Perjuangan Pabrik Gula (PG) Krebet Baru II Bululawang Menjadi yang Terbaik

Pabrik Gula (PG) Krebet Baru II Bululawang, tiga kali berturut-turut menjadi yang terbaik sebagai PG milik BUMN sejak 2012 lalu. Perolehan rendemen 8,72 pada musim giling 2014 ini, menjadikan perusahaan yang berada di bawah PT PG Rajawali I ini juga sebagai terbaik tingkat nasional. Sekaligus mampu menyingkirkan PG swasta di Lampung, yang selama ini menjadi langganan terbaik nasional.

Sebelum mencetak hattrick sebagai terbaik tingkat BUMN dan saat ini menjadi terbaik nasional, PG Krebet Baru II Bululawang sama seperti PG lainnya. Jangankan masuk tiga atau lima besar, sepuluh besar saja tidak pernah.
Rendemennya masih kalah jauh dari industri gula tebu lainnya. 2011 rendemennya hanya 7,32. Dan pada 2010 rendemen justru 6,0. Kecilnya rendemen tebu saat itu, karena program kualitas tebu tak seketat di tahun 2012. “Pemahaman petani tebu saat itu, bobot tebu lebih penting dari pada rendemen. Karena dengan bobot besar, maka keuntungan dianggap lebih besar,” ungkap General Manager PG Krebet Baru Bululawang, Jolly Lapian.
Berkaca pada itulah, akhirnya untuk mengubah PG Krebet Baru II Bululawang lebih baik, Jolly memberikan pemahaman kepada petani, termasuk karyawan PG Krebet Baru II Bululawang, bahwa peningkatan pendapatan petani dan pabrik bukan dari bobot tebu. Sebaliknya dari rendemen (gula yang dihasilkan).
Perubahan pun dilakukan mulai awal Januari 2012 sampai menjelang musim giling. Semula program yang telah tersusun disampaikan kepada petugas lapangan (PL) PG Krebet Baru II Bululawang. Karena PL PG inilah yang selama ini berkomunikasi langsung dengan para petani.
Jolly harus memberikan pemahaman kepada PL PG untuk menyamakan persepsi dan memiliki satu pemikiran (pola pikir) yang sama, yaitu memajukan PG dan juga petani. Setelah semua PL PG memiliki satu pola pikir sama, barulah Jolly membuat jadwal pertemuan dengan para petani dan koperasi. Total dari 20 ribu hektar area tebu PG Krebet Baru II Bululawang, ada sekitar 100 ribu petani dan 35 koperasi yang menjadi mitra kerja PG Krebet. Mereka dikumpulkan menjadi satu untuk diberi pemahaman.
“Pertemuan dengan mereka ada tiga tahap. Tahap pertama saya yang langsung turun menemui petani, pengurus koperasi, kelompok tani serta tokoh masyarakat. Dan pertemuan itu wajib dihadiri semuanya, karena sifatnya pemahaman. Tahap kedua, staf atau petugas lapangan yang menghadirkan lebih banyak lagi, sopir truk, petani dan penebang. Tahap ketiga masing-masing pemegang wilayah (setiap kecamatan), wajib menghadirkan lagi petani yang sebelumnya tidak hadir pada pertemuan tahap satu dan dua,” jelasnya.
Usai sosialisasi program, Jolly langsung menerapkan pada saat musim giling 2012. Pertama tebu yang ditebang harus betul-betul masak dan kualitasnya baik. Kalau dulu tebangnya sembarang, namun setelah ada program, tebang tebu harus melalui seleksi awal dan standart kualitas yang baik. PL PG yang memeriksa untuk menilai layak tidaknya ditebang.
Setelah itu, ia menerapkan pengawalan kinerja pabrik. Mandor harus bekerja dengan sistem ketat. Seperti ketika tebu terjatuh saat mau digiling harus diambil kemudian dimasukkan ke dalam mesin giling, tidak boleh dibiarkan. “Termasuk gula yang ikut di ampas tebu atau kandungan gula di nira (blotong), bagaimana harus dibuat seminim mungkin,” katanya.
Tidak hanya itu, untuk mendukung supaya tebu yang dihasilkan mendapat rendemen bagus, PG Krebet Baru II Bululawang, setiap tahunnya juga memberikan bibit gratis 1000 hektar kepada petani. Bibit yang diberikan adalah tebu dengan kualitas bagus. Nilai bibit yang diberikan secara gratis kepada petani itu, nilainya tidak sedikit, sebesar Rp 6 miliar. Namun hasilnya memang luar biasa, rendemen pada 2012 mencapai 9,08 dan menjadikan terbaik tingkat BUMN.
“Kami lebih baik bersubsidi bibit kepada petani dari pada subsidi rendemen saat mau tebang tebu, tetapi hasilnya belum tentu memuaskan. Namun jika subsidi bibit, pasti rendemen yang dihasilkan bagus. Dengan pemberian bibit itu, kami memang berani merugi dulu dan menganggap sebagai bentuk bakti sosial kepada petani,” bebernya.
Tebu yang masuk ke dalam pabrik yang diangkut dengan truk, juga harus melalui seleksi. Petani harus menunjukkan surat perintah tebang dan angkut (SPTA) untuk masuk PG Krebet. Setelah ada SPTA, tebu harus dites dengan alat suntik untuk mengetahui kadar rendemen tebu. Jika kadarnya kurang dari standar yang ditetapkan, tidak diperbolehkan masuk meskipun dari petani tebu PG Krebet Baru II sendiri. SPTA yang dimiliki pun dianggap telah mati.
“Untuk kesejahteraan petani, setiap satu kwintal tebu, kami juga memberikan 7,3 kilogram gula kepada mereka. Di industri gula lain, apakah berani melakukan seperti yang kami lakukan. Karena prinsip saya akan mengawal hak para petani,” tuturnya.
***
Hasil yang memuaskan pada 2012, membuat para petani yang sebelumnya menolak akhirnya meminta program diteruskan sampai sekarang ini. Para petani sudah merasakan keuntungan yang didapat dari kualitas tebu yang baik. “Karena prinsip saya, tidak akan melanjutkan program yang hanya menguntungkan satu pihak. Tetapi bagaimana harus menguntungkan petani dan juga pabrik,” kata Jolly.
Untuk mempertahankan prestasi terbaik tingkat BUMN pada musim giling 2012, selain melanjutkan program yang sudah berjalan dengan baik, Jolly juga mengubah sistem kerja karyawan di bagian giling. Karyawan bagian pengawasan dan operasional dipisahkan supaya memiliki tanggung jawab masing-masing.
Karyawan yang sebelumnya berada di bagian pengawasan dibentuk Departemen Quality Control sendiri, yang tanggung jawabnya setingkat kepala bagian. Mereka ini mengawasi proses giling tebu. Tugas pengawasannya setiap jam, karena sudah menggunakan sistem pengawasan komputerisasi.
“Saya saja ketika dinas luar kota atau ketika sedang di rumah bisa mengawasi kerja kantor setiap jam. Tinggal membuka, lalu mengawasi kerja pabrik. Jika terjadi kesalahan, saya tinggal telpon atau SMS untuk menanyakan dan menegur,” tuturnya.
Tidak hanya itu, pada 2013 Jolly juga menekankan kepada seluruh karyawan untuk ikut bersama-sama bertanggung jawab atas apa yang telah dihasilkan oleh petani. Petani memberikan kualitas tebu yang bagus, maka karyawan harus bertanggung jawab memberikan hasil yang terbaik untuk petani.
“Karena tanpa ada petani tebu, industri gula tebu tidak ada artinya. Karena antara petani tebu dan pabrik gula memiliki satu keterikatan,” katanya. Hasilnya, PG Krebet Baru II Bululawang kembali meraih predikat terbaik kali kedua tingkat BUMN di musim giling 2013 dengan rendemen 7,72.
Pada 2014 menjadi tantangan Jolly untuk menjawab bahwa PG Krebet Baru II Bululawang bisa menunjukkan sebagai PG yang terbaik di Indonesia. Untuk mempertahan terbaik tingkat BUMN, sekaligus mencetak rekor hattrick, ia tidak melakukan perubahan program yang sudah berjalan baik. Tetapi lebih pada perubahan sisi non teknis.
Salah satunya dengan meningkatkan sistem kerja. Kedisiplinan kerja karyawan menjadi yang utama di tahun 2014, yaitu dengan membuat presensi komputerisasi. Semua karyawan yang datang ataupun pulang harus tertib. Karyawan tidak bisa keluar masuk pabrik seenaknya. Peraturan itu harus dipatuhi oleh seluruh karyawan yang berjumlah sekitar dua ribu karyawan.
Tidak hanya itu saja, untuk sisi non teknis, Jolly juga meminta kepada seluruh karyawan melakukan istigotsah seminggu sekali. Termasuk menyempatkan waktu berdoa dan salat bagi karyawan yang muslim. Untuk mempermudah kegiatan istigotsah dan salat karyawan, telah dibangun enam musala dan satu masjid di area lingkungan PG Krebet Baru II Bululawang.
“Kami ingatkan kepada karyawan untuk menyempatkan waktu sedikit untuk berdoa. Karena kerja apapun kalau tidak diimbangi dengan doa, tidak mendapatkan hasil yang maksimal,” katanya. Hasilnya memang di luar dugaan, selain menjadi terbaik tiga kali berturut-turut tingkat BUMN, juga terbaik nasional dengan rendemen 8,72 pada musim giling 2014.
Siap Masuk MEA 2015
Usai giling 2014 dengan raihan prestasi yang memuaskan, tidak membuat PG Krebet Baru II Bululawang terlena. Tetapi terus berbenah untuk meraih prestasi lain yang belum tercapai. Termasuk mempertahankan predikat terbaik tingkat nasional.
Untuk itu, usai giling Jolly langsung mengumpulkan seluruh karyawan untuk syukuran tutup giling dan merencanakan program ke depan. “KKalau kita terlena dengan prestasi yang sudah ada, pastinya akan hancur,” kata Jolly Lapian.
Pada 2015 nanti, Jolly akan melakukan training kepada seluruh karyawannya untuk meningkatkan kompetensi mereka dengan cara menggelar pelatihan serta workshop, dengan meminta karyawan untuk praktek langsung seperti uji kompetensi. Ini untuk menjaga kinerja pabrik supaya tetap terdepan. Ke depan, ia juga akan membentuk tim instrumen yang akan mengawasi alat mesin pabrik. Dimana tim ini bertugas mendeteksi dini kendala pada mesin, untuk mengurangi risiko kerusakan pada mesin.
Tim ini nantinya adalah karyawan yang sebelumnya di bagian pengawasan tehnik. “Tim ini nanti akan langsung dibawa kendali saya. Saya yakin dengan apa yang kami lakukan nanti akan menjadi yang lebih baik,” tuturnya.
Target pada 2015 nanti, selain mempertahankan predikat sebagai PG terbaik baik tingkat BUMN ataupun nasional, PG Krebet Baru II Bululawang juga akan bekerja keras untuk bisa menjadi terbaik tingkat Asia. Oleh karenanya perubahan-perubahan untuk menjadikan lebih baik akan terus dilakukan. Termasuk siap masuk ke Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. (agung priyo/han)