Bos Vulkanisir Makin Manja, Firasat Miniatur Pesawat Jatuh

Satu keluarga yang juga menjadi penumpang Air Asia QZ 8501 adalah keluarga Eko Widjaja (42 tahun). Pengusaha vulkanisir PT Elvasindo Nusantara ini, membawa serta istrinya Susandhini  Liman, 39 tahun dan ketiga anaknya Marylin Widjaja, 16 tahun, Alfred Widjaja, 12 tahun serta William Widjaja, 7 tahun. Eko sekeluarga, dikenal sebagai warga yang baik di Perum Pondok Blimbing Indah (PBI), kediaman keluarga itu.

Warga bahkan hendak menggelar doa bersama untuk Eko sekeluarga. Doa agar pesawat cepat ditemukan. Sebab sampai saat ini warga masih meyakini keluarga itu tetap baik-baik saja.
 “Tadi kami sudah memberitahu warga, untuk menggelar doa bersama. Kami berharap yang terbaik, yakni pesawat AirAsia, cepat ditemukan, dan pak Eko bersama keluarganya selamat,’’ kata Ketua RT 08 RW 11, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Erens John Mangarai.
Bukan itu saja, pria yang tinggal bertetangga dengan ini  juga mengajak teman-teman satu gerejanya yakni Gereja Pantekosta di Indonesia, Jalan Lembah Dieng ikut berdoa.
“Kebetulan, saya dan pak Eko ini satu gereja, itu sebabnya saya tadi menelpon pendeta Gereta Pantekosta di Indonesia Jalan Lembah Dieng dan jemaat lainnya untuk berdoa,’’ tambahnya.
Erens mengatakan, terakhir kali bertemu dengan pemilik perusahaan vulkanisir ban, PT Elvasindo Nusantara, Minggu (21/12) lalu, saat ibadah Natal di Gereja Pantekosta di Indonesia, Jalan Lembah Dieng. Seperti jemaat pada umumnya, keduanya pun saling sapa, dan saling mengucapkan selamat Natal. Tidak ada yang terlihat aneh malam itu, bahkan menurut Erens semuanya terlihat biasa.
“Pas datang kita sempat bersalaman, dan saling menanyakan kabar. Tidak ada ucapan atau perilaku yang aneh, semuanya biasa,’’ tambah pria ini. Bahkan hingga pulang, setelah mengucapkan selamat Natal, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Kendati jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, Erens mengatakan Eko dan keluarganya adalah warga yang baik. Mereka adalah keluarga yang memiliki jiwa sosial tinggi. Eko tidak segan-segan memberikan bantuan. Bahkan pria ini sering terlibat langsung dalam acara. Seperti Agustus lalu, ada acara yang digelar RT, Eko pun tampak hadir dengan keluarga.
Tapi dari sekian kegiatan yang dilakukan, Erens mengaku paling berkesan dengan Eko adalah kebiasaan Eko lari di malam hari. Menurut Erens, setiap hari melihat Eko berlari malam hari.
“Dia sempat mengatakan tidak bisa berlari pagi atau berolahraga siang hari, sehingga lari malam hari,’’ urainya. Saat lari, Eko tidak sendirian, dia selalu ditemani oleh anak-anaknya, kadang Alfred atau William.  “Kalau lari biasanya jam 18.30- jam 19.30,’’ urainya.
Sementara Sistiari, 44 tahun, pembantu di rumah tersebut mengaku was-was dengan nasib keluarga majikannya. Sama seperti Erens, wanita asal Desa Kemantren, Jabung ini pun berharap yang terbaik. Yaitu pesawat AirAsia ditemukan, dan keluarga Eko selamat.
Kepada Malang Post, wanita yang mengaku baru satu tahun bekerja dengan Eko ini memiliki banyak kenangan. Bahkan dari kenangan itu paling berkesan menurutnya adalah Sabtu (20/12) atau sehari sebelum keluarga ini terbang ke Singapura. Menurutnya, Sabtu siang lalu keluarga ini tidak tampak seperti biasanya. Eko, Susan dan tiga anaknya tampak lebih manja pada dirinya. Bahkan, Susan pun meminta Sistiari untuk terus menemani. “Jam 13.00’ WIB, bu Susan panggil saya ke kamar. Dia mengeluh tidak enak badan dan kepalanya pening. Dia minta pijit. Saya pun memijitnya. Itu tidak biasa,’’ katanya. Bahkan, saat Sistiari mencoba untuk menyudahi pijitannya, Susan melarang, dan meminta dirinya untuk tetap di kamar.
“Bu Susan sebelumnya tidak pernah meminta saya memijit, karena dia melihat saya repot, mengurus anak-anak dan memasak, serta mengerjakan pekerjaan rumah,’’ katanya. Sistiari baru menyudahi pijitan tersebut setelah Susan tertidur. Tapi itu hanya 15 menit, setelah itu Susan kembali memanggilnya. Tapi saat itu Susan tidak lagi minta pijit, melainkan memberinya  uang. Uang tersebut diberikan Susan kepada Sistiari agar Sistiari bisa liburan, selama Susan dan Eko tidak ada. “Kalau mereka tidak ada, saya juga tidak masuk, karena memang tidak ada yang dikerjakan. Tapi selalu Bu Susan memberi saya uang,’’ urainya, sembari mengatakan, Sabtu itu melihat kondisi Susan yang kurang sehat dia menyarankan agar menunda keberangkatan ke Singapura. “Bu Susan sempat berkata dengan nada bercanda, ngawur iyo lek numpak bis iso dicancel, iki numpak pesawat,’’ katanya sambil menirukan kata-kata Susan.
Bukan hanya Susan, Eko yang menjadi kepala keluarga juga lebih manja. Pemilik perusahaan PT Elvasindo Nusantara ini siang itu minta diladeni makan. Saat itu Sistiari heran dengan aksi manja Eko itu, karena memang tidak pernah dilakukan.
“Saya meladeni makan setelah meminta izin kepada bu Susan, begitu beliau mengatakan iya, saya pun langsung mengambilkan bapak nasi serta pepes, karena saat itu masak pepes,’’ tambahnya dengan menitikkan air mata.
Tapi paling dirinya tidak bisa lupa adalah, William. Anak terakhir buah cinta Eko Widjaja dan Susan Liman ini Sabtu siang lalu sempat bermain miniature pesawat. Tapi begitu, dalam permainannya, William sempat menjatuhkan pesawat itu ke lantai. “Bu Sis, pesawat saya jatuh kecelakaan,’’ kata Sistiari sembari menirukan perkataan William. Sistiari sendiri tidak menanggapi perkataan William, dia hanya tersenyum saja, mendengar perkataan siswa kelas 3 SD Bina Bangsa ini.
Sementara Budiarto, 42 tahun, penjaga rumah ini juga mengaku memiliki kenangan yang tidak terlupakan. Dia ikut dengan keluarga Eko Widjaja sejak 12 tahun lalu. Bahkan, selama ini rumahnya Eko dipercayakan kepadanya. “Sehari-hari saya tinggal di sini, bersama pembantu. Saya juga menjadi driver,’’ katanya.
Tapi begitu, Minggu dinihari kemarin  bukan dirinya yang mengantar keluarga ini ke bandara Juanda. Melainkan Mujiono. “Pak Mujiono adalah driver ayahnya pak Eko, dia langsung pulang ke Pandaan,’’ katanya. Tapi saat keluarga ini berada dalam perjalanan, Susan sempat menelpon. Dalam pembicaraan telepon, Susan sempat pamit akan terbang ke Singapura. Bukan itu saja, Susan juga meminta Budiarto berhanti-hati jika pulang ke Blitar, karena kondisi jalan yang macet, serta ramai “Tidak pernah bu Susan telepon saat perjalanan. Biasanya bu Suzan pamit setelah sampai, di tujuan,’’ katanya.  Menurut Budiarto Susan juga berpesan agar Satpam yang berjaga dibuatkan kopi, serta dikirimi makanan. “Malah jika ada Satpam yang patrol, ibu berpesan agar mereka masuk dan membuatkan makanan,’’ katanya.
Dari Budiarto juga, diketahui jika Eko dan Keluarganya ini akan kembali ke Malang Minggu (4/1) mendatang. Dia mengetahui jadwal kepulangan majikannya itu dari Mujiono, karena diminta menjemput di Juanda. “Kami berharap tidak terjadi apa-apa dengan pak Eko serta keluarganya. Kami berharap, semuanya selamat dan kembali pulang,’’ katanya.
Sementara itu Budiarto bersama Sistiari dan Erens mengaku selain menunggu informasi baik, terkait dengan pesawat AirAsia, mereka tetap standby di rumah Eko. Kecuali Sistiari, yang pulang setiap sore. Mereka juga tidak membiarkan semua orang masuk. Termasuk saat ada keluarga Eko serta Susan datang. “Arahan dari pihak kepolisian demikian, kami wajib melapor jika ada orang yang mengaku-aku keluarga, yang belum kami kenal,’’ katanya.
Pihak Polsek Blimbing juga kemarin sudah menugaskan salah satu anggotanya berjaga di rumah milik Eko ini. Penjagaan tersebut dilakukan  agar tidak ada orang yang memanfaatkan situasi. “Mulai hari ini, saya berjaga. Arahan Kapolsek tadi demikian. Semua tamu wajib  melapor, baik yang kenal maupun yang belum kenal,’’ tandas petugas. (Ira Ravika/ary)