Belajar Transportasi Murah dari Palembang

Wartawan Malang Post Agung Priyo baru saja mengikuti tour bersama rombongan tim Arema Cronus, ke Kota Palembang. Merupakan tour terlama di Indonesia, terhitung mulai 23 Januari sampai 2 Februari 2015. Banyak cerita yang didapat dari Kota Pempek ini, terutama dari sisi transportasi yang bisa ditiru Kota Malang.

Kota Palembang adalah ibu kota di Provinsi Sumatera Selatan. Palembang merupakan kota terbesar kedua di Sumatera Selatan, setalah Medan. Kota ini memiliki luas wilayah 358,55 km²[4] yang dihuni 1,7 juta orang dengan kepadatan penduduk 4.800 per km². Diprediksikan pada tahun 2030 mendatang kota ini akan dihuni sekitar 2,5 juta orang.
Dibandingkan dengan Kota Malang, sebetulnya Kota Palembang tidak memiliki perbedaan yang cukup jauh. Selain sama-sama sedang berkembang, kepadatan arus lalu lintas di kota ini juga sama dengan Kota Malang. Pada hari dan dan jam tertentu, arus kendaraan selalu padat. Termasuk waktu pun juga tidak ada perbedaan.
Hanya kondisi cuaca yang membedakan. Malang memiliki hawa dingin, sedangkan Palembang lebih panas. Pukul 18.00 di Kota Palembang, terasa masih pukul 15.30 di Kota Malang, karena sinar matahari masih cukup panas. “Ini karena Kota Palembang berada di barat, sedangkan Malang berada di timur,” kata dr Indrawan Dwantoro, dokter tim Arema Cronus.
Selain perbedaan cuaca, perbedaan lainnya antara Kota Palembang dengan Kota Malang adalah, lebih pada kedewasaan masyarakatnya. Salah satunya dalam mensikapi keberadaan bus kota. Di Kota Malang hanya sebatas bus sekolah, tetapi sudah mendapat penolakan dari ratusan sopir angkot. Padahal jumlah bus sekolah tidak lebih dari 10 unit.
Sementara di Kota Palembang, ada lebih dari 90 armada bus milik Pemerintah Kota Palembang yang beroperasi setiap hari di tujuh jalur. Namun sama sekali tidak mendapat penolakan dari sopir angkot atau pun masyarakat. Keberadan Bus Trans Musi tersebut, malah mendapat dukungan.
“Bus Trans Musi ini, ada sejak 2011 lalu saat ada Sea Games. Sama sekali tidak ada penolakan dari sopir angkot. Masyarakat sadar, karena keberadaan bus Trans Musi ini, untuk kepentingan masyarakat serta untuk kemajuan Kota Palembang,” terang Edi Triono, salah satu warga asal Kota Palembang.
Bus Trans Musi ini, hanya menaikkan dan menurunkan penumpang di halte yang sudah disediakan. Keberadaan bus Trans Musi ini, bertujuan untuk mengurai kemacetan lalu lintas. Nantinya pada 2017, pemerintah Kota Palembang sudah melarang bus kota dan angkot yang kondisinya sudah tua beroperasi.
“Keputusan larangan bus kota itu sudah disampaikan oleh Walikota Palembang. Pemilik dan sopir bus kota sudah menerimanya, hanya tinggal pelaksanaannya saja nanti,” ujarnya.
Yang menarik, biaya tarif bus Trans Musi ini, jauh lebih murah ketimbang harus naik angkot atau kendaraan umum lainnya. Karena hanya dengan tarif Rp 5.500, bisa untuk naik tujuh kali bus Trans Musi keliling Kota Palembang. Tetapi syaratnya, ketika turun dari satu bus, harus transit segera transit ke bus Trans Musi lainnya.
“Kalau mau keliling Kota Palembang, bayarnya cukup sekali saja Rp 5500. Karena naik bus Trans Musi bisa transit ke bus lain tanpa harus membayar lagi. Biayanya lebih murah dibandingkan naik angkot. Selain itu, bus Trans Musi tidak harus menunggu sampai penumpang penuh, karena setiap 10 menit harus bergantian jalan,” jelas Hariono, salah satu kenek sekaligus sopir bus Trans Musi.(agung priyo/ary)