Awalnya Iseng, Dapat Juara, Sekarang Menjadi Hobi

Ipda Budi Djoenaidi S, Kanit Lakalantas Polres Malang Kota sehari-hari bertanggung jawab terhadap kasus kecelakaan yang terjadi di Kota Malang. Namun di balik kesibukannya, ia masih bisa menjalankan hobi yang jarang sekali ‘disukai’ anggota polisi lain, yaitu membuat karya ilmiah.
 Melihat penampilannya, memang tidak ada yang istimewa dari sosok Ipda Budi Djoenadi S. Penampilan yang low profile serta tidak banyak omong seolah menutupi profesinya. Namun sorotan matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia tegas dalam menangani masalah.
Di balik kesibukannya sebagai polisi, pria yang akrab dengan panggilan Pak Djoen ini, ternyata masih menyempatkan waktu untuk membuat karya ilmiah. Dari beberapa karya ilmiah yang dihasilkan, tiga di antaranya mendapat apresiasi dan terpilih sebagai juara di tingkat Polda Jatim.
Pertama pada tahun 2000. Saat itu ia masih sebagai anggota Satlantas di Polwil Malang (sebelum dilikuidasi pada tahun 2010). Ia mendapat amanah dari pimpinan untuk membuat karya ilmiah, yang akan dilombakan dalam rangka peringatan HUT Bhayangkara. Pak Djoen, ditunjuk untuk mewakili fungsi Satlantas.
“Saat ditunjuk, saya sama sekali tidak tahu bagaimana cara membuat karya ilmiah. Namun karena itu perintah, saya siap saja,” kata Budi Djoenaidi S.
Untuk membuat karya ilmiah, ia lalu belajar dengan membaca bebeberapa buku. Kendati baru belajar dan berawal dari iseng, tetapi ia ingin karya ilmiah yang dibuatnya menjadi sebuah karya terbaik. Butuh waktu sekitar tiga hari untuk menyelesaikannya. Setelah tercipta, karya ilmiah itu langsung diserahkan kepada pimpinan.
Sebelum diikutkan lomba di tingkat Polda Jatim, karya ilmiahnya terlebih dahulu diseleksi oleh Kapolwil Malang, yang saat itu dijabat oleh Kolonel Ariyanto Sutadi. Ada sekitar 30 karya ilmiah milik anggota yang diseleksi. Namun hanya karya milik Pak Djoen yang dikirim untuk diikutsertakan lomba tingkat Polda Jatim.
“Waktu itu, Kapolwil mengatakan jika jurinya jujur, karya ilmiah saya akan mendapat juara. Beliau (Kapolwil, red) bisa menilai karena suka membaca buku dan karya ilmiah saya dinilai sangat bagus,” ujarnya.
Ternyata memang benar. Setelah melalui penelitian serta penjurian, karya ilmiah Pak Djoen mendapat juara satu tingkat Polda Jatim. Dari awalnya iseng namun mendapat apresiasi itu, akhirnya Pak Djoen mulai menyukai membuat karya ilmiah. Pada 2003, ia kembali mengikuti lomba karya ilmiah tingkat Polda Jatim, juga saat peringatan HUT Bhayangkara. Lagi-lagi, setelah melalui seleksi panjang, karya ilmiahnya mendapat penghargaan sebagai juara dua tingkat Polda Jatim.
Sayang setelah 2003, selama tujuh tahun lomba karya ilmiah tingkat Polda Jatim vakum. Lomba karya ilmiah kembali diadakan pada 2011. Saat itu, Pak Djoen sudah menjadi anggota di Satlantas Polres Malang Kota, yang dipimpin Kapolres Malang Kota AKBP Agus Salim. Berbekal pengalaman sebelumnya, ia kembali ikut lomba karya ilmiah.
Judul karya ilmiah kali ini adalah ‘ Perubahan Budaya Anggota Polri Sebagai Pelayan/Abdi Negara’. Isinya, dalam rangka pelaksanaan perubahan budaya anggota Polri sebagai pelayan/abdi negara, serta untuk penguatan institusi sebagai peneguhan langkah perubahan budaya, maka Polri harus memiliki visi serta misi.
Visinya, bersama masyarakat menciptakan dan memelihara keamanan dalam negeri. Sedangkan misinya, memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat sehingga mendorong gairah kinerja masyarakat, guna tercapai suatu kondisi kesejahteraan masyarakat dengan doktrin yang dianut kembali pada ‘Tata Tentrem Kerta Raharja’.
“Pengertiannya, untuk mencapai suatu masyarakat yang sejahtera (Raharja), dibutuhkan gairah kerja atau berkarya dari masyarakat (Kerta). Hal ini dapat tercapai bila masyarakat memiliki rasa aman dan nyaman (Tentrem) baik di rumah, jalan maupun di tempat kerja. Dan ini harus terdukung oleh suasana yang kondusif, baik masyarakat yang benar-benar tertib dan patuh akan hukum atau aturan yang berlaku (Tata),” terang bapak dua anak ini.
Tidak hanya itu, dalam karya ilmiahnya, Pak Djoen yang menjadi polisi angkatan 1986-1987 ini, juga menyinggung supaya polisi menjadi pelayan yang baik, maka harus diawali dari pimpinan. Seorang pimpinan harus bisa memberikan pelayanan kepada anggotanya. Dengan begitu, maka budaya pelayanan akan turun temurun kepada anggota untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Hasil karya ilmiah saya itu, ternyata juga kembali mendapat penghargaan sebagai juara dua. Penghargaannya berupa piagam serta uang. Dari sinilah, akhirnya saya mulai hobi membaca dan membuat karya ilmiah ketika ada waktu yang luang,” tuturnya.(agung priyo/han)