Belajar di Bali, Tak Khawatir Karyawan Jadi Kompetitor

Meninggalkan bangku sekolah saat masih remaja, Ahmad Syamsudin justru merengkuh keberhasilan. Perajin lampion berusia 28 tahun ini sukses menjual karyanya hingga ke luar negeri. Ia juga  memberdayakan pemuda di kampungnya di Jalan Juanda, Gang V, Kota Malang.

Kisah Ahmad berawal pada tahun 2004. Kala itu, dia memilih  meninggalkan bangku kelas 8 MTs Dahrul Solihin, Kotalama. “Saya hanya ingin kerja,” ucap pria berambut gondrong ini tentang alasan keluar dari sekolah.
Ahmad remaja memilih, Denpasar,  Bali sebagai tempat tujuan pasca berhenti sekolah. Di Pulau Dewata, ia bekerja pada seorang perajin lampion. “Namanya Pak Anas, sekarang almarhum. Tapi saya tidak ingat siapa nama lengkapnya,” terang ayah dua anak ini.
Bekerja sebagai perajin lampion, Ahmad tak sekadar jadi pekerja. Ia juga memilih menjadi pembelajar sekaligus mengasah kreativitas. Sempat berpindah ‘juragan’ pasca Anas meninggal dunia, Ahmad akhirnya pulang kampung, ke Kota Malang setelah empat tahun belajar lampion.
Dari Jalan Juanda, Gang V, ia mulai merintis usaha kreatif produksi lampion. Awalnya buah tangan lampion dijual sendiri di Pasar Tugu hingga emperan. Berjualan tanpa tempat usaha, pria ramah ini tetap gigih.
Hingga tahun 2012, berkenalanlah  ia dengan seorang dari Jakarta. Saat itu menjadi titik kebangkitan kreativitas Ahmad. Bagai menemukan jalan, akses pemasaran lampion terbuka lebar. Sejumlah kota besar di Indonesia jadi tujuan pemasaran. Pemesanan pun datang silih berganti. Sekarang karyanya diminati di Jakarta, Makassar, Manado, Palembang, Surabaya hingga luar negeri.
“Pesanan dari luar negeri seperti Italia, Brasil dan Arab,” katanya. Di Italia dan Brasil, kata Ahamd, lampion buah tangannya digunakan untuk ornamen  pesta kebun. Rata-rata pengiriman sebanyak 100 unit lampion. “Baru saja saya kirim ke Brasil dan Italia, jumlahnya 100. ya kirim berdasarkan pesanan,” sambungnya.
Lampion karyanya sudah dikenal, bahkan identik dengan tangan Ahmad. Sejumlah bentuk atau desain hiasan berbahan baku kertas warna warni dengan rangka rotan dan dihiasi nyala lampu itu seperti bola, oval, silinder, bola tumpuk  hingga zig-zag.
Sudah menembus pasar global, Ahmad tidak ingin berspekulasi. Ia memproduksi lampion hanya sesuai permintaan atau pesanan pembeli, sedangkan untuk pengiriman ke luar negeri melewati jaringan pertemanan. Saat menjelang Imlek seperti sekarang menjadi hari-hari sibuk Ahmad. Jumlah pemesanan meningkat siginifikan. Jika pada hari-hari biasa ia menghasilkan 50 lampion dalam aneka bentuk, kini bertambah menjadi 100 lampion per hari.
Untuk memenuhi permintaan pasar yang sedang meningkat, ia tak bekerja seorang diri. Ahmad melibatkan generasi muda di Jodipan Gang V. Jumlahnya sekitar delapan orang. “Selain anak-anak sini, ya ada juga keluarga,” jelas dia.  
Kendati sebagai pemilik usaha kreatif, Ahmad tak memposisikan diri sebagai bos. Ia bahkan merasa asing jika dipanggil bos. “Di sini tidak ada bos, tidak ada karyawan. Semuanya sama, ha ha ha,” ucapnya merendah.
Ia sengaja melibatkan generasi muda di kampungnya, Ahmad ingin generasi muda memiliki usaha kreatif sepertinya. Karena itu dia kerap memberi dorongan agar yang bekerja bersamannya memiliki usaha seperti dirinya.
“Saya ingin memberdayakan teman-teman sesama generasi muda,” tandasnya. Karena tujuan baiknya itulah dia tak khawatir mendapat kompetitor baru yang dibikinnya sendiri. “Di sini kita sama-sama. Ya sama-sama berusaha,” sambungnya.
Tak hanya berburu pendapatan yang menjadi tujuannya, tapi keberhasilan sesama generasi muda membuat usaha kreatif lampion menjadi tujuannya. Karena itulah, ketika anak-anak muda Jalan Juanda Gang V mulai pandai membuat lampion, di situ pula dia merasa menikmati usahanya. “Selain ingin memberdayakan sesama teman-teman, ya bagi-bagi  rezeki,” kata dia.
Agar sesama generasi muda terlibat dalam pembuatan lampion ataupun belajar, proses produksi dilakukan di tempat terbuka. Contohnya di teras rumahnya. Hasil karya pun dipajang di teras maupun ruang tamu. Seperti kemarin siang, tiga anak muda Jalan Juanda Gang V serius mengerjakan lampion. Duduk di teras rumah, tangan mereka lincah memasang kertas di kerangka lampion. Sedangkan di sisi lain, pemuda lain sibuk memasang rotan di atas kerangka sebelum membalut dengan kertas sehingga menjadi lampion utuh.
Membuat lampion sebenarnya bukan pekerjaan mudah. Selain harus kreatif dan memiliki imajinasi tinggi, untuk mengkreasi bentuk, ketekunan dan kesabaran menjadi syarat utama. Apalagi memasang kerangka dan menempelkan kertas di kerangka tak dilakukan secara asal-asalan. (van/han)