Penuhi Kebutuhan Gizi, Olah Tempe Jadi Bakpao Hingga Susu

Pernah terbayang, bagaimana rasanya makan susu tempe, stik tempe, hamburger tempe, atau nugget tempe? Mau yang lebih unik, bayangkan juga rasanya makan bakpao tempe, bolu kukus tempe atau brownies tempe. Meski tempe merupakan komoditas yang tidak sulit didapat untuk ukuran Kota Malang, tapi nampaknya, belum ada yang pernah mencicipi makanan yang dilihat dari namanya saja, terdengar unik.

Namun hal ini tidak berlaku bagi seorang dosen jurusan ilmu gizi di Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Malang, Yohanes Kristianto, MFT, mahasiswanya dan masyarakat Arjowinangun, serta masyarakat Kendalkerep. Sebab, mereka telah lebih dulu mencicipi makanan tempe yang dinamai "tempe generasi II" ini.
Generasi tempe II ini merupakan gagasan Yohanes untuk memperbaiki gizi masyarakat Indonesia, khususnya di Kota Malang. Generasi tempe II adalah makanan berbahan dasar tempe yang diolah menjadi makanan lain yang sama sekali tidak seperti tempe. Namun semuanya berbahan dasar tempe. “Bila dicicipi, rasanya tempe masih ada dan khas. Tapi, sudah dimodifikasi sehingga bisa jadi lebih enak," jelas pria yang berdomisili di Sawojajar ini.
Ada sedikitnya 20 resep tempe generasi kedua. Setiap jenis tempe generasi II ini, memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Namun, tambah Yohanes, rasanya tidak perlu diragukan. Karena pembuatan resep sudah berkali-kali melalui proses modifikasi dan  uji coba.
Misalnya, susu mix tempe, dimana ada tempe, ditambah jagung manis, kemudian diberi gula lalu diblender. Setelah mencair, lalu direbus di atas kompor selama kurang lebih 15-30 menit. Jadilah susu mix, susu yang terbuat dari tempe dan sedikit jagung. Yohanes mengatakan, rasa susu tempe berbeda dengan susu kedelai, karena susu tempe didapat dari kacang kedelai yang telah melalui fermentasi.
Begitu pula dengan kudapan kesukaan anak-anak, stik tempe. Berbeda dengan keripik tempe, stik tempe lebih gurih karena berukuran kecil. Bila digigit, gurihnya sama seperti jajanan stik pada umumnya, tapi dengan rasa tempe yang khas. Menurut Yohanes, jajanan stik tempe ini cocok menjadi jajanan anak-anak sehari-hari.
Lebih lanjut, lulusan Strata-2 Curtin University of Technology, Australia ini menyatakan, gagasan untuk membuat tempe generasi kedua ini muncul tidak semata-mata karena sedang ‘iseng-iseng’, apalagi alasan komersial. Justru, gagasan membuat tempe generasi kedua muncul berlandaskan kemauan sosial dia untuk membantu masyarakat memperbaiki gizi.
Pria berusia 46 tahun ini merasakan kekhawatiran saat mengetahui sebagian masyarakat Malang, belum mendapatkan gizi cukup dalam sehari-hari. Terutama di wilayah kelurahan Arjowinangun, kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Sebagian besar warga di wilayah yang berada di selatan Kota Malang ini tidak bisa memenuhi kebutuhan gizinya dalam sehari, termasuk untuk anak-anaknya.
Ia khawatir, ketika kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi sehak kecil akan berdampak panjang. Saat dewasa kelak anak tersebut akan mengalami kesulitan terkait persoalan kesehatan tubuhnya. Di sisi lain, Yohanes juga mengerti, memaksakan pihak lain masuk dan memberi bantuan gizi berupa susu, vitamin, dan hal-hal lain yang berbau pemenuhan kebutuhan gizi, juga tidak baik. Bilamana dilakukan, lanjut dia, percuma. Karena kebutuhan gizi orang-orang di sana hanya akan terpenuhi ketika distribusi susu, vitamin dan lain-lain itu masih berlangsung. "Di luar itu, kebutuhan gizi mereka berkurang lagi," tandas bapak dua anak ini.
Menurut Yohanes, bantuan pemenuhan kebutuhan gizi tidak bisa berlangsung musiman. Perlu ada keberlanjutan dan pemahaman dari masyarakat tentang kebutuhan pemenuhan gizi masyarakat setempat. Sehingga, untuk membuat sebuah komunitas/masyarakat bergizi cukup, seseorang harus mengambil unsur lokal dari masyarakatnya.
Dalam konteks di Malang, Yohanes berpendapat, tempe merupakan makanan yang mudah didapat. Tidak butuh waktu lama untuk mencari makanan khas Indonesia ini. Sebab, Malang dikenal juga dengan sentra industri olahan tempe yang selalu menjadi rujukan wisatawan ketika berkunjung ke Malang.
Di sisi lain, tempe memiliki gizi yang cukup untuk menjadi penyeimbang daging. Yohanes mengemukakan, tempe juga mudah dicerna perut. Terlebih untuk anak-anak, tempe tidak akan menganggu pencernaan anak, bahkan bisa menyembuhkannya.
"Karena itu, saya ambil tempe. Ada banyak kelebihan tempe. Makanan ini juga bisa menjaga pemenuhan gizi bagi masyarakat. Tapi kalau tempe diberikan seperti biasa, seperti tempe bacem, tempe goreng, kering tempe dan sebagainya, apa bedanya dengan tempe-tempe biasa. Masyarakat pasti bosan memakan tempe-tempe tersebut. Karena itu, kami buat tempe generasi II," jelas dia.
Resep-resep tempe generasi kedua sendiri, tidak murni merupakan resep milik Yohanes dan timnya. Ada keterlibatan masyarakat dalam pembuatan resep tersebut. Pria asli Trenggalek ini menyebut, sebelum membuat resep, dia mengumpulkan resep dari para ibu di kelurahan Kendakerep dan Arjowinangun.
Resep-resep yang dinilai berpotensi untuk menjadi tempe generasi II, diambil dan dibawa ke laboratorium gizi. Komposisi bahan diuji dan diproses berulang kali, agar takarannya sesuai dengan kebutuhan gizi masyarakat. "Setelah melalui proses laboratorium dan uji gizi, jadilah tempe generasi II," seru Yohanes.
Terbukti, saat resep-resep tersebut diserahkan ke 84 keluarga dari dua kelurahan ini, antusiasme ibu-ibu di sana sangat tinggi. Anak-anak juga demikian, sangat lahap dalam mencicipi makanan tersebut. Tidak hanya itu, para ibu juga diajarkan bagaimana memasak resep demi resep dari tempe generasi II. "Harapannya, ibu-ibu ini bisa memasak untuk keluarganya. Sehingga, bila daging sedang tidak ada, mereka bisa makan tempe dengan cara lain sebagai alternatif. Gizi mereka akan terjaga," lanjut dia.
Yohanes pun kaget, setelah beberapa waktu lalu dia melakukan survei lapangan kesekian kalinya, dia melihat sebuah kios disana menjual jajanan stik tempe yang sudah dikemas. Pria yang juga Alumni Poltekkes Kemenkes Malang (dulu bernama Akademi Gizi) ini, melihat banyak pembeli stik tempe tersebut.
"Itu sangat bagus, anak-anak sekitar jadi bisa beli dan makan jajanan sehat. Selain itu, tempe generasi II ini bisa jadi komoditas yang dapat a meningkatkan kemampuan ekonomi warga setempat. Bahkan kalau bisa, menyeimbangi industri tempe di Sanan," pungkasnya. (Muhamad Erza Wansyah/han)