Wisudawan Libya yang Jatuh Cinta dengan Alam Indonesia

Banyak warga luar negeri yang jatuh cinta dengan keindahan tanah dan pulau di Indonesia. Tak terkecuali Mohamed Z. Sherif, mahasiswa asal Libya yang baru saja diwisuda dari Pascasarjana Bisnis Administrasi Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) Malang.

“Pulau di Indonesia itu ribuan, butuh waktu lebih dari 5 tahun untuk mengunjungi semua pulau di negara itu," ujar Mohamed Z. Sherif, menirukan kata orang tuanya yang marah karena ia tak kunjung mengurus kelulusannya.

Orang tua Sherif gemas melihat anaknya terlalu banyak ‘main’ di Indonesia. Ia terus-terusan meminta waktu tenggang kepada orang tuanya agar bisa berkeliling dan melihat keindahan alam Indonesia. Ya, Sherif memang salah satu lulusan pascasarjana FIA UB kelas internasional. Pria kelahiran 26 Juli 1985 ini mulanya memilih UB, karena dia menilai kampus ini merupakan salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Awalnya, ia berencana tinggal di Malang hingga kuliahnya selesai.
Tetapi ternyata, ketika sudah diwisuda pada 24 Januari 2014 lalu, Sherif malah merasa berat meninggalkan Indonesia. Sherif yang tinggal di Malang sejak Februari 2013, tidak menyangka studinya di Malang membuahkan kenangan manis terhadap alam Indonesia.
Berawal ketika awal masa studi, Sherif diajak temannya untuk mengunjungi Ranu Kumbolo, salah satu danau yang ada di kaki gunung Semeru. Berkunjung ke Ranu Kumbolo, membuatnya terkagum-kagum dengan keindahan alam Indonesia. Niat untuk mengunjungi spot lain pun mulai muncul. Dimulailah petualangan pria berusia 29 tahun itu. Sherif mulai mencari di internet, spot-spot wisata alam apa yang bagus untuk dikunjungi.
Dia memulai perjalanan dari wisata alam di pulau Jawa, Malang yang terdekat. Dia pun mengunjungi pantai-pantai yang ada di Malang Selatan. "Sendang Biru, Goa Cina, Ngliyep, Kondang Merak, Balekambang dan masih banyak lagi. Saya berkunjung ke sana sendiri, beberapa kali sama teman saya," ujar Sherif kepada Malang Post saat ditemui kemarin (7/2/15).
Itu masih biasa, karena ternyata tidak hanya pantai yang dia kunjungi. Sherif juga meluangkan waktu kuliahnya untuk berkunjung ke air terjun seperti Coban Pelangi dan Coban Rondo. Gunung pun dia sikat, Gunung Arjuno, Semeru, Kelud, Bromo, hingga Panderman.
Semua itu, dia lakukan selama masa studinya di FIA UB. Tidak jarang, pria bertubuh tinggi ini jalan-jalan sendiri dengan sepeda motor matic-nya. Meski sebenarnya dia baru bisa mengendarai motor di Indonesia. Sherif mengatakan, sebelumnya di Libya dia terbiasa menggunakan mobil.
"Kuliah saya tiga hari dalam satu minggu. Dua hari saya gunakan untuk belajar, dua harinya saya gunakan untuk traveling. Karena waktu sempit, jadi saya cuma bisa berwisata ke daerah-daerah yang ada di sekitar Malang saja,” ungkapnya. Meski, lanjutnya, tidak jarang dia menyempatkan diri untuk berkunjung ke Blitar, Kediri, Yogyakarta, Jember, sampai Banyuwangi.
Hingga pada akhirnya, Sherif menyelesaikan ujian akhir sekitar penghujung Juli 2014, tepat saat Ramadhan, Sherif membulatkian tekad untuk mengunjungi spot-spot lain di luar pulau Jawa. Pulau Sulawesi adalah tujuannya. Ya, Sherif sendirian pergi ke tempat yang jelas-jelas asing baginya. Dia hanya bermodalkan pengetahuan yang didapat dari internet.
Selama 20 hari perjalanan dia habiskan di pulau Sulawesi. Mulai Makassar Sulawesi Selatan, sampai ke Sulawesi Tengah, Poso dan beberapa pulau yang ada di utara Poso. Pantai, air terjun, padang rumput dan juga wisata bawah laut. "Wow, semuanya indah," serunya seraya terus menceritakan pengalamannya.
Pulang dari Sulawesi, Sherif kembali merencanakan travel selanjutnya. Kali ini, Bali menjadi destinasi. Sherif nekat ke Bali hanya bersepeda motor. Dia juga berjalan sendiri, tanpa ada temannya yang ikut.
"Awalnya takut, karena saya belum pernah ke sana naik motor. Tapi saya nekat, buktinya saya aman-aman saja sampai sekarang," ujarnya. Sepanjang perjalanan, Sherif menyempatkan diri untuk berhenti dan mengunjungi spot-spot tertentu. Misalnya, pantai Papuma Jember, Kawah Ijen, pantai-pantai di Banyuwangi dan lain-lain.
Lebih-lebih lagi saat dia berkunjung ke Bali. Menurutnya, Bali merupakan tempat yang sangat terkenal bagi orang-orang di negaranya. Ternyata kabar tersebut dibuktikan sendiri oleh dia. Gunung Batur, Gunung Agung dan hampir seluruh pantai di Bali dia sikat habis. Sebab, kata Sherif, dia tidak ingin ada spot yang ketinggalan.
Sherif memang kembali ke Malang setelah dari Bali. Tapi, perjalanannya kembali dilanjutkan ke Lombok, Sumbawa, Pulau Komodo sampai Florest. Lagi-lagi, gunung dan pantai yang dia tuju. Gunung Rinjani, gunung berapi tertinggi kedua di Lombok, tak luput dari kunjungannya. Pantai-pantai di pulau ini tak perlu ditanya, satu persatu dia sebutkan pantai-pantai yang dia kunjungi.
Di balik perjalanan Sherif, ternyata ada kisah yang menarik. Ya, Sherif rela meninggalkan lima kali kesempatan untuk diwisuda demi mengelilingi Indonesia. Padahal, orang tuanya terus mendesak agar Sherif segera pulang ke Libya. Tapi, ternyata dia lebih memilih melanjutkan petualangannya mengelilingi Indonesia.
"Kesempatan wisuda pertama, saya memang sedang sibuk mengurus berkas-berkas ujian akhir. Waktu wisada kedua, saya sedang di Makassar dan dihubungi kalau ada wisuda. Biarkanlah, lain waktu saja, pikir saya begitu. Pembukaan wisuda ketiga, saya sedang di Lombok," kata Sherif.
Saat berkunjung ke Bali untuk kedua kalinya, pendaftaran wisuda kembali dibuka. Juga dengan sepeda motor, dia buru-buru kembali ke Malang. Sesampainya di Malang, pendaftarannya malah sudah penuh. "Ya sudah, saya balik ke Bali lagi. Masih ada yang belum saya kunjungi," jelas Sherif. Hingga kesempatan keenamnya, Januari 2015 kemarin, dia baru diwisuda.
Sherif mengaku, beberapa kali dia ditelepon orang tuanya. Tapi dia selalu mengelak dan meminta toleransi agar diberikan waktu untuk traveling lagi. Orang tuanya pun tak jarang marah kepadanya. Tapi mau apa, Sherif sudah terlanjur cinta dengan alam Indonesia. Menurutnya, Indonesia bagaikan surga.
"Tinggal dua bulan lagi saya di Indonesia. Setelah ini saya mau ke Bandung, saya belum pernah ke sana. Tujuan utama saya kawah putih. Setelah itu, saya kembali ke Libya. Entah kapan lagi bisa ke Indonesia, tapi jelas saya rencanakan itu. Ada tiga pulau yang belum saya kunjungi, Sumatera, Kalimantan dan Jayapura. Sumatera tujuan pertama kalau saya kembali ke Indonesia," jelasnya.
Saking cintanya dengan Indonesia, Sherif bahkan sampai bercita-cita untuk membuka bisnis yang melibatkan kedua negara, Indonesia dan Libya. Tujuan utamanya memang berbisnis, tapi itu bisa menjadi alasan dia untuk berkeliling Indonesia.
"Sekarang saja saya sudah mulai rindu dengan Indonesia. Berat rasanya meninggalkan negara ini. Tapi bagaimana lagi, setelah ini saya harus pulang, menikah dan mencari pekerjaan. Tapi saya punya cita-cita untuk membuat bisnis yang melibatkan Indonesia dan Libya," pungkas putra pertama dari tiga bersaudara itu. (muhamad erza wansyah/han)