Bahas Binter, Menulis di Sela-sela Tugas

Sebagai anggota TNI AD, Letkol Inf Riksani Gumay S.I.P tidak hanya jago dalam tembak menembak atau menyusun strategi peperangan. Tapi Dandim 0818 Malang-Batu ini juga cakap dalam hal tulis menulis. Bahkan bapak dua anak ini menjadi pemenang karya tulis teritorial tingkat TNI AD kelompok Perwira Menengah (Pamen).

“Alhamdulillah juara satu. Penghargaan tersebut diberikan oleh KASAD saat apel Komandan Satuan, di Kalimantan Timur beberapa waktu lalu. Saat itu saya tidak hadir, karena bertugas melakukan PAM RI 2,’’ kata Letkol Inf Riksani Gumay S.I.P kepada Malang Post dengan mimik bahagia.
Mantan Danyonif Linud 502/18/2 Kostrad ini mengatakan penghargaan tersebut menjadi kado terindah di peringatan HUT ke 69 Hari Juang Kartika. Sebetulnya, ini bukan kali pertama Riksani menerima penghargaan. Sejak berkarir menjadi anggota TNI AD dia acap kali menerima penghargaan. Tapi penobatan sebagai juara satu dalam lomba karya tulis berkategori esai, yang diadakan oleh Mabes TNI AD ini paling berkesan bagi dirinya. Meski tak menjelaskan alasan hingga menjadikan penghargaan tersebut paling berkesan, tapi ia tidak memungkiri dirinya bahagia menjadi juara satu lomba karya tulis itu. “Saya berterima kasih kepada Allah SWT pertama, Panglima TNI, KASAD, seluruh anggota jajaran TNI dan keluarga yang selama ini banyak memberikan dukungan,’’ katanya, tersenyum.
Dia pun menceritakan, tulisan yang diikut sertakan dalam lomba tersebut berjudul Perwujudan Transformasi Teritorial TNI AD Guna Menghadapi Tugas Masa Depan.  Karya setebal 24 halaman ini, berisi tentang tugas TNI AD dalam melakukan Pembinaan Teritorial (Binter).
“Intinya, dalam tulisan ini TNI AD lebih menyesuaikan atau mengikuti perkembangan zaman, serta berpartisipasi secara optimal membangun wilayah teritorial untuk kemajuan masyarakat. Tolok ukur yang digunakan dalam Binter ini adalah kesejahteraan masyarakat, menjaga keutuhan NKRI dan menjaga hubungan baik antara prajurit TNI dengan masyarakat,’’ katanya.
Dia menyebutkan, Binter sudah dilakukan TNI AD sejak tahun 1957. Binter ini diaplikasikan anggota TNI AD dengan pendekatan langsung kepada masyarakat. Binter  yang diterapkan anggota TNI AD membuahkan hasil. Bahkan tidak hanya di dalam negeri tapi juga saat diterapkan dalam operasi di luar negeri. “Sudah terbukti, Bina Teritorial yang kami terapkan saat terlibat dalam operasi di luar negeri juga membuahkan hasil,’’ urai suami dari RA Sri Ayu Irawati ini sembari menyebutkan tugas dan komponen Binter semuanya tertuang dalam tulisannya.
Riksani menjelaskan, keberhasilan TNI AD dalam Pembinaan Teritorial tak lain karena tidak lupa dengan sejarah. Anggota TNI AD tidak boleh lupa dari mana mereka berasal, yaitu dari rakyat. Karena berasal dari rakyat, anggota TNI AD pun memiliki dasar semangat kerakyatan, semangat semesta dan semangat kewilayahan. Tentu saja, Binter ini tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada dukungan. “Transformasi Binter ini akan optimal jika didukung oleh pemerintah, elemen masyarakat dan masyarakat secara luas. Dengan Binter yang diterapkan dan didukung pemerintah, akan mampu menanggulangi berbagai ancaman di masa depan,’’ tambahnya, menceritakan sekelumit isi dari tulisan yang dibuatnya.
Tulisan esai yang diserahkan oleh Riksani Mei lalu, mendapatkan apresiasi dari tim penilai yang terdiri dari anggota Markas Besar (Mabes) TNI AD dan anggota Pusat Teritorial AD. Itu terbukti, November lalu, Riksani kembali dipanggil untuk memaparkan seluruh isi tulisannya. Paparan yang dibuat pun mendapat pujian dari tim juri. Sehingga di akhir November lalu, dirinya pun diputuskan sebagai pemenang dalam lomba tersebut.
Pria yang cakap berbahasa Inggris, Jepang dan Prancis ini menyebutkan, saat menulis ia sama sekali tidak mengalami kendala. Itu  karena Binter merupakan pekerjaan sehari-hari yang diterapkan oleh anggota TNI AD. “Tidak ada kesulitan, kan idenya sudah ada, tinggal menuangkan dalam tulisan,’’ katanya.
Ia menulis di sela-sela menjalankan tugas. Begitu mendapatkan ide, Riksani langsung menulis konsepnya. “Menulis konsep tidak harus di komputer atau laptop kan, bisa juga di HP, bahkan di kertas,’’  tambah pemilik tanda jasa PBB Monuc 1 dan PBB Monuc Ulangan 2 ini. Konsep itu kemudian dikembangkannya dalam tulisan panjang tentang teritorial.
Kepada Malang Post, Riksani mengungkapkan awalnya ia dulu tidak memiliki cita-cita menjadi anggota TNI AD. Sebaliknya, dia bermimpi menjadi dokter. Tapi takdir berkata lain. Saat orang tuanya menyarankan masuk AAD 1994, dia langsung mendaftar dan diterima. “Sebelumnya saya juga sempat ikut UMPTN. Diterima di Fakultas Tehnik Mesin, Universitas Indonesia  (UI). Tapi tidak saya ambil dan memilih menjadi anggota TNI AD,’’ kata pria yang pernah terlibat dalam
Kontingen Garuda  XX/8, tahun 2009 lalu ini.
Lulusan AAD tahun 1997 ini tidak pernah kesulitan dalam menjalankan tugas. Pria yang pernah menjabat Danyontar Madya Mentar Akmil ini selalu mensyukuri apa yang diberikan Allah SWT. Tidak mengeluh menjadi prinsip utama dirinya selama menjalankan tugas.
Sebagai anggota TNI AD, Riksani pun tidak luput dari berbagai tugas. Tidak pulang dan tidak bertemu keluarga sering dialaminya. Tapi pria yang pernah bertugas dalam Operasi Pengamanan Aceh  2013 ini memiliki formula tersendiri untuk membuat keluarganya tetap harmonis. Menurut pria kelahiran Jakarta 1 April 1976 ini, komunikasi adalah kunci utama dalam membangun keluarga.
“Kalau tugas di luar kota atau di luar negeri jangan menunggu kangen dulu kemudian menghubungi.Setiap saat jika ada waktu bisa berkomunikasi, ya harus dilakukan. Sehingga meskipun bertugas jauh, tetap dekat dengan anak istri,’’ tambahnya dengan tersenyum.
Tidak terkecuali dengan anggota. Pria ini juga memiliki formula tersendiri untuk dekat dengan anggotanya. “Kebetulan saya hobi olah raga terjun payung dan sepak bola. Jadi ya sering kumpul juga dengan anggota untuk olah raga bareng,’’ katanya.
Di akhir wawancara, Riksani pun tidak lupa mengucapkan Dirgahayu ke 69 Hari Juang Kartika, tahun 2014. “Bersama Rakyat TNI AD kuat, Bersama TNI AD rakyat damai dan sejahtera,’’ tandasnya.(ira ravika/red/han)