Masih Dag..Dig..Dug Kendati Biasa Piloti Hercules

Danlanud Abd Saleh Marsma TNI Sungkono usai naik pesawat Super Tucano foto bersama pilot pesawat Super Tucano Letkol Pnb Toto Ginanto, ST.

Pengalaman Pertama Danlanud Abd. Saleh Jajal Super Tucano
Tidak semua orang memiliki kesempatan terbang dengan pesawat miliki TNI AU. Terlebih pesawat tempur. Sehingga sudah pasti, saat mendapat kesempatan naik pesawat tempur untuk menjelajah Malang Raya dari udara, pasti terbit perasaaan  bangga. Hal ini juga yang dialami oleh Danlanud Abd Saleh Marsma TNI Sungkono.

Saat kali pertama mendapat kesempatan naik pesawat tempur Super Tucano Rabu (28/1) lalu, pria ini tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Bahkan, dengan sangat antusias, Danlanud mengajak Komandan Skadron 21, Lanud Abd Saleh Letkol Pnb Toto Ginanto, ST pengemudi pesawat tersebut foto bersama dengan background pesawat buatan Embraer, Brazil tersebut.
Siang itu cuaca di Lanud Abd Saleh sangat cerah. Langit berwarna biru, dengan awan tipis, dan angin yang tidak terlalu kencang, seperti memberikan izin seluruh pesawat lepas landas dari landasan milik TNI AU tersebut.  Cuaca yang cerah ini kemudian dikejutkan dengan datangnya mobil dinas Nissan Terrano warna biru.
Seorang laki-laki turun, dan buru-buru berjalan menuju Skadron 21. Kedatangan laki-laki ini membuat seluruh anggota yang berpapasan pun memberi salam dan hormat. Ya, karena yang datang tersebut bukanlah orang biasa. Dia adalah Danlanud Abd Saleh Marsma TNI Sungkono.
Kedatangan pria ini tidak untuk melakukan kunjungan, dan melihat kinerja anak buahnya. Tapi Sungkono datang untuk berniat terbang menggunakan pesawat tempur Super Tucano yang berhome di Skadron 21, Lanud Abd Saleh. Layaknya pilot, Sungkono langsung menuju ruang ganti. Baju dinas berwarna biru yang dipakai kesehariannya langsung dilepas, untuk kemudian berganti dengan baju khusus pilot pesawat tempur.
Tentu saja, itu bukan satu-satunya persyaratan yang diberikan, untuk dirinya lolos naik pesawat pengganti OV-10 Bronco tersebut. Tapi pria ini juga melakukan serangkaian tes kesehatan dan tes psikologi. Seorang dokter dari Rumah Sakit Munir, Abdul Racman Saleh pun sigap, dia langsung melakukan serangkaian pemeriksaan, untuk mengetahui kondisi kesehatan Danlanud. Pemeriksaan ini memang tidak lama, tapi begitu, cukup menegangkan. Maklum, sebagai orang baru yang naik Super Tucano, Danlanud berharap semua hasilnya memuaskan.
Harapan itu menjadi kenyataan. Tidak lama setelah itu, dokter yang melakukan pemeriksaan memberikan rekomendasi, kondisi Danlanud memungkinkan untuk melakukan penerbangan pesawat tempur.  Tentu saja, pria ini tidak bisa menyembunyikan rasa senang dan bahagianya.
Dia pun langsung mendekati pilot utama pesawat yang dibeli Mabes TNI AU dengan harga US$ 143 juta atau Rp. 1,3 triliun saat itu, yakni Komandan Lanud Letkol Pnb Toto Ginanto, ST. Dalam perjalanan menuju pesawat wajah Sungkono terlihat tegang. Sebagai pimpinan dia tetap berusaha menunjukkan sikap tenang.
“Tadi melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan dulu, sebagai syarat untuk naik pesawat tempur. Kondisi kesehatan tidak stabil, pasti gagal naik. Makanya, sedari beberapa hari terakhir sudah disiapkan semuanya,’’ kata Sungkono.
Singkat cerita, setelah berkoordinasi di darat, kedua pria ini masuk ke dalam pesawat.  Letkol Pnb Toto Ginanto, ST, pilot utama Super Tucano masuk lebih dulu. Selanjutnya diikuti oleh Sungkono yang duduk di kursi belakang. Tanpa disuruh, pria ini langsung memasang helm, selanjutnya memasang masker oksigen. Masker oksigen ini wajib dipasang, saat naik pesawat tempur, sebagai alat bantu pernafasan. Itu karena di dalam bodi pesawat ini sangat sempit, sehingga udara yang bisa dihirup pun minim. Itulah sebabnya, selang oksigen wajib digunakan.
Sungkono sebelumnya pernah menaiki pesawat tempur. Diantaranya adalah F16 dan pesawat tempur taktis Hawk. Dia sendiri pernah menjadi pilot pesawat angkut. Cita-citanya kini adalah bisa menaiki pesawat tempur Sukhoi.
Nah, sebelum pintu pesawat ditutup, Sungkono juga lebih dulu mencoba berkomunikasi dengan pilot, termasuk dengan menara tower yang melakukan pengawasan dan pemantauan penerbangan. Setelah semua perangkat siap, Toto pun mulai menutup pintu pesawat.  Saat itu Danlanud sempat melambaikan tangan. Dengan suara mesin yang menderu, pria dengan dua melati di pundak ini pun siap terbang.
Seperti pesawat pada umumnya, Super Tucano lebih dulu berjalan pelan. Hingga di landasan pacu, Toto langsung tancap gas. Kecepatan maksimal digunakan, agar pesawat sukses lepas landas.
Lebih dari satu jam Sungkono melayang di udara bersama pesawat tempur. Pesawat melaju ke arah selatan Malang. Di kawasan Senggreng, Super Tucano melakukan simulasi pengeboman menggunakan roket. Dan simulasi menembak. Begitu usai langsung mengitari langit dan menuju ke pangkalan.
Tapi yang jelas begitu, pesawat ini landing kembali di Lanud Abd Saleh, seluruh anggota pun langsung bertepuk tangan. Bergantian dengan Toto, Sungkono turun dari pesawat. Keduanya lebih dulu bersalaman sambil mengucapkan selamat.
“Selain ingin mengecek dan merasakan langsung konfigurasi pesawat buatan Brazil tersebut, saya juga harus mengerti betul apa yang terjadi dan dirasakan anggota saat terbang dengan Super Tucano,’’ katanya.
Dia juga mengatakan dengan terbang seperti kemarin dirinya akan tahu bagaimana kondisi pesawat tersebut, mulai start engine, take off, terbang hingga landing.
Sungkono mengaku jika naik pesawat Super Tucano sangat seru. Bahkan, dengan tegas dia mengatakan ada perbedaan saat dirinya mengemudikan pesawat angkut. “Wajar kalau deg-degan, apalagi ini kali pertama,’’ katanya. Tapi begitu, Sungkono mengatakan sama sekali tidak kapok dengan pengalaman pertamanya ini. Bahkan, meskipun persiapan naik pesawat ini cukup lama, pria ini mengaku masih ketagihan.(ira ravika/ary)