Sehari Tiga Kali Jalan Kaki dari Mapolres ke Kejaksaan

Sosok polisi satu ini konsisten untuk selalu menjalani hidup dalam kesederhanaan. Aiptu Didit Suseno Aji, anggota Polres Malang Kota, bisa dikatakan satu dibanding seribu atau bahkan mungkin ratusan ribu orang yang di abad 21 ini tetap memilih untuk berjalan kaki saat menjalankan tugas.  

Suasana Mapolres Malang Kota di Jalan Jaksa Agung Suprapto Malang, kemarin terlihat sibuk. Di ruang Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK), beberapa anggota polisi terlihat melayani masyarakat yang membuat laporan. Sementara di ruang lainnya, anggota sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Tak terkecuali dengan Aiptu Didit Suseno Aji, anggota Satuan Reskoba. Dengan membawa tas punggung serta memakai jaket sweater, pagi kemarin ia sudah bersiap pergi ke Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Malang Jalan Simpang Panji Suroso Malang. "Saya mau mengantarkan berkas kasus narkoba ke Kejaksaan," ujarnya kepada Malang Post.
Pekerjaan mengirim berkas ataupun surat ke kantor Kejari serta Pengadilan Negeri (PN) Malang ini, sudah menjadi kebiasaan serta tanggung jawabnya. Rutinitas tersebut hampir setiap hari dilakukannya. Bahkan, sehari kadang sampai tiga kali Didit harus bolak-balik dari Mapolres Malang Kota ke Kejari ataupun PN Malang.
Yang menarik, saat mengirimkan berkas ataupun surat, pria kelahiran tahun 1960 ini sama sekali tidak pernah naik kendaraan bermotor. Ia lakukan dengan jalan kaki. Sesekali, jika memang waktunya mendesak, baru naik sepeda ontel.
Untuk sekali jalan kaki menuju kantor Kejari Malang, waktu yang dibutuhkan sekitar 1 jam lebih 15 menit. Namun saat naik sepeda ontel, butuh waktu hanya 30 menit. “Kalau memang waktunya panjang, saya memilih jalan kaki, meski harus bolak-balik tiga kali. Tetapi jika mendesak, saya naik sepeda (sepeda ontel, red). Kecuali kalau mengirim barang bukti serta tersangka (tahanan, red) baru menggunakan kendaraan mobil dengan penyidik,” terang bapak empat anak ini.
Sekalipun panas terik matahari menyengat kepala, Aiptu Didit sama sekali tidak pernah mengeluh. Kecuali ketika kondisi hujan turun deras, ia memaksakan diri untuk naik angkot, dari pada harus membawa kendaraan sendiri.
“Saya sudah terbiasa jalan kaki seperti ini. Sebelum menjadi polisi pada tahun 1986 /1987, kemana-mana selalu jalan kaki. Karena ketika masih muda dulu, setiap diajak pergi sama bapak (alm Ashari) selalu jalan kaki. Sehingga sudah terbiasa sampai sekarang,” tuturnya.
Begitu juga ketika ia pulang ke rumahnya di Perum Bumiasri Sengkaling. Saat tidak terburu-buru waktu, Didit memilih jalan kaki ataupun naik sepeda ontel. “Sebetulnya ada kendaraan di rumah. Tetapi saya memang ingin jalan kaki dan naik sepeda. Selain untuk menggembleng diri sendiri, juga memberi contoh kepada teman-teman lain, untuk pola hidup sederhana. Sebab sehat tidak harus mahal atau saat waktu luang saja. Tetapi dengan beraktivitas kerja pun, sebetulnya kita bisa sekaligus berolah raga,” jelas pria plontos ini.
Hidup sederhana yang dilakukan Didit ini bukan untuk mencari sensasi. Tetapi karena lebih pada kemauannya sendiri. Ia ingin mencontoh para pejuang-pejuang terdahulu. Semangat mereka yang tidak pernah putus, meski harus jalan kaki jauh untuk melaksanakan tugas.
“Semua anggota di Polres Malang Kota ini, mungkin semua sudah mengerti siapa pak Didit. Dia memang sangat sederhana. Berjalan kaki bolak-balik dari kantor (Mapolres Malang Kota) ke Kejaksaan sudah menjadi kebiasannya. Selain itu, semua anggota juga tahu kalau pak Didit ini orangnya bersih. Ia tidak mau membawa pulang uang yang bukan dari gajinya. Ketika dia diberi uang, tidak pernah untuk keperluan pribadinya. Uang itu digunakan untuk keperluan dinas, seperti biaya menimbang barang bukti di Pegadaian,” papar Kasubag Humas Polres Malang Kota, AKP Nunung Anggraeni yang juga dibenarkan anggota Humas lainnya.(agung priyo/han)