Guru Seni SMAN 4 Kolektor Ribuan Piringan Hitam Bekas

Djoko Parjudo, guru Seni dan Budaya SMAN 4 Kota Malang tak menyangka keputusan untuk membeli belasan piringan hitam bekas di garage sale yang ada di Australia, bakal membuatnya ketagihan. Hingga saat ini, sudah ribuan keping dia miliki, menjadi koleksi kesayangannya, disusun berjejer di setiap rak yang ada di sudut rumahnya.
Koleksinya beragam, mulai dari aliran Jazz, Pop sampai Rock. Lebih dari 1.000 keping dari ratusan penyanyi, seperti Nat King Cole, Natalie Cole, George Benson, The Beatles, Scorpion, Whitney Houtsoun, sampai penyanyi-penyanyi Indonesia seperti Koes Plus dan Bob Tutupoli. “Bahkan, ada PH rekaman tahun 1933. Itu sangat klasik,” ujarnya kepada Malang Post di rumahnya.
Semua koleksi tersebut, dia susun di dalam rak terpisah. Ada yang ia tempatkan khusus di tempat piringan hitam, ada yang dia taruh di rak buku, ada pula yang ditaruh di  lemari kamar anaknya. Itu baru sebagian, karena ternyata, di rumahnya yang ada di Surabaya, Djoko juga masih menyimpan lebih dari 100 piringan hitam lain.
Kegemaran ayah dua anak ini, bermula saat dia dan keluarganya tinggal di Australia pada tahun 1999 silam. Pria kelahiran 6 Januari 1955 ini, memiliki cara unik untuk mengisi liburan akhir pekan di benua tetangga itu. Djoko bersama istrinya, Tri Poespowati, mengisi akhir pekan untuk shopping. Namun, ini bukan shopping biasa, sebagai keluarga yang sedang merantau ke negeri tetangga, mereka lebih memilih shopping di garage sale.
Di Indonesia, istilah garage sale mungkin lebih dikenal dengan cuci gudang. Jadi, ada perseorangan atau kelompok yang mengumpulkan barang-barang bekas miliknya untuk dijual dengan harga ‘miring’. Menurut Djoko, biasanya warga Australia melakukan itu untuk mengumpulkan dana kemanusiaan.
Suatu hari saat mengunjungi salah satu garage sale, dia menemukan belasan piringan hitam dijual dengan harga miring. Harga satu kepingnya, rata-rata hanya berkisar 1 dollar Australia. Bahkan yang lebih murah lagi, ada yang harganya hanya 20 cent. Mengetahui harga itu, Djoko yang sudah terlanjur penasaran tidak ragu-ragu untuk memborong semuanya.
Setelah memiliki piringan hitam, Djoko lalu mencoba memutarnya dengan pemutar yang dia beli bersamaan. Saat itulah, ketertarikannya terhadap piringan hitam mulai muncul. Djoko sekan menemukan nuansa klasik dalam mendengarkan musik, sehingga membuatnya ketagihan dengan suara piringan hitam. Mulai saat itu, hampir setiap akhir pekan, Djoko berkeliling kota untuk memburu piringan hitam bekas di garage sale.
“Suara musik yang keluar dari piringan hitam lebih halus. Saya juga tidak tahu kenapa, tapi sependengaran saya suaranya lebih lembut didengar,” paparnya.  Inilah yang akhirnya memancing Djoko untuk mengoleksi dan terus membeli piringan hitam.  “Hampir setiap akhir pekan selama lima tahun saya di Australia, 1999 sampai 2004, saya berburu piringan hitam di garage sale. Kalau lagi beruntung, bisa dapat banyak. Tapi kalau tidak, saya harus berebutan dengan yang lain,” jelasnya seraya tertawa kecil.
Banyak tamu yang datang menawar beberapa keping koleksinya dengan harga tinggi. Namun, Djoko menolak. Semua itu karena dia terlalu cinta dengan koleksinya tersebut. Saking cintanya, Djoko pernah hampir nangis ketika mengetahui salah satu koleksi yang baru dia dapat rusak tak terpakai.
“Waktu itu saya lagi pulang ke Indonesia sama anak saya. Piringan hitam itu saya taruh di tas, tasnya ditaruh dibagasi. Tiba-tiba waktu saya mau putar di rumah, bentuknya sudah melengkung. Tak mungkin bisa dipakai, itu barang langka dari penyanyi The Beatles, perasaan saya waktu itu pingin nangis saja. Sampai sekarang masih saya simpan barangnya,” ceritanya.
Djoko cukup bangga dengan koleksinya. Karena menurutnya, tidak semua orang bisa memiliki apa yang dia miliki. Apalagi, semuanya dia dapatkan dengan harga murah. Dia mengungkapkan, 99 persen piringan hitam miliknya, sudah melalui tangan kedua atau barang bekas. Padahal sekarang, barang itu tidak lagi mudah dicari. Sekalipun ada, pasti dijual dengan harga tinggi.
“Saya pernah ke sebuah pameran di Australia, saya lihat ada koleksi The Beatles dipasang dengan harga di atas 50 AUD. Saya hanya tertawa, karena saya punya koleksi yang sama dengan harga 1 AUD sampai  2 AUD  saja. Piringan hitam ini, tidak akan saya jual kecuali memang ada yang menawarnya dengan harga yang tak terhingga,” kata Djoko sambil tertawa lebar.
Pemburuan piringan hitam Djoko tidak berhenti sampai sekarang. Hanya saja, upayanya tidak sesemangat dulu. Kini Djoko kebanyakan meminta anaknya yang bekerja di Australia, Novena Kartika Dewi, untuk mencarikan piringan hitam tertentu yang ingin dia miliki. Toh, sekarang Djoko masih sering kembali ke Australia mengunjungi anaknya. Momen-momen saat dia ke Australia, tidak akan dia lewatkan tanpa memburu piringan hitam baru.
Djoko cukup resah, karena pemuda zaman sekarang banyak yang tidak tahu apa itu piringan hitam. Padahal, piringan hitam merupakan media pertama perekam musik. Nilai sejarah yang dibawakannya sangat banyak. Djoko berpendapat, piringan hitam menjadi saksi dimana originalitas musik-musik di dunia masih sangat murni. Tidak seperti sekarang, di mana musik menjadi ajang komersialisasi.
“Perkembangan teknologi musik sebenarnya semakin pesat. Sekarang, dari alat kecil bernama flash disk saja, kita sudah bisa mendengarkan musik. Tapi sayangnya, sekarang musik dijadikan alat komersialisasi sehingga kualitasnya tidak lagi dipertimbangkan. Musik-musik zaman dulu, sifatnya abadi. Sedangkan sekarang, mengikuti permintaan pasar,” pungkasnya. (muhamad erza wansyah/han)