Bikin Mading dan Ngekos Biaya Pribadi demi MSC15

MADING 3D di perhelatan M-Teens School Competition 2015 (MSC15) yang dipamerkan di aula Skodam Brawijaya memiliki beragam kisah unik dan menarik. Tak hanya wujudnya yang luar biasa, namun proses pembuatannya juga mengundang rasa bangga. Bangga, sebab anak-anak muda memiliki tekad kuat untuk mewujudkan mimpi mereka.

Sekelumit kisah menarik nan inspiratif datang dari peserta terjauh, yaitu SMAN 2 Pasuruan. Berbagai hambatan tak menyurutkan niat untuk ikut memeriahkan MSC15. Shofiayah Hasna Kamila, siswi SMA Negeri 02 Pasuruan ini mengaku tidak mendapatkan dana sepeser pun dari sekolahnya. Siswa berumur 16 ini, bersama Siti Chodijah, Dwi Aprilia P, Dela Alfinia, Dedy Surya Mubarok, Mustofa Hilmi, dan M. Anjar Fadilah tidak patah semangat walaupun tidak mendapatkan dana. Karena baginya hal tersebut tidak menjadi penghambat untuk mencapai tujuannya sebagai pemenang mading 3D.
Pelajar yang akrab disapa Mila ini mendapatkan informasi tentang lomba M-Teens dari internet. Setelah mengumpulkan informasi, siswa kelas 11 itu mendatangi kantor Malang Post bersama teman-temannya untuk mengambil formulir.
“Kami ke kantor Malang Post dengan mengendari motor. Uang bensin ya patungan karena tidak mendapatkan dana transportasi dari sekolah,” cerita Mila.
Mila dan teman-temannya menghabiskan dana sekitar Rp 1 juta untuk mewujudkan mading 3D bertema My Future World. Menariknya, kebutuhan pembuatan mading tersebut mayoritas dana pribadi yaitu dari usaha mengumpulkan iuran dari anggota tim.
“Saya dan teman-teman saya mencari dana sendiri karena sekolah tidak mau membiayai untuk lomba mading 3D,” kata Mila.
Mila dan teman-temannya mencari dana dari berbagai sumber mulai dari mengajukan proposal ke berbagai perusahaan. Namun, semua itu sia-sia karena ia tidak mendapat persetujuan dan sponsor dari pihak mana pun.
“Saya dan teman-teman mencari sponsor ke berbagai tempat dan juga mengajukan proposal ke sekolah, namun itu semua hanya sia-sia karena tidak ada satu pun yang menyetujuinya,” ujar dia.
Siswa kelas 11 SMA ini mengaku hanya mendapatkan sumbangan dari rumah makan kecil dan baginya itu sudah sangat berharga karena dapat membantu dalam pembuatan mading 3D mereka.
Mila tidak berharap sekolahnya akan memberikan biaya ganti rugi, namun ia hanya berharap agar sekolahnya memberi penghargaan karena Mila dan teman-teman sudah berusaha keras demi sekolahnya dan mewakili Kota Pasuruan.
“Saya tidak berharap lebih ke sekolah untuk mengganti semua biaya karena saya dan teman-teman sudah merasa puas dengan hasil yang kami lakukan,” kata Mila.
Remaja berusia 16 tahun ini bangga terhadap kerja keras dan jerih payahnya bersama teman-temannya. Dia tidak menyesal walaupun harus mengeluarkan banyak biaya untuk lomba mading 3D.
Tak hanya berkorban biaya, mereka juga rela meluangkan waktu selepas sekolah hingga malam hari demi menggarap mading. Selama tiga minggu mereka berkumpul bahu membahu mengerjakan materi sesuai kriteria panitia.
Perjuangan tak berhenti di situ. Tim bernama Doea ini juga mulai berburu penginapan agar tak perlu pulang pergi Malang – Pasuruan selama MSC15 berlangsung selama empat hari di aula Skodam. Lagi-lagi, biaya untuk penginapan tidak diberi sekolah melainkan menggunakan uang jajannya sendiri.
“Saya dan teman-teman menginap di Malang selama mengikuti lomba dan biaya seluruhnya kami tanggung bersama,” tegas dia.
Mereka semua berharap agar semua pelajar di Indonesia tidak patah semangat walaupun tidak rintangan menghadang, salah satunya dana.”Buat seluruh pelajar di Indonesia kami semua berharap agar kalian tidak putus asa walaupun tidak ada dana untuk mencapai cita-cita dan tujuan kalian. Percayalah bahwa Allah SWT itu maha adil dalam segala apapun dan pasti ada jalan keluar untuk masalah yang kalian hadapi,” ucap Mila dengan yakin. (Hestika Nur Hidayati/SMA Islam Malang/Ayu/Fia)