Berburu Vespa Jadul, Dijual Hingga Rp 25 Juta

Hobi yang ditekuni Adi Surya Permana ini cukup langka. Sarjana muda Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga  Surabaya, mengoleksi sepeda motor antik dan mengumpulkannya dari beberapa daerah di Indonesia. Koleksinya juga diminati orang asing dan ditawar dengan nilai tinggi.

Salah satu rumah yang berada di Jalan Raya Desa Sepanjang Kecamatan Gondanglegi tampak berbeda dari lainnya. Bagian depan rumah disulap menjadi arena display motor-motor antik supaya terlihat dari luar. Di dalam galeri itu, tampak pemuda yang tengah asyik mengutak-atik onderdil motor antic miliknya. Dia adalah Adi Surya Permana, sarjana muda Unair Surabaya, sekaligus kolektor motor antic itu. Pemuda yang saat itu mengenakan kaos merah kombinasi hitam itu ramah menyapa wartawan koran ini dan mempersilakan masuk.
Dia lalu menceritakan awal mula dirinya mengoleksi sepeda motor antik. “Saya sejak SMA sudah mengoleksi motor antik. Ayah juga senang mengoleksi sepeda motor antik dan benda lain yang juga punya unsur antik,” ucap pria 23 tahun yang memilih motor buatan tahun 1980 ke bawah.
Di antaranya Vespa, Honda 70, Kawasaki Binter, Yamaha lansiran tahun 1975 sampai 1969, hingga sepeda ontelpun ikut dikoleksinya. Dari 33 koleksi, mayoritas adalah Vespa. Bukan tanpa alasan dia mengoleksi sepeda motor jenis ini lantaran keberadaanya sekarang yang sudah langka, namun bentuknya unik.
“Untuk memperoleh Vespa saat ini sangat susah sekali. Apalagi untuk mendapatkan barang yang kondisinya masih mulus dan terawat,” kata dia kepada Malang Post.
Pemuda asli Desa Sepanjang ini menjelaskan, Vespa yang menjadi koleksinya mulai buatan 1950 hingga 1978. Sedangkan jenis-jeninya ada Vespa Primavera buatan 1968, Vespa Super Print 90 produksi 1965 dan Vespa GS V2 dari tahun 1956. Seluruh sepeda motor Vespa itu, berjajar nampang di dalam galeri bersama sepeda motor antik lainnya. Tampak Vespa yang ada di galeri itu kondisi masih bagus, mulus dan terawat.
Di tempat itu juga terdapat sepeda motor Kawasaki Binter tahun 1978 yang masih mulus. Sepeda motor antik itu berjenis dua tak dan berwarna hijau. Untuk mendapatkan motor antik itu tidaklah mudah. Karena ia harus blusukan mencarinya ke beberapa kota maupun kabupaten di Indonesia. Seperti Kediri, Blitar, Semarang, Jogjakarta, Solo, Bali, hingga Palembang.
“Selain itu, harganya juga mahal. Paling murah harganya Rp 15 juta per unit,” tutur Permana sapaan akrabnya.
Untuk mendaptkan sepeda motor antik itu, dia harus menabung dari uang saku semasa kuliah. Selain itu, ia juga mengumpulkan uang melalui hasil usaha kecil-kecilan berjualan di situs online. “Selain mengoleksi sepeda motor antik saya juga menjualnya. Asal harganya cocok. Untuk menjual sepeda motor antik tidak dinilai dari kondisinya. Melainkan dari tingkat kesulitan untuk mendapatkannya juga sejarah panjang sepeda motor ini,” urainya.
Ia mencontohkan, satu unit Vespa dia jual dengan harga Rp 20 juta. Bila ada yang melakukan penawaran, maka akan ditolak karena untuk mendapatkannya susah. Selain itu, keberadaan Vespa sudah langka namun masih banyak diminati. Galerinya tersebut, juga sering kali dijujugi oleh wistawan asing yang sedang berkunjung ke Malang.
Bahkan beberapa koleksinya, juga diminati para bule itu. “Terakhir, turis dari Inggris yang datang ke galeri saya pada akhir tahun lalu,” imbuhnya. Saat itu, turis tersebut meminati Vespa GS V2 koleksinya yang dibandrol dengan harga Rp 25 Juta. Turis itu, membelinya dengan kontan dan dibawa pulang ke negara asalnya. Turis dari Jerman dan Belanda juga sering mengunjungi galerinya.
Mengoleksi sepeda motor antic, kata permana, menjadi hobi maupun kesenangan karena memiliki kepuasan tersendiri saat ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Meskipun masih muda, Permana mengaku  tidak canggung untuk mengoleksi barang antik.
“Saya mengoleksi sepeda motor antik ini untuk melestarikannya. Bila hal ini dibiarkan begitu saja, bisa jadi maka sepeda motor antik ini akan punah. Intinya, keberadaan dan eksistensi sepeda motor antik ini harus tetap terjaga,” paparnya.
Dia juga berpesan kepada pemuda lain untuk tidak malu mengoleksi sesuatu yang antik maupun kuno, apalagi barang tersebut juga bisa menjadi lahan bisnis dengan nilai ekonomis yang sangat tinggi. (Binar Gumilang/han)