Kota Malang Kehilangan Petenis Muda Berprestasi

Banyak yang penasaran makna status BBM milik Almira Rachmah, siswi kelas X SMAN 3 Malang sekaligus petenis muda berprestasi asal Bumi Arema ini yang bertuliskan “Thank You for Everything”. Hingga akhirnya kejadian Jumat (9/1/15), seolah menjawab misteri PM BBM Mira, panggilan akrab Almira Rachmah.
Ia meninggal karena terserang Demam Berdarah Dongue (DBD) kemarin sekitar pukul 06.00 WIB di RS Lavallete. Sebelum ‘berpulang’, rupanya ada seorang teman yang memperhatikan update terakhir BBM Mira. Dikna Dewanti, Sahabat Mira dari SD mengatakan, saat itu dirinya bertanya-tanya, apa arti dari status Mira itu.
"Dia tulis itu sambil ada emoticon nangis. Itu update terakhirnya, udah lama, sepertinya sebelum Mira masuk rumah sakit dan dirawat. Saya juga tidak tahu apa maksudnya," ujar Dikna kepada Malang Post saat ditemui di kediaman Mira, kemarin. Menurutnya, selama ini dia masih sering menjaga komunikasi dengan Mira.
Dikna bersedih Mira meninggal di usia masih muda dengan prestasi yang sudah melejit. Gejala sakit putri bungsu kelahiran 8 Juni 1999 ini mulai muncul Senin (29/12/14) silam. Dua hari setelah itu, yakni Rabu (31/12/14), Mira pun dirujuk ke Rumah Sakit Lavallete, Kota Malang.
"Dia sempat dinyatakan bisa pulang tanggal 2 Januari 2014 siang, tapi belum sempat pulang, dia kejang-kejang dan akhirnya dibawa ke ruang ICU," jelas Amin Supangat (62), ayah kandung Mira. Suami Sulistyani (54) ini mengatakan, bahkan dia sempat menyuapi Mira saat makan. Ketika itu, lanjut Amin, Mira bertanya soal kondisi kesehatannya.
Amin pun menjawabnya dengan perasaan optimis, jika anaknya bakal sembuh. Rupanya, harapan Amin tak bisa jadi kenyataan, Mira berpulang lebih dulu, meninggalkan keluarganya. "Anak itu amanat Allah, jadi kami harus siap menerima kenyataan ini," jelasnya.
Amin mengatakan, semasa hidupnya Almira sering membuat bangga keluarga lantaran prestasi di dunia tenis melejit sangat pesat. Sampai akhir hidupnya, sudah 30 piala dan lebih dari 40 medali dia raih dalam berbagai kejuaraan. Mulai dari tingkat lokal, sampai tingkat nasional. Di antaranya, juara 1 Tenis Remaja tahun 2012, Juara 1 Britama Junior Cup Walikota Malang tahun 2010 dan lain-lain.
Terakhir, Mira mampu meraup perunggu di Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja yang digelar 2014 lalu. "Harusnya pertengahan tahun ini dia ikut Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) Jatim. Tapi ternyata Tuhan berkata lain," ungkap dia.
Bakat Mira dalam bidang tenis turun dari kedua orang tuanya yang juga hobi tenis. Amin mengatakan, saat usia 3 tahun Mira diajak kedua orang tuanya latihan. Saat itu dia meminta raket dan Amin pun memberinya. Dengan lucu, dia menggerakkan raket tersebut seperti layaknya atlet profesional.
Saat itu Amin melihat, mulai dari gerakan, sampai terbangnya bola sangat bagus, menyerupai pemain asli. Ketika itu pula, seorang pelatih melihat bakat terpendam Mira. Benar saja, mulai usia 4 tahun  Mira berlatih hingga menjadi atlet tenis kebanggaan warga Kota Malang.
"Saat usia 7-8 tahun, dia mulai mengikuti kompetisi. Tidak disangka, rupanya sampai sekarang dia bisa seperti itu, kami bangga dengan anak bungsu kami. Tapi kami juga harus ikhlas, kehilangan dia," jelas Amin.
Kendati memiliki jam terbang bagus di dunia olahraga, bukan berarti menjadikan Mira lemah di akademik. Suatu kebanggaan bagi keluarga Mira, sejak SD Mira selalu mendapat juara 1 dan 2. Bagaimana tidak, setiap belajar, Mira bisa menghabiskan waktu 5-6 jam sendiri.
Menurut Amin, Mira bukan tipe pelajar yang akan berhenti belajar, sampai dia mampu menjawab tantangan dari pelajaran sekolahnya. Amin sendiri mengaku, kadang-kadang dia sempat dibuat geram dengan kelakuan anak bungsunya itu. Di sisi lain, dia tersenyum dalam hati, karena rupanya dia memiliki anak yang gigih.
Saat Malang Post mengunjungi rumah Mira yang terletak di Jl Bondoyudo, Bunulrejo, Blimbing, Kota Malang keluarganya masih berduka. Ibu Mira, Sulistyani, tidak henti-hentinya menangis saat dikunjungi tamu yang turut berduka. Termasuk sahabat Mira sejak SMP, Nadya Herenda.
Wanita yang akrab disapa Nadya ini tak bisa menahan air mata ketika, menceritakan sosok Nadya dalam benaknya. Nadya terngiang, pesan terakhir yang disampaikan Mira ke Nadya. "Dia bilang, katanya kangen aku, sudah lama tidak ketemu," ungkapnya seraya kembali menitikkan air mata.
Di mata Nadya, Mira merupakan orang yang pemberani, rajin beribadah, tidak pelit dan sangat ramah. Meski sudah berbeda sekolah saat SMA, Mira selalu menjaga komunikasi dengan Nadya. Mira, lanjut Nadya, merupakan sahabat baik dia yang tak bisa dilupakan. "Tidak sangka, Mira juga tidak bilang kalau dia kena DBD. Tiba-tiba, waktu saya tahu, Mira sudah tidak ada," ungkapnya. (Muhamad Erza Wansyah/han)