Uang Ditaruh di Bejana Berubah Jadi Belatung

ACARA haul Kiai Hamid Pasuruan dan Nyai Nafisah (istri Kiai Hamid,red) diadakan pada setiap 9 bulan Rabiul Awal, yang kemarin tepat pada Rabu (31/12/14) lalu. Puluhan ribu orang selalu memadati haul sebagai bentuk penghormatan dan kekaguman pada sosok Waliyullah tersebut. Semasa hidupnya Kiai Hamid dikenal mempunyai karamah. Seperti mukjizat yang dimiliki para nabi, karamah wali Allah ini diberikan untuk memantapkan keyakinan umat terhadap panutan mereka.

Tim Sowan Kiai Malang Post pria, Mahmudi Muchit dan Purwanto ditemui langsung oleh Kiai Idris, putra bungsu Kiai Hamid, sedangkan tim perempuan Dewi Yuhana dan Lailatul Rosida disambut istri Kiai Idris, Nyai Kuni Zakiyah serta putri pertamanya, Hj Maryam Lualik, menantu Hj Widad Bariroh, serta Wardah Nafisah dan Ahmad Uwais.
Kiai Hamid adalah sosok yang tidak cinta harta, ikhlas dalam membimbing umat dan tetap rendah hati. Itulah sedikit gambaran dari sosoknyaseperti diungkapkan cucu-cucunya kepada Tim Sowan Kiai Malang Post. Mereka memang tak bertemu langsung dengan sang kakek, namun banyak teladan yang mereka dengar tentangnya.
Hj Maryam Lualik mengungkapkan, Kiai Hamid tidak menerima semua uang yang diberikan oleh tamunya, sebab ia bisa ’mendeteksi’ apakah uang tersebut diperoleh dengan cara halal ataukah tidak. Menurut salah satu kisah yang ia dengar, pernah suatu hari sesudah mendapatkan uang pemberian dari seorang pejabat, Kiai Hamid meminta santri menaruh uang tersebut ke dalam panci dan ditutup.
Setelah itu, Kiai Hamid pergi untuk menunaikan salat. Selepas salat, santri disuruh membuka lagi panci tersebut dan alangkah terkejutnya mereka, ternyata uang yang diletakkan di sana berubah menjadi belatung. Di lain waktu, ada lagi seorang tamu yang memberikan uang dalam jumlah banyak, namun lagi-lagi Kiai Hamid meminta santrinya untuk menaruh uang tersebut dalam bejana dan memberinya air.
Meski melaksanakan titah sang kiai dengan hati bertanya-tanya, namun santri tersebut tetap patuh. Tak berapa lama, saat tutup bejana dibuka, tercium aroma yang sangat busuk. ”Uang-uang itu diperoleh dengan cara yang tidak benar. Makanya, saat kita diberi uang jangan langsung diterima, harus tahu dulu bagaimana cara mendapatkannya,” ujar Kiai Hamid seperti diceritakan Hj Maryam.  
Kisah tentang kelebihan Kiai Hamid tidak berhenti di sini saja, menurut para cucu, pernah juga datang seorang mafia yang biasa mencopet dan merampok. Ketika datang ke Kiai Hamid ia menyebut namanya Satuki, tapi Kiai Hamid mengucapkannya kembali dengan ”Oh, Satutuke”.
”Bukan Kiai, tapi Satuki” yang lagi-lagi dijawab oleh Kiai Hamid ”Iya, Satutuke”.   

Singkat cerita, setelah bertemu Kiai Hamid, mafia tersebut bertobat, menjalankan semua perintah agama. Namun setelah Kiai Hamid meninggal, Satuki kembali lagi menjadi mafia hingga akhir hayatnya dan meninggal dengan su’ul khatimah. Peristiwa ini mengingatkan semua orang yang mengenal Satuki pada kisah pertemuan pertamanya dengan Kiai Hamid yang menyebutnya ’Satutuke’, atau berarti sampai selesai (akhir hayat) Satuki tetap menjadi mafia.
Kiai Hamid juga dikenal sebagai sosok yang mengabadikan seluruh hidupnya untuk agama. Hal itu pula yang sampai hari ini dilakukan oleh anak keturunannya. Kiai Idris, putra bungsu Kiai Hamid menekankan kepada anak-anaknya untuk tidak meninggalkan tradisi mengajar walau sedang sibuk.  ”Kami diperkenalkan dan diperbolehkan mempelajari banyak ilmu, tapi diminta untuk tidak meninggalkan salaf, saya sendiri tetap diberi jadwal ”mulang” (mengajar) dua kali dalam seminggu di pondok. Abah memang berpesan, Ojo Ninggalno Mulang (jangan meninggalkan mengajar,red),” ungkap Maryam yang alumnus Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Baginya, kewajiban itu bukan hal yang berat. Namun menjadi upaya menjaga kesalafan atau tradisi dari para pendahulu. Biasanya yang diajarkan seperti kitab kuning, akhlak, dan Ushul Fiqih. Maryam sebagai putri pertama Kiai Idris dinikahkan pada usia 18 tahun. Sejak usia 16 tahun ia sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Sebagai bentuk baktinya kepada kedua orang tua, perjodohan itu diterimanya dengan ikhlas.
Kini ia dan sang suami, H Abu Yazid, mengembangkan Pondok Pesantren Salafiyah Darun Najah di Karangploso Malang. Di sana juga dibuka sekolah formal dan seringkali mendulang prestasi. PPAI Darun Najah menjadi salah satu pesantren masyhur di Kabupaten Malang.
Bagi Hj Maryam, menjadi puteri seorang kiai bahkan cucu kiai ternama membawa tanggung jawab besar padanya. ”Saya tidak pernah merasa terbebani dengan status puteri kiai, apalagi saya anak pertama sehingga tanggung jawab saya besar,” bebernya.
Lain halnya dengan putri ke empat, Wardah Nafisah yang kini menempuh studi di Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Indonesia. Wardah mengaku sempat terbebani dengan status anak kiai. Namun yang membuatnya senang adalah kebebasan dari sang ayah untuk studi lanjut di perguruan tinggi. ”Kami semua ada di pondok sejak kecil, namun ketika masuk perguruan tinggi kami dibebaskan memilih jurusan dan kampus. Kakak saya nomor tiga sekarang studi di Yaman,” bebernya. (oci/han/bersambung)