Latih Ribuan Orang, Tampil di 50 Festival

Berstatus pejabat, Winarto tak kehilangan waktu berkreasi dalam dunia tari. Bahkan melalui tarian tradisional kontemporer, Kepala Seksi (Kasi) Sejarah Purbakala di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu ini sudah melatih ribuan orang untuk menari. Sebagai koreografer, pria 42 tahun itu  telah menghasilkan 60 jenis koreo dan pernah ikut 50 festival tarian di berbagai daerah.

Kemarin siang, Winarto berbegas menuju Yonkav 3/Tank di Singosari. Ia harus berlatih 125 prajurit di kesatuan tersebut untuk tampil dalam pagelaran tarian kolosal sebuah kegiatan TNI AD, 15 Desember nanti.
“Total prajurit yang dilatih 600 orang, mereka dari 16 atau 18 kesatuan. Latihannya memang di markas masing-masing. Tapi nanti ada latihan bersama, ya disatukan,” kata Winarto.
Hari-hari ini, alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta ini memang sedang sibuk melatih tarian kolosal untuk prajurit TNI AD.  Tapi ia masih tetap berlatih secara rutin untuk sanggar dan dirinya sendiri.
Dalam sepekan, Winarto selalu menyempatkan diri  berlatih tari secara rutin. Jadwalnya dua hari dalam sepekan.  Meski ‘latihan’ ala Winarto tentu berbeda dengan para penari pemula. Sebab setiap Rabu malam, ia punya jadwal pasti untuk tampil di Hotel Tugu. Di hotel yang berlokasi di jantung Kota Malang ini, Winarto menampilkan tarian Topeng Malangan.
Ayah tiga anak ini memang mendedikasikan diri untuk tarian. Sebab menurut dia, tarian sebagai seni budaya harus dilestarikan lantaran memiliki nilai atau pesan sekaligus olah rasa. Kendati menyandang jabatan sebagai kepala seksi, Winarto tak mengorbankan tugas utamanya itu. Urusan kantor beres, tarian tetap dilestarikan.
Ia bagai tak dapat dipisahkan dari tari. Betapa tidak, suami Heni Murti ini sudah berlatih tari sejak masih SD hingga kini. Saat melanjutkan kuliah, alumnus SMA PGRI Pakis ini memilih jurusan tari di STSI Surakarta.
Menguasai tarian, Winarto tak memakan ilmunya sendiri. Ia berbagi pengetahuannya melalui Sanggar Malang Dance. Jika ditotal, sudah lebih dari 1.000 orang yang dilatih untuk bisa menari. Hal ini sekaligus membuahkan kepuasan batin tersendiri  untuk seorang Winarto.
Hidup bersama tarian, Winarto telah tampil di berbagai event. Dalam catatannya, ia telah  mengikuti 50 festival tarian di tingkat Jatim dan nasional. 10 di antaranya berhasil sebagai juara.
Jumlah tarian hasil kreasinya pun tak sedikit. Saat ini terdapat 60 jenis tarian hasil kerasi Winarto. Salah satunya yang terkenal yakni tarian Mban Edreg. Tarian ini menggambarkan pelayan yang kebanyakan tingkah. “Ya setiap tarian punya nilai dan pesan tersendiri,” kata Pemuda Pelopor Budaya dan Pariwisata Jatim Tahun 2003 ini.
Mengkreasi sebuah langgam tari, ternyata tidak mudah. Winarto butuh waktu antara satu pekan hingga tiga bulan untuk menghasilkan sebuah koreo. Semuanya lengkap dengan nilai atau pesan moral.
Butuh waktu lama menggagas kreasi tari karena sebuah gerakan yang diciptakan harus bisa dirangkai dengan gerakan lain. Selain itu setiap gerakan harus memiliki rasa seni yang tinggi.
“Selain itu harus selalu latihan, berimprovisasi dan berkreasi. Karena tarian harus memiliki ciri khas. Nah untuk membentuk ciri khas tarian itu sulit,” katanya.
Karena itu,  di saat harus membuat gerakan tari, Winarto kadang bagai orang tak wajar. Betapa tidak, saat hujan sedang mengguyur, ia memilih berbasah kuyup latihan. Kebiasannya itu kerap mengundang tanda tanya orang yang melihat. “Buat apa sih orang itu, gerak sendiri-sendiri,” katanya mengulangi pertanyaan warga yang kerap bingung melihat aktivitas latihan tari. “Ya saya latihan saja. Sehingga bisa menemukan ciri khas gerakan,” sambung warga Sukun ini.
Karena tarian pula, Winarto berhasil menyabet prestasi sebagai koreografer terbaik Festival Tari se Jawa Bali. Ia juga pernah didaulat sebagai penyaji terbaik festival seni pertunjukan tingkat nasional.
Bahkan Winarto pernah diberi kepercayaan tampil di Taman Mini Indonesia Indah saat menyambut 16 duta besar, sebuah kepercayaan yang diberikan oleh Pemprov Jatim.
Kini Winarto akan terus berkreasi agar tarian tradisional  tetap dilestarikan. Menurutnya, jika tarian tradisional lestari dan dicintai generasi muda merupakan salah satu kebahagiaan terbesarnya. (vandri van battu/han)