Kuncoro, Mantan ‘Tukang Jagal’ yang Kini Mengabdi di Arema

Kuncoro. Namanya yang pendek mewarnai panjang serta liku-liku perjalanan Arema di kancah sepak bola Indonesia. Sempat jadi pemain Arema, Kuncoro yang asli Malang, menancapkan reputasi sebagai salah satu pemain sepak bola paling nakal dan ditakuti karena temperamen dan kegarangannya. Dia pun menyatakan kesetiaannya untuk Arema, bahkan siap dikontrak seumur hidup sebagai staf pelatih oleh tim pujaan Aremania ini.

Polos. Lugu. Apa adanya dan blak-blakan. Karakter itu tak pernah lekang dari sosok Kuncoro, asisten pelatih Arema Cronus. Latihan Singo Edan, selalu hangat dan penuh keakraban, ketika Kuncoro hadir di tengah-tengah para pemain. Hobinya, guyon dengan para pemain, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Tak heran, pemain-pemain Arema lebih ceria ketika sosok Kuncoro hadir dalam sesi latihan. Bahkan, saking dekatnya dengan Juan Revi dkk, pemain Arema tidak pernah marah saat digojlok oleh mantan pemain belakang klub berlogo singa itu. Begitu juga sebaliknya, Kuncoro tidak pernah ngamuk ketika dikerjai oleh para pemain Arema.
Kuncoro masa kini, juga dikenal sebagai penggiat ibadah. Dia taat salat dan mengaji. Sifatnya yang humoris dan hangat serta agamis, jelas jauh berbeda ketika dia masih aktif bertanding di kompetisi resmi, baik sebagai pemain Arema, maupun klub lain. Temperamen yang meledak-ledak, permainan yang keras dan tak jarang kasar pada pemain lawan, adalah gaya yang sangat melekat pada Kuncoro.
Akibat gaya bermainnya, Kuncoro mendapat dua julukan utama, yakni Tukang Jagal dan Raja Kartu. Tukang Jagal disematkan karena dia sangat sering menghancurkan lawan, secara fisik dan mental. Dia hampir selalu menghancurkan mental lawan, terutama penyerang yang ingin melewati pertahanan Arema.
Raja Kartu adalah julukan yang secara otomatis menempel. Pasalnya, Kuncoro sering jadi sasaran wasit yang menghukum aksi kerasnya di atas lapangan. Pemain yang membawa Arema juara 1992-1993 itu pun bercerita, mempertahankan lini belakang agar tidak kecolongan adalah prioritas utamanya, meskipun dia harus memakai segala cara.
Ia menyebut, asisten pelatih Arema lainnya I Made Pasek Wijaya yang juga terhitung sebagai legenda sepak bola Indonesia, merasakan kegarangannya di atas lapangan ketika aktif main. Made Pasek adalah andalan Pelita Jaya untuk membobol pertahanan lawan. Dia cepat dan punya crossing mematikan. Tapi, Made Pasek harus berganti posisi demi menghindari Kuncoro yang mengincarnya.
“Saat Arema lawan Pelita Jaya, Made Pasek posisi sayap dan main sangat cepat serta pakai teknik. Tapi, dia harus berhadapan dengan saya. Saat mendekat, saya terjang, sikat sekaligus sikut. Begitu kena, dia langsung pindah ke sisi sayap sebelah, hehe,” kata Kuncoro sembari terkekeh kepada Malang Post.
Bambang Nurdiansyah, striker legendaris yang juga pernah membela Pelita Jaya, sempat diterjang oleh Kuncoro. Walaupun Banur, sapaan akrabnya, saat itu dihormati sebagai striker senior, Kuncoro muda tidak peduli. Dia tidak segan menerjang bahkan menjegal keras Banur yang berusaha melewatinya.
“Banur pernah menghadapi saya. Dia pun saya terjang dan jegal. Dia marah, dan bilang sesama Malangan kok njegal. Saya tidak peduli. Beda kostum ya beda, hehehe. Begitu saya ketemu beliau ketika sudah sama-sama jadi pelatih, saya dimarahi karena dulu mainnya keras sekali,” sambung Kuncoro, tertawa.
Selain keras dan garang, Kuncoro juga pernah jatuh dalam dunia gelap ketika menjadi pemain Niac Mitra Surabaya. Pemain yang membawa juara PSM Makassar tahun 1999/2000 itu terpengaruh lingkungan glamor karena mulai mendapat uang yang banyak ketimbang saat berkostum Arema yang masih kere.
Narkoba, menjadi konsumsi Kuncoro. Dia mengenal ekstasi dan sabu-sabu di diskotik Surabaya. Ia masih memakai narkoba bahkan setelah pindah dari Niac Mitra ke PSM Makassar. Puncak kejatuhan Kuncoro di dunia sepak bola, terjadi ketika overdosis di ruang ganti pada saat menghadapi Gresik Petrokimia, April 2000.
Mulut Kuncoro berbusa saat masuk ruang ganti jeda pertandingan. “Badan saya terasa melayang saat mau masuk ruang ganti untuk persiapan babak kedua. Mulut berbusa dan saya tidak sadarkan diri,” tuturnya. Akibatnya, dia harus diboyong ke RS dr Soetomo Surabaya. Malam hari sebelum laga, dia dinyatakan pesta sabu dengan rekan-rekannya.
Kuncoro menggegerkan dunia sepak bola dengan kasus ini dan sempat disanksi tak boleh main hingga kompetisi berakhir. Namun, peristiwa overdosis inilah yang jadi titik balik kehidupan Kuncoro. Ia mulai meninggalkan narkoba dan mendalami agama, lewat guru agama serta spiritual di kampung halamannya Gondanglegi.
Meskipun temperamennya masih sering lepas, Kuncoro mulai menapaki hidup yang lebih baik. Dia sukses bangkit dari keterpurukan dan kini mengabdi di Arema. Dia pun memberikan hidupnya buat tim yang pernah dibesarkannya pada era Galatama. Bahkan, selama masih kuat, Kuncoro akan sepenuh hati mengabdi buat Arema.
Andai dicoret sebagai asisten pelatih pun, Kuncoro tidak akan berhenti datang ke latihan Arema. Sambil setengah bercanda, pelatih yang sangat dekat dengan Joko “Gethuk” Susilo ini mengaku siap dikontrak seumur hidup di Arema. “Walaupun saya dicoret, saya akan tetap datang latihan. Saya kan tahu alamat bos, tahu alamat kantor Arema, tahu alamat tempat latihan. Saya akan tetap datang kok, hehe,” tutup Kuncoro.(fino yudistira/han)