Ciptakan Lebih Dari 50 Dongeng Anak, Aktif di Komunitas Internasional

Elis Siti Toyibah bukan mahasiswa biasa. Dalam aktifitasnya yang padat, dia pintar membagi waktu untuk kuliah, mengerjakan tugas hingga melakukan praktikum. Nah, di luar tugas kemahasiswaan, mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) angkatan 2009 itu juga memiliki se-abrek kegiatan sosial berskala lokal hingga internasional.


Ya, Elis merupakan salah satu mahasiswa berprestasi di FP UB. Dia mendapat julukan tersebut tahun 2013 silam. Julukan tersebut tidak didapatkannya dengan mudah, melainkan butuh upaya keras untuk mengejar prestasi akademik di skala lokal, sampai internasional.
Inilah yang dilakukan anak pertama dari tiga bersaudara itu. Pada bidang akademik, sudah belasan prestasi dia toreh. Antara lain, menjadi juara 1 karya ilmiah di Taiwan, menjadi perwakilan Indonesia ke Austria dalam mengikuti kompetisi karya ilmiah, sampai tiga kali lolos pendanaan Dikti dalam Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM). Belum lagi prestasi skala lokal dan universitas yang dia torehkan, hal tersebut membuat bangga orang tuanya.
Namun, prestasi akademik tersebut tidak membuat dia lupa untuk mengabdi kepada masyarakat. Di tengah kesibukannya menyusun skripsi, Elis masih giat berdongeng untuk anak-anak. Wanita kelahiran 13 Maret 1992 ini, sudah mendongeng sampai ke Bali. Bersama komunitasnya di Klub Dongeng Indonesia, Elis selalu ditunggu-tunggu oleh para anak-anak penikmat dongeng.
Bagi mahasiswi asal Bandung, Jawa Barat ini, berdongeng sudah menjadi bagian setengah hidupnya. Waktu-waktu kosong sebagai mahasiswa tingkat akhir, dia isi untuk membawakan pesan moral kepada anak-anak melalui kisah-kisah lucu yang dia sampaikan dengan dongeng. Mulai dari kejujuran, kasih sayang orang tua, guru, sampai keadilan, dia sampaikan kepada anak-anak melalui dongeng.
Setiap dongeng yang dia sampaikan, merupakan cerita yang dibuatnya sendiri. Koleksi dongeng Elis sekarang, sudah lebih dari 50 buah. Rencananya, dia akan membukukan dongeng-dongeng ini agar bisa menjadi insipirasi orang banyak.
"Dongeng merupakan cara paling efektif untuk menyampaikan pesan kepada anak-anak. Menurut saya, pesan yang disampaikan melalui dongeng dengan mudah tertanam di benak anak-anak," jelas wanita berjilbab ini.
Sudah tiga tahun Elis mendongeng. Sejak tiga tahun lalu, berbagai pengalaman dia dapatkan. Pengalaman berkesan baginya, adalah ketika dia mendongeng di hadapan puluhan anak penyandang disabilitas. Bisa dibayangkan, betapa sulitnya berbicara di hadapan anak-anak dengan kelainan mental. Masyarakat pada umumnya, pasti mengira apa yang akan disampaikan kepada mereka sia-sia.
"Awalnya saya juga berpikir seperti itu. Saya kira mereka bakal tidak mengerti, rupanya, mereka lebih mengerti dari saya yang mendongeng," kata Elis.
Suatu ketika, Elis mendongeng dengan tema lingkungan. Usai mendongeng, dia hampiri salah satu peserta. Kemudian dia ajak ngobrol peserta yang menyandang autisme. "Tidak disangka, dia malah bercerita mengenai isu-isu lingkungan, mulai skala lokal, sampai internasional. Itu sangat berkesan bagi saya," akunya.
Hal berkesan lainnya bagi Elis, ketika dia kembali ke salah satu tempat di Bandung, tempat di mana dia mulai mendongeng sekitar tiga tahun lalu. Saat kembali ke tempat tersebut akhir tahun kemarin (2014), tiba-tiba ada seorang anak SD memeluknya. "Mbak, ceritain lagi dongeng yang dulu dong," ujar Elis menirukan perkataan anak SD tersebut.
Elis pun kaget. Rupanya, anak SD itu adalah salah satu peserta dongeng yang dia ceritakan tiga tahun lalu. Sampai sekarang, anak itu ingat dengannya. Meskipun ingatannya ke anak tersebut samar-samar. Semakin yakinlah dia, menjalani pilihan hidupnya sebagai pendongeng.
Tidak sampai situ, aktivitas Elis sebagai mahasiswa berprestasi yang tak lupa mengabdi masih panjang. Elis rupanya sekarang aktif di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Harapan Umat. Mendampingi anak-anak pinggiran, yang notabene berasal dari keluarga dengan latar belakang suram. Dari mereka, ada yang orang tuanya preman, tak sekolah, pemulung, dan sebagainya.
Tidak hanya pada anak juga, Elis juga merupakan aktivis perempuan asal Malang. Sekarang, dia menjadi satu dari dua perwakilan komunitas perempuan dan anak international, Half The Sky. "Di Half The Sky, saya menjadi Campuss Ambassador (perwakilan, red). Satunya lagi berasal dari UI (Universitas Indonesia). Kegiatan kami, mengampanyekan tentang permasalahan perempuan di Indonesia, melalui diskusi, bedah buku, bedah film, dan sebagainya," kata Elis.
Di tingkat lokal, Elis merupakan ketua komunitas Aku Perempuan. Persoalan perempuan, dikupas tuntas bersama  teman-temannya melalui bakti sosial, sampai kegiatan retorika, berdiskusi. "Kami juga akan melakukan pendampingan pada TKW di Malang Selatan. Di sana kondisinya sangat memprihatinkan," tandas Elis.
Bagi pemilik hobi baca buku psikologi anak ini,  persoalan perempuan dan anak tidak terpisahkan. Menurutnya, perempuan adalah pemangku peradaban. Sementara anak, tak bisa lepas dari ibunya. Sehingga, persoalan keduanya harus diselesaikan secara beriringan.
Terlebih, untuk persoalan anak perempuan. Mulai dari pelecehan seksual yang tidak terekspose media. Ini, lanjutnya, sangat riskan bagi kehidupan perempuan. Ditambah, sekarang sedikit jumlah perempuan yang berani berbicara, mengadukan seluruhnya ke salah satu pihak terpercaya. "Kebanyakan korban sekarang diam, padahal itu hanya membuat mereka tidak berdaya. Perempuan, harus berani berbicara," pungkasnya.(Muhamad Erza Wansyah/ary)