Kaget Jadi Kanjeng Raden Tumenggung, Berkomitmen Terus Lestarikan Budaya

David Santoso dan Gondo Buwono, Pengusaha dan Dalang Penerima Gelar Bangsawan
Kamis malam (27/11/14) lalu menjadi hari bersejarah bagi 30 orang di wilayah Kabupaten Malang yang mendapatkan gelar bangsawan dari Keraton Surakarta. Selain Bupati Malang H Rendra Kresna yang mendapat gelar Kanjeng Pangeran (KP), dan pejabat Pemkab Malang lain, gelar juga diberikan  kepada lima warga, dua diantaranya adalah David Santoso dan Gondo Buwono, yang masing-masing mendapat gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dan Raden Tumenggung (RT). Bagaimana perasaan keduanya?
Dari 29 orang yang duduk di sebelah kanan panggung penganugerahan, sosok David Santoso memang terlihat paling berbeda. Dia paling putih di antara penerima gelar lainnya. Pakaian adat Jawa warna hitam yang dikenakan pun terlihat kontras dengan kulitnya yang bersih. Sesekali, kepala David menoleh ke kanan dan ke kiri.  Saat namanya dipanggil oleh MC, pengusaha properti ini pun langsung berdiri penuh percaya diri.
Ala abdi dalem yang hendak menghadap raja, pria 35 tahun ini berjalan menuju panggung penganugerahan. Tak lupa, dia memberikan salam penghormatan, sebelum kemudian menghadap Bupati yang menjadi sosok Sinuwun saat itu. Wajahnya berubah tegang, terlebih saat Bupati Rendra Kresna menyematkan pin penganugerahan gelar keraton di dada kanannya, serta mengalungkan selendang di lehernya. Kedua tangannya terlihat menggenggam sebagai bentuk ketegangan yang dirasakan.  Beruntung proses ini tidak lama. Mimiknya kembali normal setelah pin gelar dan kalung terpasang. Dia pun langsung mundur perlahan, setelah lebih dulu memberikan salam. Kemudian, dia langsung kembali ke tempat duduknya.
“Saya tidak menyangka dan tidak pernah bermimpi akan mendapat gelar,’’ katanya mengungkapkan alasan ketegangan saat itu.
 Bahkan sampai sekarang, pemilik Singhasari Residence  ini mengaku masih tidak percaya. Kepada Malang Post, David pun menceritakan, Kepala Dinas Kependudukan Catatan Sipil (Kadispenduk Capil)  Kabupaten Malang Purnadi mengatakan, dia akan mendapat gelar kebangsawanan Selasa (25/11/14) lalu,. “Tentu saja kaget. Waktu itu saya sempat mengatakan, kalau pak Purnadi mengada-ada,’’ katanya. Namun saat Purnadi meminta dia untuk menyiapkan pakaian adat jawa, David mulai percaya dan langsung mengiyakan.  “Kaget, senang, bingung, semua perasaan campur aduk,’’ tambahnya.
David kaget karena dirinya tidak pernah membayangkan akan mendapat gelar bangsawan. Dia juga mengaku senang karena mendapat gelar bangsawan dan tidak semua orang bisa mendapatkannya. Tapi ia juga bingung karena merasa belum membuat aksi yang luar biasa. “Saya sempat konfirmasi dengan pak Sekda Abdul Malik, termasuk bertanya kenapa saya mendapat gelar,’’ tambahnya. Dia baru ngeh dan paham, begitu Abdul Malik menceritakan panjang lebar.
Terpilihnya David sebagai salah satu penerima gelar kebangsawanan ini tak lain karena kiprahnya sebagai orang yang mencintai dan mau mengembangkan seni budaya, terutama budaya Jawa. Selama ini David dikenal sebagai orang yang getol dalam hal pengembangan seni. Bahkan dia juga masuk dalam komunitas pemuda pecinta seni di Kabupaten Malang. “Meskipun saya orang keturunan, dan banyak tinggal di luar negeri, tapi kecintaan saya terhadap budaya Indonesia tidak pernah luntur. Saya cinta Indonesia, tidak hanya negara dan bangsanya, tapi saya cinta Indonesia secara keseluruhan, termasuk adat-istiadat dan budayanya,’’ katanya.
Nama David pun melejit, saat dirinya menghibahkan tanah seluas 2 hektare kepada Kabupaten Malang. Tanah tersebut berada di bagian depan pintu masuk Singhasari Residence, dan digunakan untuk pendirian Museum Singhasari. Ini menjadi bukti David tidak main-main dalam hal pengembangan budaya. Karena di museum tersebut, nantinya tidak sekadar memajang deretan benda purbakala, tapi juga berbagai properti kebudayaan di wilayah Kabupaten Malang. “Saya cinta seni, saya cinta budaya. Itu sebabnya, saat Pemkab Malang mengusulkan pendirian museum, dan belum memiliki tempat, saya pun menghibahkan tanah untuk didirikan museum,’’ katanya.  Saat ini bangunan museum di Singhasari Regency sudah berjalan 40 persen. Dia berharap, hingga akhir tahun mendatang, bangunan museum ini bisa terselesaikan, beroperasi serta dinikmati oleh seluruh masyarakat, tidak hanya di Kabupaten Malang tapi juga warga luar daerah.
Kata senada dilontarkan oleh Gondo Buwono. Pria yang kesehariannya menjadi dalang kondang ini mengaku sangat kaget saat mendapat telepon dari Kadispenduk Capil, Purnadi, yang menginformasikan jika dirinya mendapat gelar. Tapi pria yang Jumat (28/11/14) malam lalu menghibur warga dengan gelar wayang kulitnya ini mengaku sudah mendapat firasat sebelumnya. “Saya sempat mendapat firasat, melalui mimpi. Saat itu dalam mimpi saya naik pohon sangat tinggi,’’ katanya.
Disinggung apakah dirinya pantas menerima gelar tersebut, pria yang memiliki pangkat dari keraton sebagai Bupati Anom ini pun mengaku iya.  Sebab pria yang akrab dipanggil dengan nama Ki Gondo Buwono ini merupakan dalang kondang. Dia juga sangat mencintai kesenian. “Parameter penilaian mendapatkan gelar ini adalah sukses mengembangkan seni. Itu sudah saya lakukan, tahun 2013 lalu saya terpilih sebagai dalang favorit 2013 Jawa Timur. Tahun 2009, saya juga menciptakan lagu Madep Manteb untuk pak Bupati, artinya saya selalu berjuang dalam hal perkembangan seni budaya, terutama budaya Jawa.
Gondo Buwono yang mendapatkan nama tambahan dari Keraton Solo Joyo Wilogo inipun mengatakan, gelar kebangsawanan  bukan gelar prestisius, tapi sebaliknya dia yang mendapatkan gelar tersebut memiliki tanggung jawab lebih untuk mengembangkan budaya. “Ke depan, kita harus lebih gigih lagi melestarikan budaya kepada anak cucu, tujuannya jangan sampai budaya kita ini hilang tertelan zaman,’’ kata bapak dua anak ini.
Ungkapan yang sama juga dilontarkan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Malang Abdul Malik, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang Made Arya. Kepada Malang Post, kedua pejabat di Kabupaten Malang ini sempat tidak percaya, saat namanya masuk dalam daftar penganugerahan gelar. “Kaget dan tidak percaya waktu itu. Tapi saya berusaha untuk menerima, karena gelar ini diberikan tidak hanya karena berhasil dalam tugas, tapi juga berhasil dalam mengembangkan seni,’’ kata Abdul Malik. Pria yang sempat mendapatkan gelar sebagai Camat Teladan tahun 1995 inipun mengaku, dengan gelar yang diperolehnya dia pun berjanji  kian mengembangkan seni dan budaya di wilayah Kabupaten Malang.
Sementara Made Arya, pria yang mendapat gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) ini mengaku tidak percaya. Batinnya juga bergejolak, saat dia mendapatkan gelar tersebut. “Terus terang, waktu itu sempat menolak. Sebagai orang di Kabupaten Malang saya belum melakukan sesuatu yang wah, ini yang membuat saya waktu itu menolak,’’ katanya.
Made sendiri selama menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata sudah berhasil membawa harum nama Kabupaten Malang. Banyak pengahargaan diraih Kabupaten Malang melalui tangan dinginnya . Salah satunya adalah, juara I Desa Wisata se Indonesia. “Desa Gubuk Klakah, juara I tingkat Nasional , sebagai Desa Wisata,’’ tandasnya.(ira ravika/han)