Ciptakan Plastik Bertulang, Berlomba Dapat Rp 1 Miliar

Berani Jadi Miliarder, adalah sebuah program variety show yang kompetitif serta edukatif. Acara ini merupakan program salah satu stasiun TV nasional yang tayang setiap hari Sabtu malam. Calon miliarder yang memiliki motivasi dan ide usaha diajak untuk berani menerima tantangan dan mengembangkan ide usahanya. Pemenang acara ini akan menerima modal usaha sebesar Rp 1 miliar.
 
Selasa 9 Desember nanti, adalah puncak dari program ini. Tiga calon miliarder masuk dalam tiga besar, yang akan berkompetisi dalam babak grand final di Jakarta. Satu di antaranya berasal dari Kota Malang, yaitu Heru Purnomo ST.
Warga Jalan Danau Singkarak Blok 3E1H1 Kelurahan Sawojajar Kecamatan Kedungkandang ini, masuk dalam tiga besar setelah berhasil menyingkirkan ratusan kompetitor lain. Lewat karya temuannya ‘Plastik Bertulang’, Heru sukses melenggang sampai puncak. Kini ia berharap doa serta dukungan warga Malang, supaya bisa menjadi pemenang acara ini.
“Antara tanggal 7 dan 8 nanti saya bersama tim (Metheus Saksono SE dan Noverna Christy Lovita) akan berangkat ke Jakarta. Kami berangkat dari Balai Kota Malang, dilepas oleh Abah Anton (Wali Kota Malang, red),” tutur Heru Purnomo.
Plastik Bertulang, adalah temuan karyanya sekitar setahun lalu. Temuan itu muncul saat ada masalah dalam sebuah proyek bangunan. Di mana semua tukang bangunan, merasakan susahnya mencari kayu yang digunakan untuk bahan reng atau usuk kayu atap rumah.
Misalnya, pembelian kayu jenis meranti sebanyak satu kubik, ternyata tidak sesuai harapan. Banyak campuran kayu lainnya. Kayu jenis meranti hanya 20 persen saja. “Akibatnya jika dipaksa dipasang untuk reng, maka atap rumah bisa mulet (tidak senter). Imbasnya genteng yang ditata tidak bisa pada tempatnya, sehingga bisa bocor,” ujarnya.
Dari permasalahan itulah, Heru kemudian mencari solusi untuk mengganti bahan kayu sebagai reng untuk atap. Tentunya harga bahan harus lebih murah dan kuat. Setelah berpikir, akhirnya menemukan ide pembuatan ‘Plastik Bertulang’.
Tetapi untuk membuat Plastik Bertulang, tidak semudah dibayangkan. Harus melakukan riset atau penelitian terlebih dahulu. Komposisi plastic apa yang bisa digunakan dan kekuatannya bisa melebihi kayu. “Selain itu, bahannya harus bisa dimanfaatkan oleh tukang, seperti layaknya kayu. Bisa dipaku, dipasrah dan digergaji dengan tangan, sehingga para tukang tidak merasa asing,” tutur bapak dua putri ini.
Proses penelitian pun dilakukan selama 18 bulan sejak bulan April 2013 lalu. Setelah menemukan bahan pembuatan Plastik Bertulang, ia kemudian melakukan uji kekuatan di Laboratorium Tehnik Bahan Universitas Brawijaya pada bulan Agustus 2014 lalu. Dari uji laboratorium tersebut, ternyata karya temuannya cukup canggih.
Kekuatannya setiap sentimeter kubik (cm2) dengan kekuatan tekan 2,8 ton serta kekuatan tarik setiap cm2 adalah 1,2 ton. Melalui uji termal (ketahanan panas) suhu melelehnya adalah 280 derajat Celsius. “Bahan yang kami gunakan untuk Plastik Bertulang ini semua limbah plastik. Hanya campuran komposisinya saja yang berbeda, sampai menemukan jenisnya. Sebab Plastik Bertulang ini ketika dipaku tidak akan pecah. Bahan plastik saya beli di Bank Sampah Malang (BSM) dan di tempat penggilingan sampah perorangan,” terangnya.
Dari temuannya itu, Heru kemudian mendisukusikan dengan teman-temannya yang berdomisili di Surabaya. Teman-temannya mendukung, kemudian mendesak Heru untuk memproduksinya. Tetapi karena minimnya modal inilah, akhirnya Heru mencoba untuk mengikuti audisi Berani Jadi Miliarder, dan mendaftar pada 11 Oktober 2014 lalu di Surabaya.
“Untuk mendaftar sebagai calon peserta Berani Jadi Miliarder, tidak mudah. Karena persyaratannya cukup ketat, harus membuat proposal,” katanya.
Dari total 169 proposal bisnis calon miliarder di seluruh Indonesia yang dikirim, Heru lolos ke 30 besar. Kemudian setelah melalui seleksi lagi, lolos ke 10 besar dan sekarang masuk dalam tiga besar yang melenggang ke babak grand final.
“Seleksinya saya ditanya kekuatan Plastik Bertulang. Saya jawab bahwa kekuatannya melebihi kayu dan galvalum. Termasuk nilai ekonomisnya, sangat lebih murah dan terjangkau,” papar pria kelahiran 8 Juli 1963 ini.
Dia membeberkan, jika dibandingkan dengan bahan kayu, baja dan galvalum, Plastik Bertulang lebih murah. Untuk kayu per-meter harganya Rp 24 ribu. Baja antara Rp 60 ribu – Rp 70 ribu per-meternya. Dan Galvalum Rp 30 ribu per meter. Sedangkan Plastik Bertulang hanya Rp 11 ribu.
Yang lebih membanggakan, ketika hasil karyanya ini didiskusikan dengan Wali Kota Malang H M Anton, akan dijadikan sebagai salah satu inovasi andalan Kota Malang untuk mendapatkan Adipura Kencana. Karena nantinya akan memanfaatkan limbah plastik warga Kota Malang yang setiap harinya mencapai 115,36 kibik.(agung priyo/han)