Senang Saat Anjing Patuh, Sedih Ketika Anjing Sakit

Merawat seekor anjing, memang tidak sulit. Tetapi menjadikannya patuh itulah yang membutuhkan keahlian khusus. Karena tidak semua pemelihara anjing bisa melakukannya. Apalagi, anjing tersebut dilatih untuk menangkal kerusuhan massa. Keahlian menjinakkan binatang buas ini, dimiliki oleh Satriyo Amiarso.

Gong-gongan tiga ekor anjing milik Dalmas Polres Malang Kota, siang itu terdengar terus bersahutan. Ketiganya terus menggong-gong saat mengetahui ‘Sang Pawang’ Satriyo Amiarso datang. Dua anjing jenis Rottweiler dan satu jenis Herder (German Shepherd) atau yang biasa disebut AGJ (Anjing Gembala Jerman) itu, seakan sudah hafal betul dengan kedatangan sang pawang.
Dengan membawa bungkusan dalam tas plastik, Satriyo lalu mendekat ke kandang anjing yang dekat dengan parkiran motor. Setelah meletakkan bungkusan di atas kursi, ia langsung mendekati ketiga anjing yang diberi kandang terpisah, namun berdempetan.
“Kalau sudah ada saya, tidak mungkin anjing ini menggong-gong lagi,” kata Satriyo. Ucapannya memang benar, setelah kepalanya dipegang ketiga anjing itu tidak menggong-gong lagi. Ketiganya baru menggong-gong lagi saat ada orang yang melihat atau mendekati kandangnya.
Satriyo Amiarso ini, adalah seorang polisi. Dia masih aktif sebagai anggota polisi di Polres Malang Kota. Pangkatnya saat ini adalah Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu). Sebelum menjadi Sang Pawang anjing, ia bertugas sebagai Komandan Pleton (Danton) Dalmas Polres Malang Kota.
Namun sejak sekitar 3 tahun lalu, saat Kapolres Malang Kota dijabat AKBP Teddy Minahasa, Satriyo ditunjuk sebagai Pawang Anjing Dalmas. Penunjukkannya sebagai Sang Pawang, bukan tanpa alasan. Di kalangan polisi, pria kelahiran 21 Maret 1959 ini memang dikenal memiliki keahlihan merawat anjing.
“Saya merawat anjing sejak tahun 1985, ketika masih berpangkat Koptu. Anjing yang saya rawat milik saya sendiri di Asrama Polisi Kelud,” ujar Satriyo.
Anjing yang dirawatnya, bukan sekedar anjing biasa. Ketiga anjing yang berasal dari Jerman ini, adalah anjing penjaga terbaik dunia. Anjing tersebut difungsikan sebagai anjing tangkal, yang digunakan untuk menjaga keamanan dengan massa banyak. Seperti pengamanan sepakbola, saat acara konser ataupun ketika terjadi unjukrasa.
Yang istimewanya lagi, ketiga anjing tersebut adalah milik negara. Karena perawatan ketiga anjing itu dibiayai negara. Seekor anjing biaya perawatan setiap harinya sebesar Rp 55 ribu. “Itu untuk biaya makan, susu serta lain-lainnya,” tutur bapak dua anak ini.
Ketiga anjing tersebut dirawat sejak usia 1,5 tahun. Untuk menjadikan anjing-anjing itu patuh, diakui bukan urusan mudah. Karena harus butuh pendekatan serta mengetahui karakteristik anjing. Sebab karakteristik anjing ini, sama seperti karakteristik orang.
“Untuk menjadikan anjing patuh, itu relatih melihat dari karakteristiknya. Paling cepat butuh waktu sekitar tiga bulan. Anjing yang patuh, selalu menuruti perintah pawang. Seperti perintah duduk, tiarap, duduk tinggal atau tiarap tinggal,” terangnya.
Sehari membutuhkan tiga kali perawatan. Yaitu pagi (06.00), siang (13.30) dan sore (18.00). Setiap kali perawatan kandang anjing harus selalu bersih. Makanannya pun juga harus terjaga dan teratur. Untuk pagi hanya minum susu. Setiap anjing setengah liter susu sapi murni. Lalu untuk makannya, siang dan malam.
“Makanannya selain diberi ceki, juga dicampur dengan nasi sedikit sebagai tambahan karbohidrat. Lalu cacahan daging rebus serta kaldu daging. Kalau tidak begitu tidak mau makan. Apalagi tambahan susu serta daging itu, untuk menjaga stamina serta berat badannya tetap stabil,” jelasnya.
Selama bertahun-tahun merawat anjing, ada suka dan duka yang dirasakan oleh Satriyo. Sukanya ketika anjing terlihat sehat dan selalu patuh dengan perintah pawang. Sedihnya ketika anjing sakit tidak mau makan. Karena dia harus selalu menjaga dan menunggui, sekaligus membawanya ke dokter. “Bahkan saya pernah sampai seharian penuh menjaga anjing yang sakit, karena khawatir terjadi apa-apa,” kata kakek dua cucu ini.(agung priyo)