Flynas Rasa AirAsia, Jamaah Bertakbir Saat Ada Guncangan Keras

Alhamdulillah, Muhaimin wartawan Malang Post bersama rombongan Ketua TP PKK Kota Malang, Hj. Dewi Farida Suryani dan jamaah umrah Agung Wisata sebanyak 158 orang, sudah kembali ke Bhumi Arema pada Rabu (14/1/15) lalu, setelah melaksanakan ibadah umrah selama 10 hari di dua tanah suci, Makkah Al Mukaromah dan Madinah Al Munawwarah. Setiap kali perjalanan umrah, selalu ada cerita tersendiri.

Senin (5/1) lalu, menjadi saat yang saya nanti-natikan dalam sejarah hidup saya. Meski bukan kali pertama melaksanakan ibadah umrah, tapi keberangkatan umrah kali menjadi momen yang medebarkan, seperti kali pertama saya berangkat umrah tahun 2010 lalu.
Terakhir kali, saya menginjakan kaki di tanah suci Makkah Almukaramah pada tahun 2012. Dua tahun tidak merasakan ibadah di tempat yang penuh dengan kemuliaan dan rahmat itu, rasa kangen sangat menderu dalam hati. Kerinduan akan Baitullah, kerinduan akan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW sudah tidak tertahankan.
Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya dapat berangkat umrah ke tanah suci bersama rombongan Ketua TP PKK Kota Malang, Hj. Dewi Farida Suryani yang tergabung dalam Agung Wisata bersama 158 jamaah. Kami diberangkatkan dari kantor Agung Wisata yang ada di Jalan WR Supratman Malang oleh Wali Kota Malang, H. Moch Anton yang saat itu, juga mengantarkan keberangkatkan istrinya untuk melaksanakan ibadah umrah. Dengan iringan doa yang dibawakan Ust. H. Athoillah dan KH. Dahlan Thamrin, kami bersama rombongan bertolak ke Bandara Internasional Juanda dengan mengendarai empat bus pariwisata.
Sesuai rencana, kami akan berangkat ke Madinah dengan penerbangan direct menggunakan maskapai Flynas dari Surabaya langsung ke Madinah, sekitar jam 17.00 WIB. Sebelum berangkat, saya sempatkan diri untuk mengenal lebih banyak tentang maskapai Flynas. Nama maskapai itu masih terbilang baru dalam pengetahuan yang saya miliki. Karena itu, saya rajin searching di dunia maya untuk mengetahui semua yang terkait Flynas. Tiga kali melaksanakan ibadah umrah sebelumnya, saya selalu menggunakan maskapai Royal Brunei.
Dari hasil penelusuran dunia maya, saya akhirnya mengetahui jika Flynas merupakan maskapai nasional kedua Arab Saudi yang baru membuka layanan penerbangan Surabaya-Madinah, sejak 13 April 2014. Penerbangan ini lebih banyak membidik jamaah umrah dari Jawa Timur.
Hanya saja, saya dan rombongan harus bersabar terlebih dahulu. Rencana penerbangan yang seharusnya sekitar jam 17.00 WIB harus delay sekitar 1 jam. Di ruang tunggu bandara, kami mendapatkan makan nasi kotak plus minum, dispensasi atas keterlambatan pesawat. Waktu mendekati jam 18.00 WIB, kami diperkenankan masuk ke dalam pesawat. Saat mendekat ke pesawat, saya bersama jamaah lain, sempat dikejutkan dengan gambar bendera yang tertera di depan pesawat Flynas yang akan kami naiki. Bukan gambar bendera Arab Saudi, tapi gambar bendera Malasyia. Badan pesawat di dominasi warna merah, tapi ada tulisan Flynas besar di badan pesawat Airbus A330-300 yang menggunakan mesin General Electric CF6-80E, Pratt & Whitney PW4000 atau Rolls-Royce Trent 700 itu.
Ternyata bukan hanya saya saja yang mencari tahu tentang maskapai Flynas, sebelum berangkat umrah. Tidak sedikit jamaah yang juga mencari banyak referensi tentang maskapai itu. Tidak hanya gambar bendera di depan badan pesawat saja yang membuat kami bertanya-tanya, saat masuk ke dalam kabin, kami juga melihat banyak tulisan AirAsia di kursi pesawat, kain korden pembatas kelas bisnis dengan ekonomi, juga di petunjuk keselamatan penerbangan yang ada di masing-masing tempat duduk, semuanya bertuliskan AirAsia. Kami tidak sendiri, puluhan jamaah dari beberapa travel lain pun menumpang Flynas.
Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, mengapa pesawatnya bertuliskan AirAsia, padahal maskapainya Flynas. Mungkin ini Flynas rasa AirAsia. Ya, Flaynas menawarkan konsep Low Cost Carrier Plus (LCC+) untuk perjalanan udara internasional yang terjangkau dengan nilai tambah. Karena itu tidak ada fasilitas multimedia yang  dapat saya nikmati selama hampir 11 jam perjalanan dari Surabaya menuju Madinah. Baik untuk sekadar menikmati hiburan MP3 pengajian yang biasanya saya nikmati dalam perjalanan menggunakan maskapai lainnya, atau sekadar menonton film untuk hiburan mengusir penat selama berada di udara.
Tidak adanya fasilitas multimedia di pesawat, memberikan banyak kesempatan saya untuk banyak membaca buku terkait ibadah umrah atau mengingat doa-doa penting dalam melaksanakan ibadah umrah nantinya. Sisa waktunya, saya pergunakan untuk tidur, beristirahat dengan harapan bisa segera menginjakan kaki di tanah suci para nabi.
Hanya, baru sekitar perjalanan satu jam di atas udara, cuaca buruk sempat kami alami. Beberapa kali terasa getaran pesawat, bahkan getaran sempat terasa cukup keras yang membuat sebagian penumpang bertakbir dan berdoa cukup keras. Dari pengeras suara pun disampaikan jika cuaca saat itu sedang kurang bagus.
Alhamdulillah, kami bisa melalui itu semua dan menikmati penerbangan hingga mendarat dengan mulus di Bandar Udara Prince Mohammad Bin Abdulaziz di Madinah sekitar jam 24.00 waktu setempat. Kami disambut dengan cuaca yang sangat dingin mencapai 11 derajat celcius. Hawa dingin yang kami rasakan setelah keluar dari pintu pesawat sangat terasa. Bus mengantarkan kami ke terminal kedatangan untuk cek imigrasi dan ambil bagasi. Usai mendapati bagasi dan melalui x-ray bandara, kami langsung masuk ke dalam bus yang siap membawa kami ke hotel tempat menginap selama di Madinah.
Meski cuaca dingin, udara tanah suci kami hirup dalam-dalam untuk mengobati kerinduan untuk segera sowan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, di Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat makam nabi bersama dua sahabat, serta Raudhah yang menjadi tempat mustajab untuk berdoa. (muhaimin/han/bersambung)