Lebih Dekat Dengan Koeboe Sarawan Pelukis Asal Kota Batu

Kawasan Malang Raya bertaburan seniman di bidang seni rupa dan lukisan. Salah satunya adalah Koeboe Sarawan pelukis asal Kampung Hendrik Jl. Darsono Barat 12, No. 27, Kota Batu. Tak sekadar melukis, Koeboe juga berjasa bagi masyarakat yang sering berkirim surat, karena karya desainnya diluncurkan oleh PT Pos Indonesia.


Koeboe demikian biasa disapa, telah memiliki bakat menjadi seniman sejak dari lahir. Sebab, menurut pengakuannya, sejak kecil suka iseng-iseng menggambar di lantai dan tembok. “Ketika kecil, saya sudah sering memberikan gambar di tembok dan lantai atau kertas kosong yang ada di depan mata saya,” ujarnya mengawali cerita.
Dia pun semakin menyukai seni melukis karena ketika kecil sering melihat ibu dan neneknya membatik. Konon, ibu dan neneknya seorang pembatik dan kakekanya seorang dalang. Hingga lulus SMA, dia memutuskan untuk mengambil sekolah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
“Bisa disebut saya sebagai keluarga seniman. Ibu, kakek dan nenek hidup dikelilingi kegiatan seni. Selain itu ketika SD, ada guru yang menginspirasi dan membuat saya gemar melukis. Saya pun tidak sadar sudah mengikuti jejaknya,” terang pria kelahira 1961 tersebut.
Dia menambahkan, ketika masih anak-anak dan mulai beranjak dewasa tadi, pria berusia 53 tahun ini selalu mendapatkan motivasi. Meski pun, beberapa kerabat merasa pesimis ketika melihat ketertarikannya untuk menjadi pelukis. Namun, dari hasil yang dia hasilkan selama ini, telah membuat beberapa orang yang mendukungnya bangga. “Motivasi itu datang dari orang tua dan Pak Darso sebagai guru SD saya yang selalu mendukung,” tegasnya.
Dia menjelaskan, perjalanan panjang dalam dunia melukisnya juga sempat membuat bapak tiga anak ini tidak menyelesaikan pendidikan di ISI.  Alasannya, ketika menjadi mahasiswa dia sudah mendapatkan pesanan banyak lukisan, dan waktu belajarnya tersita.
Koeboe mengakui perjalanan cukup panjang untuk mendapatkan pengakuan. Apalagi, beberapa karyanya didominasi pada aliran realisme, yang cenderung menampilkan suasana mencekam dan sepi. Untuk menjadi seniman dengan aliran realis, dibutuhkan penguasaan teknik realisme dengan baik.
Menurutnya, saat proses pembuatan lukisan sering mendapatkan gagasan atau ide yang mendadak dan diterjunkan kedalam kanvas. Lalu diekspresikan, mengalir santai seakan-akan lukisan tersebut dapat berdialog. Hasilnya, karya Koeboe sering dianggap mampu berbicara.
Untuk mendapatkannya, pria ramah ini mengakui suka berpetualang, misalnya keliling hutan dan berbagai pegunungan. Pernah, untuk inspirasi melukis dia mencapai pegunungan Tibet. Ide yang mahal untuk menghasilkan karya yang sensasional.
“Awalnya saya memfoto terlebih dahulu, lalu membuat sketsa tidak langsung. Untuk karya ini, butuh proses yang lama, mencapai enam bulan,” papar dia  lantas tersenyum.
Kariernya sebagai seniman yang memiliki karya bagus pun mendapat pengakuan dari berbagai kalangan. Misalnya Dr. Heicov Van Ten Han, yang merupakan pecinta seni asal Belanda dan membuat namanya melejit. Termasuk dengan pelukis lain di Malang Raya hingga di tanah air.
Begitu dirasa cukup dengan karyanya, Koeboe menyiapkan pameran di luar pulau bersama rekannya. Bali dipilih, karena menawarkan penikmat seni yang beragam. Selain orang Indonesia, banyak pecinta seni dari luar negeri. Hasilnya, seniman dan karya yang ditampilkan membuat yang wisatawan asing tertarik untuk mendatangkannya ke luar negeri. Termasuk ke Tibet, tempat dia memiliki inspirasi untuk melukis.
“Saya pameran di luar negeri, seperti Tibet dengan karya nuansa Tibet. Lukisan lebih ke arah spiritual, dan memadukannya dengan kebudayaan setempat,” papar dia panjang lebar.
Koeboe menuturkan, seiring dengan seringnya dia membawa nama Indonesia untuk mengikuti pameran di luar negeri, PT Pos Indonesia pun meliriknya. Alumnus SMAN 1 Malang ini menjadi salah satu pendesain perangko mulai tahun 2003. Perangko tersebut, sering diciptakan dengan nuansa hari besar yang dirayakan di Indonesia. Misalnya kemerdekaan atau hari raya Idul Fitri.
Menurutnya, untuk desain perangko tersebut, Koeboe akan sedikit mendapat penjelasan mengenai tema dari PT Pos Indonesia. Setelah itu, dia bebas mengimajinasikan tema yang sudah diberikan. Diakuinya, mendesain perangko berbeda dengan melukis. Alasannya, dia akan mendapatkan jadwal atau deadline yang ketat. Padahal terkadang butuh inspirasi lebih agar desain perangko semakin bagus.
Di samping itu, sesuai dengan pengakuannya, dia juga pernah membuat desain perangko untuk Negara di ASEAN. Mulai dari Laos, Thailand, Singapura hingga Filipina. Terbaru, dia baru saja menyelesaikan perangko bertema pasar bebas ASEAN. Menurutnya, karya tersebut dia harus memadukan 10 ikon dari setiap negara peserta dalam satu lukisan.
“Ini karya besar yang susah dan mesti pandai mengolaborasikan harmonisasi ketika melukisnya,” pungkas dia.(stenly rehardson/ary)