Mengenal Lebih Dekat Somen Alfred Tchoyi

NAMA Somen Alfred Tchoyi tak begitu populer di kalangan pecinta sepak bola Indonesia saat ini. Namun ia sangat dikenal di Liga Inggris sebagai striker West Brom Albion era 2010-2012. Marquee player asal Kamerun tersebut, harus melalui banyak hal untuk tiba di Malang dan menjadi pemain Arema Cronus. Berikut kisah di balik pemain asing Singo Edan ini.

Somen Alfred Tchoyi. Tingginya 191 sentimeter, perawakannya besar, wajahnya tenang. Dengan cukup santai, Tchoyi menghadapi puluhan wartawan dalam press conference perkenalan dirinya sebagai pemain baru Arema Cronus untuk ISL 2015.
Dia menjadi pemain pertama Singo Edan yang diperkenalkan secara resmi kepada publik sepak bola Malang. Dengan status sebagai pemain Kamerun, dia lolos administrasi serta kelengkapan identitas. Apalagi pemberlakuan screening administrasi super ketat diberlakukan tim Clearing House (CH) Imigrasi terhadap pemain dari negara Kamerun.
Tak heran, kedatangannya ke Indonesia sudah melalui proses yang rumit dan njelimet. Namun, pemain ini memiliki reputasi yang besar. Dia adalah mantan striker West Brom Albion, tim Liga Inggris kasta tertinggi. Sehingga, segala proses administrasi dan kelengkapan identitasnya sangat valid.
Dengan riwayat sebagai pemain kelas dunia, Somen Tchoyi punya latar belakang tersendiri untuk gabung di Arema. Awalnya, Tchoyi tidak pernah berpikir untuk bermain di Asia, apalagi di Indonesia. Pasalnya, dia sempat dibidik oleh tim asal Major League Soccer, Red Bull New York.
“Saat itu awal tahun 2014. Negosiasi tidak berjalan bagus. Pihak Red Bull tidak serius pakai Tchoyi. Sampai akhirnya, bursa transfer MLS tutup, dan Tchoyi belum dapat klub,” tegas Jules Denis Onana, agen Tchoyi kepada Malang Post, kemarin.
Setelah digantung klub Amerika dan gagal transfer di MLS, Tchoyi akhirnya memilih untuk tetap di Kamerun dan bermain dengan klub lokal untuk jaga kondisi. Dia tidak memilih Eropa karena pemain sepak bola usia 31 tahun sangat sulit bersaing.
Kesempatan untuk membela tim Asia, datang pada awal November. Tchoyi, mendapat telepon dari Onana, bahwa ada klub yang ingin mencari pemain marquee, atau pemain kelas dunia di Indonesia. Dia tertarik menerima tawaran tersebut. Proses negosiasi berjalan cepat.
Tapi, dia harus mengurus segala administrasi secara lengkap, selama satu bulan. Tchoyi, sebenarnya punya kesempatan untuk membela klub negara Asia lain, misalnya Malaysia. Tapi, dia mencari referensi dari pemain lain yang sudah pernah bermain di Indonesia.
Usut punya usut, Tchoyi adalah sahabat dekat dari Pierr Ndjanka mantan kapten Arema era juara dan Alain N’kong, gelandang Arema era 2011. “Sebelum dia putuskan main di Indonesia, dia bicara dengan Ndjanka, mereka seperti saudara di timnas. Ndjanka yang rekom  Arema untuk Tchoyi. Selain itu, dia juga dekat dengan N’Kong. Mereka bicara sama soal suasana Arema,” kata Onana.
Begitu mantan striker Red Bull Salzburg itu setuju, dia langsung berangkat dari Kamerun. Tanggal 4 Desember, Tchoyi terbang, dan transit di dua kota besar, yakni Istanbul dan Singapura. Tanggal 6 Desember, ia sudah tiba di Jakarta dan memastikan kesepakatan dengan Arema.
Tiga hari kemudian, dia berangkat ke Malang dan bertemu dengan manajemen Arema. Tchoyi mengungkapkan, dia membenarkan jika dapat referensi dari teman-teman dekatnya yang berasal dari negara Kamerun. “Saya sudah bicara dengan beberapa pemain yang pernah di Indonesia. Mereka bicara soal Arema. Pemain yang saya tanyai sangat terkesan dengan suasana di Arema,” kata Tchoyi.
Dia pun siap bekerja keras untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sepak bola Arema. “Saya mungkin akan pakai bahasa Inggris pada awal latihan. Tapi, lama kelamaan saya pun harus belajar bahasa di sini,” tutupnya.(fino yudistira/han)