Perayaan Natal Kaum Muda GKJW Ubalan

Setiap Desember tiba, umat Kristen di seluruh dunia mulai sibuk menyambut acara spesial Natal. Berkumpul bersama keluarga, kerabat hingga mengadakan kebaktian Natal yang mengundang sesama umat Kristen dari gereja di sekitar dilakukan untuk memeriahkan hari sukacita tersebut.
Tahun ini, kemeriahan perayaan Natal sudah dimulai di Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Ubalan di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Sekumpulan anak muda yang tergabung dalam Komisi Pembinaan Pemuda dan Mahasiswa (KPPM) gereja setempat sepakat untuk mengawali suasana sukacita di minggu pertama Desember, Minggu (7/12/14) sore.
“Memang bila dilihat terlalu awal. Tetapi kami ingin start lebih awal agar tidak terlalu ribet ketika sudah banyak acara lain begitu mendekati 25 Desember. Untuk misa Natal, ya tetap berlangsung 25 Desember bersama seluruh jemaat gereja,” ujar Ketua Panitia Natal, Ike Devita Rahmawati.
Dia menyebutkan, banyak keuntungan yang akan diperoleh begitu mengadakan acara di awal. Pasalnya, berdasarkan pengalaman, begitu memasuki pertengahan bulan, sudah mulai banyak undangan perayaan Natal. Tidak jarang, dalam satu hari akan ada dua gereja yang mengadakan perayaan Natal bersama, bahkan waktunya pun berbarengan.
“Jika bersamaan begitu sangat sayang, karena terkadang yang diundang bingung mau datang di gereja mana. Setelah acara ini, kami santai dan tinggal menunggu undangan dari jemaat di gereja lain,” beber dia kepada Malang Post.
Vita, sapaan akrabnya menuturkan, perayaan Natal kaum muda kali ini terasa spesial bagi KPPM GKJW Ubalan. Ada beberapa alasan yang mendasari, misalnya ini merupakan perayaan Natal pertama sejak terakhir tahun 2009 lalu. Selama empat tahun terakhir, selalu ada alasan yang membuat gereja setempat tidak bisa menyelenggarakan ibadah Natal.
“Banyak sih halangannya. Ada yang kurang dana, tidak ada personil yang mengurus acara hingga dua tahun terakhir puasa Natal karena kondisi gereja yang kurang memadai. Malahan, tahun lalu seluruh jemaat di tempat ini harus mengadakan misa Natal di rumah warga karena gereja terkena banjir setelah hujan deras,” papar Vita panjang lebar.
Menurutnya, tahun ini acara disiapkan untuk memenuhi dahaga kaum muda dari jemaat setempat untuk merayakan Natal. Dengan panitia yang sebagian besar masih berusia di bawah 20 tahun, acara tersebut sukses digelar dan dihadiri lebih dari 300 orang, yang sebagian besar anak muda. Tampak, dominasi undangan masih seusia anak yang duduk di bangku sekolah dan kampus, memenuhi gedung gereja yang baru selesai direnovasi Maret 2014 ini. Sampai-sampai, ada puluhan jemaat yang tidak kebagian tempat duduk.
“Perkiraan panitia, maksimal 300 undangan saja yang hadir. Sebab, setelah beberapa tahun vakum kami coba meraba kembali, perayaan Natal seperti apa yang sekarang digemari anak muda. Ternyata yang hadir lebih dari perkiraan hingga banyak yang tidak memperoleh tempat duduk. Padahal cuaca juga kurang mendukung beberapa hari ini,” jelas mahasiswi Universitas Kanjuruhan Malang tersebut.
Benar saja, hujan deras mengiringi ibadah tersebut. Tidak sedikit undangan yang datang dengan basah kuyub. Acara pun sempat tertunda akibat listrik mati tepat beberapa menit sebelum acara dimulai. Pembawa acara sempat dibuat was-was, karena undangan sudah mulai memenuhi gedung gereja. Untungnya, undangan memaklumi keadaan ini sembari menunggu listrik menyala. Sekitar 45 menit acara tertunda, akhirnya semua undangan larut dalam sukacita.
Sesekali, MC mencoba memastikan undangan yang hadir bisa merasakan sukacita. Caranya, mulai dari saling pandang antar undangan dan saling lempar senyum, serta melihat apakah mereka yang datang sudah berkeringat karena larut dalam kegembiraan ketika bernyanyi.
Beberapa lantunan lagu up beat membuat undangan melupakan keadaan di luar yang hujannya sudah mulai mereda. Satu persatu pujian dinyanyikan hingga penyalaan lilin yang khas dalam perayaan Natal berlangsung, sebelum akhirnya Pendeta Andreas Oeng dari Malang membawakan hikmah Natal. Tema yang diusung dalam pesan Natal kali ini adalah Bangkit dan Menjadi Terang. Ada pula sumbangan drama lucu dari gereja GKJW Wonoagung, yang membawa semua undangan larut dalam tawa karena drama penuh dengan guyonan yang khas berbahasa Jawa Timuran.
Vita mensyukuri acara ini akhirnya berakhir dan mendapati antusiasme dari undangan serta majelis jemaat. Sebab, dia sempat tidak percaya diri, karena harus mengurusi acara hanya via BBM dan SMS. “Hanya sesekali di hari Minggu saja saya pulang. Praktis, selama dua bulan persiapan, saya hanya dua atau tiga kali mengikuti rapat. Koordinasi sering via BBM saja,” ujar bungsu dari dua bersaudara ini lantas tertawa.
Dia berharap, perayaan Natal ini mampu memberikan dampak bagi semua yang datang, terutama anak muda sebagai generasi penerus gereja. Baik dari gereja setempat, hingga gereja masing-masing undangan. (stenly rehardson/han)