Pemulung Dinoyo Pembuat Penyedap Rasa Alami Berbahan Sawi Langit

Aktivitas sehari-hari sebagai pemulung tetap membuat Sumiyati mampu berkarya. Pemulung di kawasan Dinoyo ini berhasil memproduksi penyedap rasa berbahan dasar tanaman sawi langit. Karyanya pun sudah terjual hingga ke Filipina dan Australia.
Bibit tanaman sawi langit dibudi daya di depan sebuah rumah sederhana di ujung tepi  Sungai Brantas. Dari rumah ukuran 5 x 7,5 meter berdinding batu bata yang belum diplester itulah Sumiyati hidup dan berkarya.
“Tadi pagi mulung, ya dari jam setengah enam sampai jam setengah tujuh. Setelah itu siapin untuk buat penyedap rasa,” kata Sumiyati. “Ini bahannya, sawi langit. Saya budi daya sendiri,” sambung wanita 58 tahun ini sembari menunjukkan tanaman sawi langit yang ditanam di sejumlah pot.
Ibu tiga orang anak ini mulai jadi pemulung pada tahun 1987. Ia terpaksa ikut membanting tulang untuk menyokong ekonomi rumah tangganya. “Suami saya tukang becak. Saya ikut cari tambahan,” kata Sumiyati.
23 tahun memulung barang bekas, pada tahun 2010, Sumiyati bagai menemukan jalan baru dalam kehidupannya. Saat itu, dia diajak mengikuti pelatihan membuat penyedap rasa oleh sebuah organisasi.
Belajar dari tahun 2010, dua tahun kemudian Sumiyati akhirnya bisa produksi sendiri penyedap rasa alami. Nama produknya Aufa. Ia memproduksi dalam dua kemasan, yakni botol dan sachet. Sumiyati tentu tidak seorang diri, ia didampingi sebuah organisasi, Perempuan Mandiri Sumber Perubahan (Preman Super) dan seorang ibu pegiat herbal.
“Bahannya biasa saja. Dari sawi langit, bawang bombai, bawang putih, gula putih dan garam kasar,” kata Yati, sapaan akrab Sumiyati. Kendati hanya seorang pemulung, Yati tahu bagaimana caranya menjaga kualitas produknya.
“Wajan, blender, alat-alat masaknya saya sendirikan. Ini khusus, gak boleh dicampur nanti rasanya bisa berbeda,” katanya lalu menunjukkan peralatan memasak yang disimpan di sebuah lemari di ruang tamunya. “Ini kan, saya sendirikan (pisahkan),” sambungnya meyakinkan.
Yati memang tak memiliki pengetahuan secara lengkap soal industri makanan produksi rumah tangga. Namun dia paham apa yang harus dilakukan sehingga produknya bisa diterima di pasar. Misalnya ia menunjukkan tentang P-IRT. Tapi nenek tiga cucu ini tak paham kepanjangan P-IRT. “Ini (P-IRT) ada nomornya. Dulu dibuatkan di Dinas Kesehatan. Gratis kok,” katanya.
P-IRT yang dimaksudnya yakni kode Pangan Industri Rumah Tangga. Dinas Kesehatan memang menerbitkan P-IRT. Tujuannya tentang standarisasi bahan makanan olahan yang digunakan.
Pengetahuan tentang menghitung biaya produksi memang tak utuh. Tapi Yati bisa melakukannya secara baik. Ia lantas mengatakan selama ini menggunakan sistem pembukuan. “Ada catatannya, kebutuhannya berapa, buat beli apa saja, trus dijual kemana, hasilnya berapa, dibaginya kemana. Catatan saya ada kok,” katanya bersemangat.
Sebotol Aufa produksi Sumiyati dijual dengan harga Rp 30 ribu. Keuntungan yang didapat per botol yakni Rp 12 ribu. “Lainnya saya berikan ke yang bantu, kan ini juga dibantu kelompok. Juga untuk belanja kebutuhan seperti bahan sama beli gas,” paparnya.
Saat ini produksi dan  pemasarannya memang terbatas. Ia hanya memproduksi sesuai kebutuhan dan permintaan. Biasanya dipesan oleh ibu-ibu kelompok pengajian dan kenalannya dosen di beberapa perguruan tinggi.
Wanita asal Sumbermanjing Wetan ini itu kini merasa bahagia. Betapa tidak, pada tahun 2013, penyedap rasa hasil olahannya dijual ke Filipina. Saat itu diikutkan dalam sebuah pameran. “”Saya tidak ikut ke Filipina. Tapi Aufa yang dibawa ke sana. Waktu itu lakunya 12 botol,” katanya. Uang yang didapatnya dari hasil pameran di Filipina sebesar Rp 300 ribu. “Katanya harga di Filipina 150 peso. Tapi saya tidak tahu peso itu berapa. Ya iya saya tetap senang sekali, apalagi saya orang kecil,” katanya sembari tertawa.
Sebelumnya pada tahun 2012, penyedap rasa olahan Sumiyati juga terjual hingga ke Australia. Waktu itu, dibawa oleh seorang kenalannya ikut dalam pameran di Bali. “Diborong sama orang Australia. Ya sudah sampai Australia,” ceritanya girang.
Di usia senjanya, Yati semakin optimis terhadap usaha barunya itu. Apalagi Aufa menurut dia tak sekadar penyedap rasa tapi juga punya nilai kesehatan, bisa mengatasi kolesterol, asam urat, darah tinggi dan darah rendah. “Ya sudah diperiksa, katanya seperti itu (bisa atasi kolesterol, asam urat, darah tinggi dan darah rendah),” ujarnya meyakinkan.
Hanya saja untuk mengembangkan usahanya, Yati kesulitan modal. Ia tak bisa produksi secara massal karena butuh biaya besar. Selain itu untuk pemasaran juga butuh modal. “Kalau ada modal, bisa bertambah lho. Iya saya butuh modal,” katanya penuh harap.(vandri/han)