Ketemu Acub Zaenal di Perkesa, Paling Jengkel Sama Gresik United

Suharno saat merayakan juara Piala Trofeo Persija bersama Arema, setahun lalu.

Kilas Balik Karir Perak Pelatih Arema, Suharno
Jelang akhir tahun 2014, karir kepelatihan Suharno memasuki usia lebih dari 25 tahun. Pelatih Arema Cronus itu sudah seperempat abad malang melintang di dunia sepak bola. Karir peraknya pun penuh dengan lika-liku. Suka cita, getir pahit dan pedih air mata, mengantarnya hingga ke puncak seperti sekarang, sebagai pembesut Singo Edan, tim besar di Indonesia.

Tahun 1975. Masa-masa yang sukar untuk bisnis sepak bola Indonesia. Tak ada kemewahan maupun kucuran uang bagi atlet bola. Meski demikian, rentetan prestasi ditorehkan oleh Indonesia, baik timnas maupun klubnya. Suharno muda, masih berusia 14 tahun, terpukau oleh indahnya seni mengolah si kulit bundar.
Sepak bola masa Suharno muda, adalah sepak bola hati. Hanya orang-orang gila bola, yang benar-benar mencintai olahraga ini. Para gibol juga yang rela hati terjun di dunia sepak bola Indonesia yang masih kere secara finansial. Pemuda Klaten kelahiran 1 November 1961 ini melihat betapa bangganya pemain bola saat angkat piala, meskipun harta pun mungkin tak punya.
Niat Suharno sudah bulat. Suharno muda yang berposisi sebagai defender, mengadu nasib di tengah bersinarnya legenda-legenda seperti Ronny Paslah sampai mendiang Ronny Pattinasarany. “Awal karir junior, saya masuk klub PSIK  Klaten. Saya dua tahun main di klub masa kecil saya,” kata Suharno kepada Malang Post.
Klub masa kecilnya, tak mampu menampung bakat besar Suharno dalam sepak bola. Selama setahun, dia berkostum Persis Solo, tahun 1977-1978. Masa ini adalah momen Suharno muda mengasah diri. Secara finansial, kata Suharno, tidak bisa dibandingkan dengan sekarang. Zaman dulu pemain bola tidak bisa bermewah-mewah, apalagi sampai memacari artis.
Kesan glamour dan borjuis, sangat jauh dari penampilan pesepak bola masa lalu.Tapi, karena sudah merasa ini adalah dunia yang dicintainya, Suharno melangkah terus. Tahun 1978, dia mulai mendapat sorotan di dunia sepak bola junior nasional.
Dia masuk Galasiswa Ragunan, yang jadi patokan timnas junior Indonesia saat itu. Tiga tahun lamanya, Suharno mengenyam kerasnya perjuangan di dunia sepak bola. Karir profesionalnya, dimulai tahun 1982. Suharno masuk klub Perkesa 78 yang juga didirikan oleh pendiri Arema, Jenderal Acub Zaenal.
Klub yang pernah dibela oleh pemain seperti Freddy Mulli itu, memberi tempat bagi skill Suharno. Lima musim lamanya, Suharno berkostum Perkesa 78 dan mulai dikenal sebagai pemain nasional. Namun Suharno mencantumkan namanya dalam tinta emas ketika memasuki masa-masa akhir karirnya sebagai pemain.
Setelah lima musim bersama Perkesa, dia berpindah ke klub terakhir dalam karir sebagai pemain. Klub ini klub paling besar yang pernah dibelanya, yakni Niac Mitra. Tahun 1987, Suharno yang sudah memasuki usia matang 26 tahun, ikut bersinar dengan Niac Mitra.
Dia ikut membawa Niac Mitra jadi juara Galatama tahun 1987. Pada partai final, Niac Mitra mengalahkan klub paling kaya di Galatama pada masa itu, Pelita Jaya. Dalam pertandingan final, Suharno membawa Niac Mitra menang 3-1, atas klub yang juga pernah dibela oleh asisten pelatih Arema saat ini, I Made Pasek Wijaya.
Begitu gelar juara sudah diraihnya, Suharno tidak melihat lagi ada arah untuk meneruskan karir pemain. Tahun berikutnya, dia dapat kesempatan jadi asisten pelatih di Niac Mitra. Dua tahun, dia merangkap jadi pemain dan asisten pelatih. Setelah magang di Niac Mitra, Suharno mengawal karir kepelatihannya dengan merapat ke Gelora Dewata, akhir tahun 1989.
Sejak ini, Suharno menjalani liku-liku karir perak 25 tahun jadi pelatih. Pada tahun-tahun pertamanya di Gelora Dewata, Suharno berprestasi. Tahun 1993, dia sukses membawa tim asal Bali mampir di final Galatama. Namun kali ini Suharno tak bisa berbuat apa-apa saat I Made Pasek Wijaya bersama Pelita Jaya mengalahkannya 1-0 di babak final Galatama.
Meskipun gagal juara Galatama, nama Suharno semakin dikenal sebagai pelatih karena mempersembahkan Piala Indonesia Galatama musim 1993 untuk Bali Dewata. Setelah enam tahun membesut Gelora Dewata, Suharno bertemu dengan Arema untuk kali pertama. Dia jadi pelatih Singo Edan, era 1996-1997 saat main di Liga Kansas. Satu tahun bersama Arema era Galatama, dia masuk babak 12 besar kompetisi.
Dua tahun berikutnya, dia pergi melatih Persikab Bandung. Tahun 1999, dia tak bisa lepas dari Malang, dan membesut Persema Malang. Dia pun menjelajahi banyak klub sebagai pelatih. Mulai dari PSS Sleman, Deltras Sidoarjo, Persiba Bantul, PKT Bontang, Persipura Jayapura, Persibat batang, Persis Solo hingga Persiwa Wamena.
“Dalam sepak bola saya merasakan banyak hal. Suka cita jadi juara, tapi juga ada rasa sedih karena perpisahan, juga rasa jengkel karena kekalahan. Semuanya sudah saya kecap selama 25 tahun menjadi seorang pelatih,” kata pelatih yang domisilinya di Sengkaling itu.
Setelah membela Arema tahun 2011/2012 untuk menghindari degradasi dan membesut Arema di tahun 2014 dan 2015, Suharno pernah merasakan getirnya noda dalam karir kepelatihannya. Mungkin, sepanjang perjalanan hidup sebagai pelatih, baru kali ini Suharno berada pada titik terendah.
Musim 2012/2013, Gresik United mengontraknya pada Agustus 2012. Karir Suharno hanya bertahan enam bulan, setelah dipecat secara tidak hormat oleh manajemen Gresik United, tepatnya Februari 2013. Begitu ada ‘voting’ yang dibikin oleh pemain GU sendiri, Suharno yang saat itu sukses menjaga Gresik United di papan atas, peringkat 5, dinyatakan harus mundur dari kursi pelatih.
“Saya pun sampai sekarang masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin tim yang masih peringkat atas, masih di posisi lima dan bisa bersaing, malah memaksa saya mundur. Tapi, bagaimanapun itu adalah lika-liku, pengalaman,” sambungnya.
Sekarang, pada tahun keduanya berturut-turut bersama Arema, Suharno ingin mencapai prestasi yang belum pernah dikecap olehnya bersama tim penguasa Malang Raya itu. “Tidak ada kata lain. Ini adalah kesempatan kedua saya dari manajemen. Tentu, musim ini kita harus mendapatkan gelar juara,” tutup Suharno.(fino yudistira/han)