Abdul Wahid, Sulap Ban Bekas Menjadi Onderdil Mobil

Ban bekas yang selama ini terbuang percuma, di tangan Abdul Wahid bisa disulap menjadi kerajinan onderdil mobil dengan nilai jual cukup menjanjikan. Hasilnya, cita-citanya naik haji tercapai berkat menjual onderdil ini.

Sebuah rumah di Jalan Rambutan Dusun Sukoyowono Kecamatan Ngajum, tampak dipenuhi aneka ban bekas tidak terpakai. Mulai ban bekas sepeda pancal berukuran kecil hingga ban bekas alat berukuran besar ada di rumah tersebut. Beberapa saat kemudian kakek paruh baya menggunakan kaos berwarna biru menyapa Malang Post.
Ya, dia adalah Abdul Wahid yang menekuni kerajinan onderdil dari bahan ban bekas. Kakek berusia 62 tahun ini langsung mempersilakan Malang Post untuk duduk di sebuah ruangan depan bengkel tempat dia biasa bekerja. “Keadaanya ya seperti ini, berantakan. Maklum, tempatnya juga dipakai membuat onderdil,” ujarnya kepada Malang Post.
Di dalam ruangan itu, terlihat tumpukan kardus berisi onderdil mobil yang sudah dikemas dalam karung dan kardus yang siap untuk dipasarkan. Onderdil itu ada berbagai macam. Mulai karet pir, stopper, hell pir, tampel dan sebagainya. Sedangkan di sebelah ruangan lainnya, terdengar bunyi mesin dan aktivitas bekerja karyawannya.
“Onderdil yang saya buat adalah non mesin. Jadi, seperti bantalan skok, karet pir dan semacanya terbuat dari karet,” kata dia yang membuat usaha ini sejak tahun 1987 silam.
Awalnya, dia bekerja sebagai pembuat onderdil mobil di sebuah perusahaan di Kalimantan. Setelah menguasai cara membuat onderdil sendiri, Abdul Wachid tertarik untuk membuka usaha sendiri. ”Saya izin keluar dari perusahaan kemudian pulang ke Malang dan mendirikan usaha ini sendiri,” kata bapak dua anak itu.
Saat itu ia memulai usaha bermodal Rp 1 Juta yang didapat atas pinjaman seorang temannya. Modal itu, dibuatnya untuk membeli ban bekas. Mulanya, dia membeli ban mobil dan dan truk. Setelah mendapatkan bahan dasar dia pun berkreasi sesuai dengan ilmu yang didapatkan saaat bekerja di perusahaan Kalimantan itu.
Produk pertama yang dia buat adalah karet pir karena mudah dan tidak banyak memerlukan bahan baku ban bekas. Kemudian diapun memberanikan diri untuk membuat bermacam onderdil lain. Otomatis, lebih banyak lagi ban bekas yang dibutuhkan. Hingga Abdul Wachid mengambil ban bekas truk konteiner dan alat berat di Kalimantan.
“Kalau ban berukuran biasa, seperti bekas mobil dan sepeda motor, bisa didapat di Malang. Saya juga sudah punya pengepul ban bekas,” urainya. Selain onderdil, dia juga menghasilkan karya lain. Seperti sandal, tong, ember, maupun alat-alat dari karet.  Dia pun meningkatkan kreativitasnya, hingga usahanya terus berkembang.
Kini usaha membuat onderdil mobil miliknya, mampu dijadikan topangan hidup keluarganya termasuk bagi tujuh pekerjanya. Omzetnya dalam sebulan berkisar antara Rp 15 juta hingga Rp 17 juta. “Alhamdulillah berkat kerja keras, saya sudah bisa naik haji,” tuturnya.
Beberapa daerah dari luar Jawa Timur dan luar Pulau Jawa, memesan onderdil buatannya. Mulai perseorangan hingga beberapa perusahaan. Selain itu, yang penting kata dia, mengurangi limbah ban bekas. Karena bila dibuang begitu saja, akan mencemari lingkungan. Seperti dibakar akan menimbulkan polusi udara. Bila ditanam di tanah, tidak bisa terusai dengan baik dan sempurna.
“Tujuan saya membuat kerajinan ini prihatin banyak ban bekas yang terbuang percuma dan berpotensi merusak lingkungan. Melalui kerajinan yang saya buat, bisa meminimalisir perusakan lingkungan itu,” pungkasnya. (binar gumilang/han)