Melihat Kiprah Taman Baca Lentera Negeri Gunung Kunci-Jabung

Di saat banyak anak kota yang dengan mudah membeli dan mengakses buku, pemandangan beda justru terlihat di taman baca Lentera Negeri di Dusun Gunung Kunci, Desa/Kecamatan Jabung. Taman baca yang didirikan secara patungan antar relawan itu, perlu banyak sentuhan untuk terus  memotivasi pengunjung yang rata-rata pelajar di dusun itu.

Jauh dari sederhana. Begitulah kondisi yang ada di taman baca yang didirikan dari keprihatinan bersama relawan yang tergabung dalam Saver (Sahabat Volunteer Semeru). Berlatar belakang dunia pendidikan yang jauh, yang harus dilampaui berkilo-kilo meter ke SDN Jabung 1 dan hanya memiliki MI swasta Al Marhamah, relawan yang beranggotakan sekitar 15 orang itu akhirnya secara patungan membuat taman baca.
Taman baca ini diharapkan dapat memotivasi semangat membaca, menulis, berhitung hingga belajar Bahasa Inggris para anak-anak usia sekolah yang ada di daerah tersebut. Tidak hanya itu, mereka juga diharapkan dapat mengikuti kegiatan praktek di lapangan dengan mengoptimalkan lokasi sekitar taman baca.
Fachroel Alamsyah, salah satu relawan mengatakan, kemampuan siswa kelas IV di sana sangat minim. Selain kesulitan dalam membaca secara lancar layaknya siswa-siswa di sekolah lain, kemampuan berhitung bocah-bocah di Dusun Kunci pun jauh dari bagus.
“Jika di sekolah atau tempat lain, anak seusai mereka (kelas IV) sudah lancar baca dan berhitung, maka di sini jauh dari itu. Bahkan, seperti berhitung mereka hanya mampu pada satu digit atau 1 hingga 9. Artinya, ketika harus diajarkan penambahan 11 ditambah 11, maka mereka akan kesulitan. Salah satu kondisi inilah yang terus dimotivasi melalui taman baca,” kata seorang pendiri taman baca Lentera Negeri, Han Sonny Firman Zakky.
Yang menarik, meski kondisi taman baca terbilang jauh dari sederhana, hanya berukuran sekitar 4 meter x 4 meter, berbahan dasar kayu dari kelapa dan berbentuk bangunan panggung, tidak memiliki rak untuk menyimpan buku hingga harus belajar dengan lesehan, seolah bukan menjadi kendala relawan hingga pelajar untuk menuntut ilmu. Terlebih, munculnya dukungan dari warga dan pihak MI, untuk memanfaatkan lahan tersebut sebagai taman baca.
“Sejak didirikan Juni 2014 lalu, memang banyak kekurangan di taman baca ini. Namun, semua tidak menjadi kendala buat kami. Karena yang terpenting, tenaga pengajar dari relawan untuk membantu siswa, selalu ada dan stand by di lokasi,” tambahnya.
Bercerita mengenai pendirian taman baca, Sonny mengatakan, begitu izin memakai lahan diberikan pihak MI, maka secara otomatis buku untuk membantu siswa, pun harus disediakan. Buku-buku inilah, yang kemudian dicari secara patungan bersama relawan. Begitu terkumpul hingga 50 buku dari total empat dus yang didapat, selanjutnya mereka mulai menyosialisasikan diri kepada masyarakat.
“Sebagai tahap awal setelah taman baca didirikan, kami masih memakai sistem simpan dan bawa pulang buku bacaan. Artinya, buku-buku yang ada sekarang, tidak dikumpulkan jadi satu di taman baca. Namun, begitu selesai memberikan pelajaran membaca hingga berhitung, buku selanjutnya dikumpulkan kembali untuk dibawa pulang ke bace camp di Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung. Sebab saat itu taman baca tidak ada yang mengelola,” terangnya.
Begitu memasuki bulan keempat masa aktif taman baca, sejumlah pengunjung yang rata-rata pelajar, mulai diberikan kepercayaan. Caranya, buku tetap disimpan di taman baca. Namun, pengunjung tidak boleh membawa pulang atau hanya memanfaatkan sebagai bagian belajar di taman baca.
“Dari usaha memberikan kepercayaan ini, kemudian mulai muncul tenaga-tenaga baru relawan untuk bergabung dalam mengembangkan taman baca. Hingga akhirnya, sistem pengelolaan secara mandiri diserahkan kepada relawan muda,” tambahnya.
Disinggung mengenai minimnya fasilitas di taman baca, Sonny menjelaskan, memang selama ini selalu berusaha sendiri sesama relawan. Dengan alasan, pengajuan proposal tidak akan merampungkan segalanya.
“Kami tidak pernah meminta bantuan ke luar selain donasi yang ada dan terbatas. Karena kami berpikir, pasti prosesnya lama dan belum tentu dibantu,” imbuhnya seraya mengatakan, pengelolaan konsep yang sama juga tengah dikembangkan di Desa Ranupare, atau dusun terakhir registrasi pendakian ke Semeru.
Koordinator taman baca, Noval Aditya mengaku keberadaan taman baca terbuka untuk umum. Karenanya, taman baca tidak dikunci. Sementara relawan, siap mengajarkan dengan keinginan pengunjung yang terkadang sudah dijadwalkan.
“Di sini juga dipakai untuk mengaji. Sementara dalam mendukung untuk kegiatan belajar, juga ada praktek yang lokasinya adalah lingkungan sekitar. Mengenai minat baca, taman baca tengah berusaha terus mengumpulkan majalah-majalah bacaan anak kecil dalam usaha meningkatkan minat baca. Karena dengan cara itu atau majalah yang di dalamnya diberi gambar-gambar, akan menjadi motivasi pengunjung,” ujarnya. (sigit rokhmad/han)