Sempat Bangkrut, Kini Miliki 69 Outlet Kemitraan

Usia muda tidak menghalangi untuk berkreasi, termasuk sukses menjadi seorang pebisnis. Berbagai masalah memang menjadi tantangan termasuk kebangkrutan ketika menjalankan bisnis. namun tidak putus asa dan tetap mau mencoba menjadi kunci untuk berhasil mencatat kesuksesan.

Hal itu berlaku bagi Martalinda Basuki, gadis berusia 23 tahun yang di usianya yang tergolong
belia, kini sudah memiliki omset ratusan juta rupiah. Dia, sempat mengalami kegagalan ketika menjalankan usaha di bidang kuliner, sebelum akhirnya kini dengan brand Cokelat Klasik telah memiliki puluhan gerai dan mitra di seluruh Indonesia.
“Tiga tahun lalu, saya masih merasakan apa yang dinamakan rugi alias bangkrut. Saya sempat memiliki usaha kafe di Kediri yang terpaksa tutup karena kegagalan mengatur bisnis,” ujarnya, ditemui Malang Post di kantornya, di kawasan Vila Bukit Tidar.
Dia menceritakan, kafe tersebut berada di Kampung Inggris. Sempat ramai ketika musim liburan sekolah dan kuliah, Kafe Klasik miliknya tutup. Perempuan yang akrab disapa Lala ini pun mengalami kerugian mencapai Rp 90 juta. Jumlah tersebut, merupakan modal ketika dia membuka kafe, yang didapatkan dengan menjual motor, laptop hingga pinjam ke sanak saudaranya.
“Dari situlah saya mulai belajar membuat project plan ketika berbisnis. Oktober 2012, saya mulai mengenalkan Cokelat Klasik, masih satu gerai dan saya sendiri yang ikut berjualan di rombong, dengan sisa uang Rp 7 juta di kawasan Jalan MT. Haryono,” papar perempuan kelahiran 1991 ini.
Lala menambahkan, melalui usahanya yang berupa kreasi menu coklat itu, perempuan enerjik ini menjadi binaan Bank Indonesia. Dia berhasil menggoda BI untuk memberikan modal. Melalui proposal yang dikirimkannya, dia berhasil menyisihkan 500 proposal lain. “Hanya ada 25 peserta yang terpilih dan akhirnya mendapatkan bantuan permodalan Rp 15 juta. Dari situ saya semakin optimis mengembangkan usaha,” beber gadis asal Kediri tersebut.
Dia menyebutkan, bila BI saja percaya akan usahanya, maka dia harus maksimal untuk berkembang dan bangkit dari kegagalan. Untuk saat ini, brand Cokelat Klasik dan Lala sudah lumayan memiliki nama. Terutama bagi entrepreneur muda. Pasalnya, selain mengembangkan bisnisnya hingga ke luar pulau, dia kerap mengisi talk show dan seminar di beberapa lokasi.
Pertengahan tahun 2014, Cokelat Klasik masih berjumlah 46 outlet saja. Namun, jelang akhir tahun ini sudah mencapai 69 outlet. Lala memastikan, begitu mengawali 2015 nanti, outletnya sudah berjumlah 75 outlet. Sebab, saat ini dia dan manajemen Cokelat Klasik tengah menyiapkan enam outlet, yang dikelola sendiri dan kemitraan.
“Saya tidak mau menyebutnya franchise. Lebih baik disebut kemitraan saja, dengan mereka yang mau bekerjasama dengan kami. Saat ini dari 69 outlet, yang 30 saya kelola sendiri tanpa mitra,” beber perempuan berkerudung tersebut.
Untuk menarik pembeli, dia menghiasi booth-nya dengan lampu kelap kelip warna merah. Menurutnya, tampilan booth merupakan salah satu strategi penjualan yang mengena. Kemudian, peristiwa pengembangan pun berlanjut hingga ke luar kota. Tercatat, Lampung, Balikpapan, Ternate, Solo, Cilegon hingga Sampit juga menjadi lokasi yang kini bisa didapati Cokelat Klasik.
Dari hari ke hari, bisnis itu pun makin berkembang. Mahasiswa Administrasi Publik FIA UB itu pun mengaku kewalahan. Apalagi, banyak orang yang ingin mendirikan Cokelat Klasik di luar kota. Sekalipun sudah cukup sukses, usaha itu pun tidak tanpa halangan. Pasalnya, sempat pegawai yang dipercayainya mengemudikan kendali usaha, justru membawa kabur uang hasil berbisnis.
Ketika ditanya berapa omzetnya kini, cukup fantastis sebab mencapai ratusan juta rupiah. Dia enggan menyampaikan berapa jumlah pastinya, yang jelas dengan bisnis tersebut, dia bisa memiliki keuntungan bersih untuk membeli beberapa lahan tanah yang direncanakan untuk bisnis lainnya, ditambah mobil Honda Jazz yang kini dikendarainya. Bahkan, total pegawai yang mesti gaji mencapai 50 orang.
“Sekarang omzetnya lumayan melalui Cokelat Klasik. Saya siap membuka usaha pusat kuliner dalam waktu dekat. Selain itu, Cokelat Klasik harus berkembang, minimal 15 outlet setiap bulannya,” pungkas perempuan berusia 23 tahun yang tak akan berhenti mengepakkan sayap bisnisnya.(stenly rehardson/ary)