Malang Post Umrah Bersama Ketua TP PKK Kota Malang /habis)

Usai berada di Madinah selama empat hari, Muhaimin, wartawan Malang Post yang melaksanakan umrah pada 5 Januari lalu, menuju Makkah Almukaramah untuk melaksanakan umrah. Kerinduan akan Baitullah sudah tidak terbendung, dengan pakaian ihram yang sudah dikenakan mulai dari Madinah dengan mengambil Miqot di Masjid Dzulhulaifah atau  Masjid Bir'aliy, menuju Baitullah. Labbaik Allhumma Umrota.

Melalui jalan darat, saya bersama rombongan Ketua TP PKK Kota Malang, Hj. Dewi Farida Suryani dan rombongan Agung Wisata, menuju Kota Makkah. Perjalanan darat Madinah-Makkah harus kami tempuh hampir selama enam jam. Kami berangkat dari Masjid Dzulhulaifah sekitar jam 16.00 waktu setempat, dan sempat istirahat di salah satu restoran Indonesia untuk menikmati makan malam, sebelum tiba di Makkah untuk melaksanakan umrah.
Pesona dan kemegahan Masjidil Haram saat malam hari, sudah bisa dilihat dan dirasakan dari jauh. Jam raksasa yang berada tepat di puncak Tower Zamzam menjadi ciri khasnya. Bagi jamaah dari Indonesia indahnya gemerlap lampu Kota Makkah dan pancaran cahaya warna-warni dari jam raksasa dan menara Masjidil Haram mampu membawa suasana keharuan tersendiri.  Rasa bangga menjadi orang pilihan sebagai tamu Allah tentu menjadi momentum terindah yang sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Gemerlap lampu bercampur dengan puluhan crane pencakar langit yang mengelililingi Masjidil Haram menjadi pemandangan setiap harinya saat ini. Ratusan alat berat dan ribuan pekerja tampak terlihat tengah mengerjakan perluasan Majidil Haram.
Renovasi dan pembongkaran Masjidil Haram telah mengubah kondisi di sekitarnya. Salah satu dampak dari pembongkaran itu adalah daya tampung masjid yang berkurang, dari 42 ribu jamaah per jam menjadi 22 ribu per jam. Masjid yang memiliki banyak keutamaan itu makin sempit, banyak jalan berkelok dan banyak juga jalan yang ditutup. Jika tahun 2012 lalu, sehabis tawaf saya bisa langsung menuju tempat sa'i dengan mudah, hanya perlu berjalan lurus dari lampu hijau, tetapi sekarang mesti menempuh jalan yang berbelok-belok.
Gerbang King Abdulaziz, salah satu gerbang utama menuju ke Masjidil Haram ditutup saat proyek perluasan masjid yang sedang berlangsung. Padahal pintu ini yang menjadi pintu utama bagi jamaah yang berasal dari sekitar Ajyad, Jarwal dan sekitarnya. Sekarang, jamaah harus masuk melalui pintu-pintu kecil yang ada di sebelah Gerbang King Abdulaziz. Saya pun sempat bingung saat keluar dari masjid, usai melaksanakan umrah. Karena hanya ada satu jalur untuk keluar ke arah sekitar Ajyad.
Serambi lama Masjidil Haram yang merupakan peninggalan masa khalifah Turky Ustmani yang telah ada sejak abad ketujuh belas, juga tidak luput dari penghancuran untuk perluasan masjid. Akibat proyek perluasan mataf (tempat tawaf),  tempat tawaf pun menjadi semakin padat karena seluruh jamaah melakukan tawaf di pelataran Kakbah. Selain itu, banyaknya pembatas proyek pun membuat mataf semakin kecil dan sempit, meski sudah ada tempat tawaf sementara yang dibangun dua tingkat. Tempat untuk melakukan salat sunat tawaf pun sulit dan harus ke dalam mendekati tempat sa'i karena hampir seluruh pelataran Kakbah digunakan untuk tawaf.
Dari informasi yang saya terima, tempat tawaf sementara ini diperkirakan dapat menampung 35 ribu orang per jam. Tempat tawaf khusus ini memiliki lebar 12 meter dan tinggi 13 meter dan dapat menampung 1.700 kursi dorong per jam. Saat saya tawaf di tempat itu, bunyi gemuruh sangat terasa. Apalagi, di lantai satu Mataf sementara, ada lantai bergelombong. Jika terinjak akan berbunyi seperti seng yang terinjak. Di tempat ini pun padat dengan umat Islam yang melaksanakan tawaf.
Kondisi Masjidil Haram selalu padat baik pagi, siang, maupun malam hari. Mataf agak sedikit longgar pada saat dhuha sekitar jam 08.00 pagi. Kesempatan itu pula digunakan petugas kebersihan masjid untuk membersihkan lantai dan sekitarnya. Apalagi, pada pertengahan malam dan usai salat Subuh, hampir tidak ada tempat tawaf yang kosong. Semuanya terisi padat orang yang tawaf.
Meski kondisi padat, kami bersama rombongan Agung Wisata dapat melaksanakan ibadah umrah dengan lancar. Rangkaian umrah selesai hampir menjelang subuh. Sambil menunggu subuh yang tiba jam 05.40 waktu setempat, saya memilih beritikaf di Masjidil Haram dengan mengambil tempat di serambi masjid yang belum dibongkar. Hanya saja, ada perbedaan dengan saat saya terakhir umrah tahun 2012 lalu, karpet di Masjidil Haram tidak lagi berwarna merah, tapi berganti menjadi hijau. Usai subuh, saya kembali ke hotel, selama di Makkah saya menginap di Hotel Royal Dar Al Eiman yang berhadapan langsung dengan Masjidil Haram, karena hampir satu malam saya tidak tidur.
Karena banyak pintu masuk masjid yang ditutup dan kapasitas masjid yang banyak berkurang, untuk dapat salat rawatib di dalam masjid, khususnya di tempat tawaf, minimal satu jam sebelum azan harus sudah berada di dalam masjid. Biasanya, sebelum satu jam azan dikumandangkan, polisi dan tentara yang berjaga sudah menutup pintu masjid ke arah tempat tawaf atau ke Kakbah. Jamaah diarahkan ke atas lantai II, lantai III atau basement yang tidak bisa melihat atau memandang Kakbah. Semua temboknya ditutup dengan pembatas yang menjadi area pekerja perluasan masjid.
Dalam kondisi yang padat dan ramai, alhamdulillah saya bersama rombongan Agung Wisata dapat melaksanakan ibadah di tanah suci dengan baik. Meski seringkali harus menguras fisik. Ibadah di Masjidil Haram lebih banyak menguras fisik daripada di Madinah. Karena itu, perlu persiapan fisik bagi umat Islam yang akan melaksanakan ibadah umrah saat ini. Ibadah tawaf di Masjidil Haram lebih utama dari pada salat sunah. Belum lagi jalan yang banyak berkelok dan sempit semakin menguras tenaga.  Kaki seringkali terasa capai, setiap malam akan istirahat, saya selalu menyempatkan untuk sekadar memijat kaki dan bagian betis dengan cream yang dapat melemaskan persendian, meski agak sedikit panas.
Ibadah di dua tanah suci, Madinah dan Makkah Almukaramah selalu berkesan. Berat hati meninggalkan Kota Makkah, saat saya harus kembali ke tanah air. Langkah berat itu juga yang terasa saat Tawaf Wada saya lakukan, saat akan meninggalkan Makkah. Saya akan selalu rindu Baitullah. (muhaimin/habis)