Gemburkan Tanah dalam 5 Hari, Wakili Indonesia di Korea

Ingat cerita Isaac Newton, saat dia menemukan teori gravitasinya. Ketika itu, Newton sedang berada di bawah pohon dan tiba-tiba kejatuhan apel dari pohon tersebut. Karena bertanya-tanya kenapa apel tersebut bisa jatuh, ditemukanlah teori gravitasi yang sampai sekarang masih jadi pelajaran siswa di sekolah menengah. Peristiwa ini hampir sama dengan yang dialami sekelompok mahasiswa dari Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (UB).
Mereka, mahasiswi jurusan Biologi FMIPA UB, Azza Hanif Harisna, Nanda Yuli Rahmawati, Wulida Khoirunnisa dan seorang mahasiswi jurusan Kimia FMIPA UB Niarisandi Yasvinawati. Keempat mahasiswi ini awalnya ingin membuat ampas tebu sebagai lapisan penguat material kaca, tapi setelah mereka mengolah ampas tebu tersebut, lah kok yang mereka temukan adalah sebuah pupuk berukuran nano.
Apalagi kemampuan pupuk tersebut setelah di-uji coba bisa lebih hebat dari pupuk organik biasanya. “Mulanya kami memang bingung, karena tidak ada niat untuk membuat pupuk. Tapi kok setelah kami teliti lebih lanjut, justru kami temukan pupuk ini,” ujar Niar, panggilan akrab Niarisandi Yasvinawati kepada Malang Post saat ditemui kemarin.
Niar mengatakan, riset tersebut dilakukan dalam rangka Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) di UB beberapa bulan lalu. Saat itu, dia dan timnya mematangkan konsep untuk membuat lapisan penguat kaca dari ampas tebu. Akan tetapi, karena kejadian yang tidak mereka duga, konsep diubah total.
Pembina tim, Prof. Sutiman Bambang Sumitro menyarankan agar mereka mengkaji lebih dalam tentang penemuan tak terduga itu. Sebab, diduga pupuk berukuran nano bisa menggemburkan tanah lebih cepat dibanding pupuk organik biasanya. Niar dan teman-temannya pun mengaku sempat kebingungan karena harus mengulang kajian dari awal. Akan tetapi, kata Niar, berkat bimbingan Sutiman, mereka pun menjalani riset dengan sukses.
Benar saja, nanofertilizer atau dalam Bahasa Indonesianya berarti pupuk berukuran nano, memiliki kemampuan menggemburkan tanah lebih cepat. Pupuk organik biasanya baru bisa menggemburkan tanah dalam waktu dua sampai tiga bulan. Itupun proses pembuatannya, membutuhkan waktu satu bulan.
Sementara nanofertilizer, hanya membutuhkan waktu lima hari untuk melihat hasil dari penggemburan tanah. Pembuatannya juga tidak membutuhkan waktu lama. Bila memang proses pembuatannya lancar, didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, nanofertilizer bisa dibuat hanya dalam waktu lima hari juga.
Artinya, bila pupuk ini dikembangkan, para petani tidak perlu lagi lama untuk menunggu tanahnya gembur. “Waktu itu eksperimen kami juga dilakukan di tanah yang kritis (kekeringan parah, red). Tapi rupanya, cuma butuh lima hari tanahnya langsung gembur. Professor kami mengatakan, ini sangat cocok untuk di tanah Madura. Apalagi ini pupuk organik,” jelas wanita asal Tuban itu.
Seluruh tim pun semakin senang, ketika setelah lolos PKM di UB, hasil riset mereka juga berhasil masuk ke Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas). Di Pimnas yang digelar Agustus 2014 lalu itu, nanofertilizer berhasil mendapatkan dua medali. Satu medali perak untuk kategori poster dan satu medali perunggu untuk kategori presentasi.
“Habis lolos Pimnas itu, kita coba-coba ajukan ke Konferensi ASIANANO di Korea Selatan. Eh, rupanya kita juga lolos. Kita berhasil ikut konferensi ASIANANO yang diikuti lebih dari 250 peserta dari negara-negara se-Asia pada Oktober 2014 lalu,” ungkap gadis berparas manis ini. Dia menjelaskan, ASIANANO merupakan pameran penemuan-penemuan Nano Technology se-Asia.
Mereka berempat pun pergi membawa penemuannya tersebut. Sesampainya di konferensi itu, mereka kaget. Bukan karena melihat wajah-wajah rupawan di sana, tapi ternyata mereka adalah satu-satunya peserta yang mewakili universitas di Indonesia. “Iya, kami satu-satunya dari universitas di Indonesia. Tidak, bahkan kami satu-satunya peserta yang masih menempuh kuliah, sarjana pula. Sebagian dari mereka, sudah bergelar magister, bahkan ada yang professor. Itu sangat mengagetkan kami, apalagi kami harus presentasi di depan mereka,” terang Azza, panggilan akrab Azza Hanif Harisna.
Perlahan kebanggaan diri pun muncul, ketika banyak peserta konferensi yang berdatangan ke stan mereka untuk melihat poster. “Saat itu memang cuma ada pameran poster,” singkat Azza. Tapi dari melihat poster mengenai nanofertilizer itu, banyak yang antusias bertanya-tanya. Saat mengetahui mereka masih mahasiswa sarjana, para peserta pun terkejut.
“Mereka kaget, kami masih mahasiswa. Tapi kami malah ditawari untuk melanjutkan S2 di perguruan tinggi mereka yang berasal dari banyak negara, tapi paling dominan India, Singapura, Korea Selatan, Cina dan Jepang. Kami mau saja kalau ditawari, tapi pikir-pikir dulu,” katanya seraya tertawa kecil.
Tidak hanya itu yang membuat empat mahasiswi bangga. Berkat penemuan pupuk berukuran nano ini, para peneliti di luar negeri jadi tahu bahwa di Indonesia ada penelitian tentang nano technology. Sebab rupanya baru diketahui, selama ini masyarakat luar negeri mengira jika di Indonesia tidak ada riset semacam ini. “Itu pengalaman paling berkesan untuk kami. Kami juga baru tahu, rupanya negara lain mengira seperti itu. Tapi karena kami berhasil, sekarang negara tahu kalau Indonesia sebenarnya bisa melakukannya,” tandas Azza.
Kini mereka kembali ke kesibukannya sebagai mahasiswa. Setelah lama melakukan riset, sejak Februari 2014, sekarang waktunya bagi mereka untuk melaksanakan kewajibannya sebagai mahasiswa. Akan tetapi, tidak berhenti sampai situ saja rupanya. Mereka masih punya keinginan untuk melakukan pengkajian lebih mendalam mengenai nanofertilizer.
“Sekarang kami mau lulus dulu, tapi setelah itu sih kami punya bayangan mau bekerja sama dengan perusahaan bidang pertanian. Apalagi sekarang Indonesia sedang menuju pertanian organik. Siapa tahu temuan kami bisa memberi sumbangsih ke negara ini,” pungkasnya. (Muhamad Erza Wansyah/han)