Membangun Masyarakat Lewat Seni dan Pendidikan

Sekitar 96 tokoh masyarakat, pemuda dan pelopor perubahan, mendapat penghargaan secara khusus dari Bupati Malang, Rendra Kresna. Penghargaan yang terbagi atas beberapa kriteria itu diberikan sesuai dengan bidang atau aktivitasnya di tengah masyarakat. Berikut beberapa penerima penghargaan dan kinerjanya di lingkungan masyarakat.

Arif Budiman warga Desa Sukoharjo, Kecamatan Kepanjen termasuk salah satu sosok penerima penghargaan di bidang pengembangan seni rupa di Kabupaten Malang. Di usianya yang sudah ‘berkepala enam’, tidak membatasi pria dua cucu ini untuk tergerak hatinya dalam mengembangkan seni rupa di wilayah kabupaten, khususnya Malang Selatan.

Mengawali perupa sebagai pelukis kecil, pria dengan empat anak ini terus matang dan menyeriusi pekerjaannya. Bahkan, di tengah meredupnya perhatian terhadap perupa, Arif dengan didukung teman-teman perupa lain mampu memunculkan dan melahirkan paguyuban yang diberi nama Komunitas Perupa Malang Selatan (Koperma) di tahun 2005. Melalui komunitas ini, ia berharap dapat tetap menjaga kebersamaan dan aktivitas perupa yang ada di Malang Selatan terutama wilayah Kecamatan Kepanjen.

Sayang, karena minimnya bentuk perhatian secara riil dari sejumlah pihak, Koperma pun akhirnya harus mati suri. Namun seiring dengan perubahan wilayah Kepanjen yang dijadikan sebagai ibu kota Kabupaten Malang, Koperma pun akhirnya direinkarnasi kepengurusan menjadi Sanggar Warna yang dipandegani oleh 15 perupa di Malang Selatan. Lagi-lagi, Arif ditunjuk sebagai ‘bapak’ dari sanggar seni yang mulai berani eksis dengan melakukan pameran-pameran di wilayah Kepanjen.

Mengawali pameran di Kantor Kecamatan Kepanjen, sanggar ini kemudian mendapat tempat di aula Pendopo Kantor Bupati Malang di Kepanjen. Bahkan, pada event-event khusus atau tahunan, karya dari 15 perupa di bawah bendera Sanggar Warna, pun disajikan untuk memotivasi perupa-perupa muda hingga transaksi jual-beli. Sebagai bentuk eksisnya perupa di Malang Selatan, kantor khusus pun dibuat di wilayah Kepanjen.

“Untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki perupa, saya mendirikan galeri di Kota Malang atau tepatnya perempatan Kudusan yang diberi nama Asri Art Gallery,” kata Arif.

Nama lain yang mendapat penghargaan yakni Sunarti Sulistyowati warga Desa Pakisjajar, Kecamatan Pakis, untuk kepedulian di bidang ekonomi dan pembangunan. Mengawali kiprah di tahun 1989, istri anggota polisi berpangkat Iptu tersebut akhirnya mampu melejit di tengah masyarakat.

Berawal dari aktivitas di Bhayangkari, perempuan yang mengaku apa yang dilakukan adalah panggilan hati itu mulai mencurahkan perhatiannya kepada masyarakat Pakis dan kabupaten. Di sela pekerjaanya sebagai tenaga pengajar TK, Bu Tyo-sapaannya, mulai berani menjadi nara sumber di bidang pendidikan. Bahkan, secara khusus juga telah menciptakan lagu anak-anak guna membangkitkan motivasi belajar dan perhatian kepada orang tua masing-masing anak.

Yang menarik, melalui kegiatan itu, dirinya pun dipercaya sebagai Ketua PGRI Pakis. Termasuk, Ketua KMB (Kawula Muda Bersatu) Pakis dan masuk jajaran salah satu pengurus di TP PKK Kabupaten Malang.
Bagi ibu dua anak ini, pembangunan yang diberikan kepada masyarakat tidak harus dalam bentuk fisik. Namun, pembangunan mental dan karakter menjadi salah satu bagian penting di masyarakat. Hal itu pula, yang selama ini diberikan kepada warga sekitar. Bahkan, terhadap kaum hawa, ia tidak segan-segan melakukan pemberdayaan perempuan guna menyamakan gender.

“Kodrat perempuan memang sebagai ibu rumah tangga ketika di rumah. Namun ketika di masyarakat, tentu bisa memberikan perhatian lebih. Hal-hal yang selama ini tidak diperhatikan itulah, yang menjadi kesempatan untuk digali dan dikembangkan. Sehingga mental dan karakter di masyarakat menjadi bagus. Utamanya, kaum hawa yang kadang minder dengan status sosialnya,” tambahnya.

Tyo mengungkapkan, menjadi perempuan yang pintar dan pandai tidak harus didukung dengan pendidikan yang mapan atau harus dari kalangan kaya. Namun dengan modal banyak belajar, ikhlas dan jujur, hal yang dianggap sulit itu akan mampu diatasi. Karena beberapa modal itulah yang dilakukannya selama ini.

“Dengan ikhlas, semua akan lancar. Salah satunya penghargaan yang diberikan oleh Bupati Malang ini, jauh-jauh hari sebelumnya tidak pernah terpikirkan,” katanya.

Satu nama lain yang mendapatkan penghargaan adalah Riati Hasan Asyari warga Desa Sumber Sekar, Kecamatan Dau. Kepeduliannya di bidang kesehatan, membuat kiprah istri Kepala Desa ini, pun layak dicontoh dan dijadikan panutan. Selain menjabat Ketua TP PKK Desa Sumber Sekar, nyatanya beberapa program desa mampu dijabarkan dengan maksimal. (sigit rokhmad/han)