Malang Post Umrah Bersama Ketua TP PKK Kota Malang (1)

Umrah saya bersama rombongan jamaah Agung Wisata selama 10 hari lalu, bertepatan dengan saat musim dingin di Arab Saudi. Di Madinah, kami disambut dengan cuaca dingin mencapai 11 derajat celcius, yang menjadi tantangan tersendiri bagi saya dalam melaksanakan ibadah di kota nabi, di tengah perluasan Masjid Nabawi yang dilakukan pemerintahan Kerajaan Arab Saudi.

Serangan hawa dingin dengan embusan angin yang kencang saya alami sejak menapakkan kaki di Prince Mohammad bin Abdulaziz International Airport di Madinah, setelah berada di udara hampir selama 11 jam dengan maskapai Flynas dari Bandara Internasional Juanda.
Selain cuaca dingin, kelembaban udara yang rendah, tiupan angin yang terasa kering sangat terasa sampai menusuk ke tulang, meski saya sudah mengenakan jaket tebal. Saat malam, angin berhembus semakin kencang. Apalagi, saya bersama rombongan sebanyak 158 jamaah masuk Kota Madinah pada dini hari, sekitar jam 02.00 waktu setempat.
Meski hawa dingin sangat terasa, tidak menyurutkan saya untuk bergegas sowan ke Kanjeng Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi. Untungnya, hotel yang kami tempati di Holliday Villa Madinah jaraknya cukup dekat, hanya sekitar 150 meter dari Masjid Nabawi. Air panas menjadi andalan untuk membersihkan diri, sebelum beranjak ke masjid yang di dalamnya terdapat makam Nabi Muhammad SAW.
Hawa dingin saya terjang untuk bisa sampai di Masjid Nabawi. Beruntung, pintu depan masjid sudah dibuka. Saya tidak harus memutar menuju pintu Babussalam untuk bisa masuk ke dalam masjid menuju Raudhah yang sudah penuh sesak dengan jamaah yang ingin berdoa atau beribadah di atas karpet hijau.
Raudhah dianggap sebagai taman-taman surga, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah. Rasulullah bersabda, “Di antara rumah dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga, dan mimbarku di atas telagaku”. Para ahli hadits menafsirkan taman surga  sebagai tempat Allah SWT menurunkan rahmat dan kebahagian-Nya karena dilakukan zikir serta pemujaan kepada Allah.
Lokasi ‘taman surga’ ini merupakan bagian dari shaf laki-laki, hanya terbuka untuk perempuan di jam tertentu, saat dhuha dan setelah shalat dhuhur. Bukan hal yang mudah untuk bisa memasuki Raudhah. Luasnya yang hanya 144 meter persegi tak sebanding dengan jutaan jamaah yang berebut ingin masuk ke sana.
Untuk dapat masuk ke dalam Raudhah ini kita harus berebut dengan para jamaah lain dan saling berdesak-desakan. Ketika sudah berhasil memasuki Raudhah para jamaah memanfaatkan kesempatan ini dengan menunaikan salat sunnah, berdoa dan membaca Alquran. Raudhah diyakini sebagai salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa. Keistimewaan itulah yang membuat tempat yang hanya memiliki ukuran 22 x 15 meter  dengan warna karpet hijau ini selalu disesaki oleh jamaah yang ingin beribadah di dalamnya. Kesempatan itu saya gunakan sebaik-baiknya untuk berdoa dan menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad SAW, baik dari saya, keluarga, dan semua teman serta sahabat yang menitipkan salam kepada Nabi.
Hawa dingin yang ekstrem itu bisa menjadi godaan atau berpotensi mengganggu kelancaran beribadah, khususnya akan berpengaruh pada kondisi kesehatan. Saya sempat mengalami bibir pecah-pecah, kulit bersisik dan gatal-gatal. Rasa gatal hampir saya rasakan di bagian tangan dan kaki dan sangat mengganggu saat iktikaf di masjid dalam waktu yang cukup lama.
Saya gunakan madu yang ada di restoran untuk mengobati bibir pecah, khususnya saat akan tidur. Untuk gatal-gatal, saya sudah menyiapkan krim pelembab yang saya bawa dari rumah. Krim itu sebenarnya hanya untuk muka, tapi saya gunakan untuk seluruh badan. Hasilnya, gatal-gatal di kulit dapat berkurang drastis. Gangguan gatal-gatal tidak hanya saya rasakan, hampir sebagian besar jamaah merasakan gangguan yang sama. Bahkan, sampai ada yang timbul bintik-bintik merah karena rasa gatal yang sangat di sebagian kulit kakinya.
Kendati gangguan gatal-gatal dan bibir pecah-pecah cukup mengganggu, tapi tidak menghalangi saya untuk tetap beribadah di Masjid Nabawi, khususnya saat salat fardhu dan qiyamul lail.  Menurut riwayat Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Salat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1.000 kali dibanding shalat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram dan salat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali salat daripada masjid lainnya,”. Keutamaan ini yang sayang kalau dilewatkan satu waktu pun.
Musim dingin di Madinah juga tidak menghalangi jutaan jamaah umrah untuk mendatangi kota Nabi ini. Buktinya, masjid yang mampu menampung lebih dari 1,6 juta jamaah ini selalu padat, saat salat rawatib dan malam hari.
Kerajaan Arab Saudi tengah memperluas kapasitas jamaah yang selalu bertambah, khususnya saat musim haji tiba. Tidak hanya di Masjidil Haram, Masjid Nabawi pun diperluas. Sedikitnya 50 hotel yang berada dalam radius 650 meter dari Nabawi akan dirobohkah paska musim haji tahun lalu. Saya melihat bangunan itu sudah roboh. Beberapa hotel di sekitar pemakaman Baqi yang berada di timur Masjid Nabawi, dari pantauan sudah banyak yang dirobohkan. Jumlah hotel yang akan dirobohkan akan bertambah banyak.
Perluasan masjid itu direncanakan akan tuntas pada tahun 2020 mendatang. Satu demi satu gedung-gedung di sekitar Masjid Nabawi diruntuhkan. Sebagian digunakan untuk perluasan masjid, sebagian lagi untuk infrastruktur kereta Makkah-Madinah yang sedang digarap pemerintah Arab Saudi. Beberapa alat berat sedang memindahkan dan meratakan puing-puing bongkahan bekas bangunan hotel tersebut. Sementara ratusan pekerja hilir mudik menggarap proyek tersebut. Padahal, ada hotel yang baru beroperasi dua tahun, tapi langsung dihancurkan.
Menurut Syafik, mukiman yang sudah lama di Makkah, Raja di Arab Saudi sangat bijak. Bangunan yang dibongkar dikenakan ganti untung. Ganti untung yang diterima pemilik bangunan, tidak hanya menghitung tanah dan bangunannya saja, tapi menghitung keuntungannya dalam satu tahun dikali dua. Jadi pemilik bangunan tidak merasa dirugikan. (muhaimin/bersambung)