre menunggu giliran. “Yang terima telpon, nanti akan diumumkan. Atau jika sudah janjian sebelumnya, biasanya santri akan datang dengan sendirinya di wartel ini,” tambah santri lainnya.
Sementara itu, selama 31 tahun sejak berdiri, Pondok Pesantren Al Munawwariyyah menerapkan sistem hafalan ala salaf, dimana setiap santri yang menghafal Alquran harus menghadap KH Muhammad Maftuh Sa’id satu per satu untuk ‘menyetor’ hafalan hariannya. Dengan sistem ini, tentu saja menuntut ketelatenan dan fisik kuat dari sang kyai. KH Maftuh harus memberi contoh bacaan yang benar sekaligus mengevaluasi setiap hafalan dari bacaan maupun tajwid santri.
“Nah, saya sekarang semakin tambah umur, jadi saya mencoba menciptakan metode lain,” ungkapnya.
Sehabis lebaran tahun ini atau Agustus 2014, KH Maftuh mencoba metode baru dengan membentuk sebuah kelas khusus yang diberi nama Madrasah Tahfizdil Quran, berisi para santri yang mendaftar khusus untuk menjadi penghafal. Santri dan santriwati boleh mendaftar kelas ini dan harus melalui tes, salah satunya dengan menghafal surat An-Nazi’at yang termasuk susah untuk dihafal. Meski ayat-ayat surat ini tergolong pendek namun pengulangan kata dari akar kata yang sama dalam satu ayat membutuhkan kemampuan mengingat yang tinggi.
Dalam angkatan pertama ada 360 santri yang mendaftar, namun setelah melalui tes ada 250 santri yang diterima dan dibagi menjadi enam kelas. “Santri lain memang tetap menghafal Alquran, namun khusus untuk mereka yang mendaftar di Madrasah Tahfidzil Quran ini tuntutannya lebih tinggi,” urai KH Maftuh.
Setiap hari selepas maghrib, para santri di kelas ini dikumpulkan untuk mendapatkan materi hafalan yang diawali dengan contoh pembacaan ayat dari ustadz. Menurut KH Maftuh, ustadz yang memberi contoh tersebut sengaja  dipilih karena kemampuan hafalan dan suaranya yang bagus. “Suara harus bagus supaya anak termotivasi dan bacaan harus benar karena akan dihafal. Jika sampai salah sejak bacaan pertama, maka hafalannya juga akan salah,” terangnya.  
Usai pembacaan ayat oleh ustadz, seluruh santri diminta untuk menirukan, demikian seterusnya. Waktu untuk kelas ini tidak lama, hanya 1 jam 15 menit. Pagi hari, sehabis subuh, para santri masuk kelas lagi untuk menyetor hafalan dari PR yang diperoleh malam harinya. Setiap hari mereka harus menghafalkan minimal enam ayat. Dengan metode ini, satu semester santri diharapkan bisa menghafalkan satu juz. “Tapi semester di Madrasah Tahfidzil Quran ini bukan enam bulan ya, tapi tiga bulan. Memang ini metode berbeda, metode ala saya,” ujar KH Maftuh terkekeh.
Karena itu, sejak dibuka Agustus lalu, para santri sudah melalui tes akhir semester di akhir Oktober. Mereka yang lolos tes bisa langsung masuk ke semester kedua dengan beban hafalan yang lebih berat, yaitu dua juz dalam tiga bulan. Penambahan juz ini dibuat, menurut KH Maftuh, karena santri sudah mulai terbiasa menghafal, sehingga kemampuan mereka untuk merekam ayat demi ayat semakin cepat dibanding permulaan. Dengan metode tersebut, maka diharapkan dalam satu tahun santri bisa menghafal minimal tujuh juz.
Uniknya, dari evaluasi di semester pertama lalu menunjukkan bahwa penghafal ‘tercepat’ malah didominasi oleh anak-anak dengan usia lebih kecil. “Ya mungkin anak-anak kecil bisa lebih fokus menghafal, pikiran mereka belum banyak dipengaruhi keinginan duniawi,” tambah KH Maftuh.    
Akhir tahun ini, ia akan membuka gelombang kedua untuk Madrasah Tahfidzil Quran dan hingga tim Sowan Kyai Malang Post berkunjung pekan lalu, sudah ada 40 santri yang mendaftar. Ya, meski Pesantren Al Munawwariyyah dikenal sebagai ponpes penghafal Alquran, ternyata tak semua orang tua menghendaki anak-anaknya menjadi hafidz ataupun hafidzah. Mereka ikut menghafal Alquran namun tak dipatok dengan target tertentu. Menurut KH Maftuh, masih ada orang tua yang khawatir jika anaknya menjadi penghafal Alquran akan susah mendapat makan dan penghasilan di kemudian hari. Padahal dari hasil ujian akademis dan evaluasi hafalan Alquran menunjukkan, mereka yang mampu menghafal Alquran dengan cepat juga memperoleh nilai yang bagus di pendidikan formalnya.
“Sebab otak mereka sudah dibiasakan untuk menghafal ayat-ayat suci, jadi sebenarnya lebih mudah menangkap dan memahami pelajaran,” tandasnya.
21 Desember nanti, Ponpes Al Munawwariyyah akan menggelar pengukuhan hafidz dan hafidzah serta wisuda Dirosatul Quran  bi An-Nadlor. Ada 17 hafidz dan 26 hafidzah yang nanti akan diwisuda. 20 di antaranya berasal dari Malang, sedangkan sisanya ada yang dari Probolinggo, Gresik, Surabaya, Semarang, Jepara, Balikpapan hingga Batam. Acara ini kian istimewa karena dibarengkan dengan haul KH Sa’id Mu’in yang ke-11 dan akan dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan.  
Hafidz termuda dalam wisuda kali ini berasal dari kelas 1 SMP, sedangkan yang tertua merupakan ustadz pondok beranak satu. “Jadi sebenarnya tidak ada batasan usia untuk memulai menghafal Alquran, asal ada kemauan. Meski memang, yang paling mudah jika anak diarahkan sejak masih kecil,” terangnya.
“Oia, saya undang Malang Post untuk hadir saat acara wisuda nanti ya,” pungkas KH Maftuh mengakhiri wawancara dengan tim Sowan Kyai.(han)