Melihat Kereta Api Khusus Penyandang Cacat

TAK diperhatikan secara utuh di darat, para penyandang cacat justru dimanjakan di atas kereta api. KA Jayabaya punya dua gerbong khusus untuk kaum difabel dan mereka yang punya keterbatasan fisik. Tapi  KA ekonomi rute Stasiun KA Kota Baru-Stasiun Pasar Senen, Jakarta itu masih kesepian penumpang penyandang cacat. Bagaimana sebenarnya layanan KA itu?

Sejam jelang peluit panjang berbunyi tanda diberangkatkan, KA Jayabaya bagai kereta eksekutif. Padahal kereta yang baru diluncurkan 18 Oktober 2014 itu hanyalah kereta ekonomi. Bersolek hingga menjadikannya bersih, full AC, tempat duduk yang nyaman membuat kereta produksi PT Inka, Madiun ini bagai kereta eksekutif.  
Dua dari delapan gerbong yang ditarik loko KA Jayabaya merupakan gerbong paling istimewa. Yakni gerbong  4 dan 5. Dua gerbong itu diistimewakan karena disediakan khusus untuk panyandang cacat dan penumpang yang butuh perlakuan khusus.
Desain interior  gerbong 4 dan 5 juga mewah untuk ukuran KA ekonomi. Gambar kursi roda di pintu gerbong dua kereta itu jadi penanda gerbong khusus. Begitu naik, penumpang langsung dihadapkan dengan toilet mewah  untuk ukuran KA kelas ekonomi.
Pintu toiletnya didesain untuk memudahkan penyandang cacat yang menggunakan kursi roda. Pintu berukuran 1 meter, seukuran kereta penyandang cacat itu menggunakan pintu rolling door. Cukup dorong, pintu besi terbuka dengan sangat mudah dan cepat. Ini berbeda dengan pintu kereta maupun pintu toilet KA yang biasanya terbuat dari besi dan harus didorong dengan sekuat tenaga.
Berada dalam toilet gerbong 4 dan 5, penumpang berasa seperti di toilet hotel. Terdapat wastafel, closet duduk, cermin dan tempat pegangan tangan. Aroma harum pun langsung menyergap penumpang. Suasananya sangat berbeda jika dibandingkan toilet KA pada umumnya.
Masuk ke dalam gerbong juga lebih mudah lantaran pintunya yang lebih lebar seukuran kursi roda. Gerbong khusus difabel dan penumpang berkebutuhan khusus itu didesain lebih luas.
“Kapasitasnya lebih luas, hanya terdapat 64 seat. Sedangkan di gerbong lain terdapat 89 tempat dudul. Jadinya seperti ini, lebih luas,” terang Kepala Stasiun KA Kota Baru, Sukardono.
Sengaja didesain seperti itu agar kereta penyandang cacat lebih mudah ditempatkan di posisi tempat duduk.
Di bagian depan dan belakang gerbong terdapat space sekitar satu meter. Tempat itu merupakan tempat khusus kereta dorong. Persis di sudut area khusus ini terdapat penjelasan tentang fungsi lain gerbong selain untuk penyandang cacat. Gerbong 4 dan 5 memang didesain tak hanya untuk penyandang cacat. Tapi juga untuk ibu yang baru melahirkan, lansia dan wanita hamil.
Namanya juga gerbong khusus, layanannya pun istimewa. Para kru kereta yang menemai perjalanan sudah siap membantu. Mereka dibekali skill melayani penumpang berkebutuhan khusus dan berempati kepada mereka.  
“Kalau ada penumpang berkebutuhan khusus yang duduk di gerbong lain, diminta pindah ke gerbong 4 dan 5. Sedangkan penumpang yang semula duduk di gerbong khusus akan diminta pindah ke gerbong lain. Ya penumpang pasti punya hati nurani,” papar Sukardono.
Mantan Kepala Stasiun KA Kepanjen ini lalu memastikan tentang kesigapan dan komitmen kru. Jika tak menjalankan tugas secara baik, apalagi mengecewakan penyandang cacat dan penumpang berkebutuhan khusus, maka penumpang dapat langsung melapor ke atasannya.
“Di dua gerbong ini, terdapat customer service (CS), pimpinan perjalanan dan nomor telepon. Jadi kalau kurang nyaman bisa mengadu melalui telepon,” kata pria 44 tahun ini.
Sanksi tegas pun sudah menanti kru yang tak memberi kenyamanan kepada penumpang berkebutuhan khusus. “Ya dilihat dari tingkat kesalahan atau pelanggarannya. Bisa teguran, mutasi bahkan pemecatan. Tapi ada prosedurnya,” kata Sukardono.
Tapi sayang, kereta yang diberangkatkan setiap jam 10.45 WIB dari Stasiun KA Kota Baru itu jarang membawa penumpang berkebutuhan khusus. Akibatnya gerbong itu ditempati juga oleh penumpang umum.  “Tapi kalau ada penumpang penyandang cacat dan berkebutuhan khusus dengan sendirinya duduk di gerbong 4 dan 5,” tegasnya.
Mantan Kepala Stasiun Wonokromo, Surabaya ini jarang melihat penyandang cacat berpergian naik KA Jayabaya. “Mungkin pernah ada penumpang yang naik, tapi saya tidak lihat,” terang Sukardono.
Padahal menurut dia, tiket dua gerbong KA Jayabaya itu dijual dengan harga terjangkau untuk tujuan Stasiun Pasar Senen melewati jalur utara, yakni rata-rata Rp 360 ribu sampai Rp 370 ribu per orang. Sedangkan batas atas tiket Rp 400 ribu dan batas bawah seharga Rp 200 ribu. Total jarak tempuhnya 823 Km dengan lama perjalanan  13 jam, 52 menit.
Henny Sitanggang, pelanggan KA Jayabaya sejak Oktober lalu mengaku beberapa kali melihat penyandang cacat menggunakan gerbong khusus itu. “Selain penyandang cacat, biasanya ibu hamil dan lansia naiknya di sini. Ya mereka nyaman, senang lah,” kata warga Selecta, Kota Batu yang kini menetap di Jakarta.
Wanita 54 tahun yang selalu membawa dua putri kecilnya kerap memilih gerbong khusus. Karena anak-anaknya merasa lebih nyaman serta menikmati perjalanan kereta tersebut. (vandri battu/han)