Bayi Dikremasi Tetap Utuh, Abu Tiba-tiba Menjadi Berat

Kisah Mistis dan Pengalaman Petugas Kremasi
Selama beberapa waktu terakhir, krematorium acap kali menjadi jujugan korban AirAsia QZ8501 yang ingin jenazahnya dikremasi. Tidak terkecuali, Krematorium di Sentong Baru Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang. Ada banyak kisah yang dialami para petugas kremasi tersebut saat menjalankan atau seusai menyelesaikan tugas mereka.

Setahun, sepertinya waktu yang relatif cukup bagi Mujiono, 40 tahun warga Jalan Ki Ageng Gribik, Lesanpuro-Kota Malang, untuk mendapat pengalaman baru di pekerjaannya. Meski terbilang baru seumuran jagung menjadi petugas kremasi, namun pria berpenampilan subur dan dianggap paling senior itu, mengaku banyak mendapat kejadian-kejadian yang sulit diterima dengan akal sehat.
Salah satu pengalaman yang sangat diingatnya, saat melakukan pengabuan jenazah bayi yang baru berusia tiga bulan. Seperti biasa, begitu prosesi upacara kremasi selesai, jenazah yang sudah ada di dalam peti, selanjutnya dilakukan pengabuan oleh petugas kremasi atau keluarga korban.
Dengan menggunakan pengapian yang mencapai 500 derajat celcius dan dilakukan selama kurang lebih 2 jam, secara otomatis peti jenazah hingga jenazah yang di dalam peti tidak menyisakan apa-apa. Yang menurut Mujiono tidak masuk akal kala itu, setelah 2 jam dilakukan pengapian, tulang-tulang jenazah bayi mungil itu masih utuh.
Karena kejadian tidak lumrah itulah, akhirnya petugas melakukan upacara manual untuk kelancaran kremasi. Hasilnya, sekitar 1 jam setelah pengapian, tulang jenazah pun siap dilakukan pengabuan.
“Kejadian seperti itu (bayi), hampir tidak pernah terjadi. Namun, karena pada awalnya semua adalah makhluk hidup, makanya kami pun melakukan upacara sendiri. Agar apa yang kami lakukan ini juga disadari dan semata-mata adalah tugas menjalankan ibadah dari bayi itu,” kata Mujiono seraya menduga-duga, itulah alasan mengapa bayi dibilang masih suci dan tidak memiliki dosa.
Selain proses kremasi yang mengalami kejadian mistik, pria berkumis itu juga bercerita, ia pernah mengalami pengapian ngadat dan tidak mengeluarkan api. Lagi-lagi, untuk mengatasi masalah di luar nalar itu, akhirnya disiasati dengan upacara.
“Selama saya bekerja, namanya pengapian itu tidak pernah ngadat, selalu menyala. Tapi saat itu, kami dibuat bingung karena api tidak muncul. Hingga akhirnya, kami sambat (berucap dalam hati) menjelaskan kalau yang dilakukan bukan untuk tujuan buruk. Namun, lebih karena tugas atau pekerjaan. Selesai itu, pengapian langsung bisa menyala,” tambahnya menunjukkan rasa herannya.
Beberapa kejadian mistik, terang Mujiono, sebenarnya tidak hanya dialami saat proses kremasi berlangsung. Namun, saat akan mengantarkan abu jenazah kepada keluarga duka atau Yayasan Gotong Royong untuk keperluan penitipan pun terkadang masih terjadi.
Pernah suatu ketika, abu jenazah yang sudah siap antar dan biasa dimasukkan tas agar aman dan tidak jatuh, justru memiliki berat yang tidak biasa. Padahal, pengantaran abu jenazah dari Krematorium ke Yayasan, biasa sampai membawa dua pengabuan dalam sehari.
“Antara percaya dan tidak, pernah sepeda motor yang biasa saya gunakan untuk mengantar abu tidak mau menyala. Karena saya sendiri juga tahu hal-hal semacam ini, akhirnya saya sambati dalam hati kalau saya hendak mengantarkan abu jenazah, agar dibantu. Setelah sambat seperti itu, sepeda motor saya bisa jalan,” paparnya.
Selama mengkremasi jenazah korban AirAsia, Mujiono mengatakan, proses kremasi berjalan lancar. Bahkan, tidak ada kendala sama sekali. “Semua berjalan baik,” katanya. (sigit rokhmat/han)