Pasang Surut Karir Pelatih Arema I Made Pasek Wijaya

NAMA I Made Pasek Wijaya sudah jadi bahan pembicaraan pecinta bola nasional sejak era 80-an. Asisten pelatih Arema Cronus ini punya segudang pencapaian. Ia mampu berprestasi di tingkat nasional bahkan internasional ketika masa jayanya. Namun, ada cerita pilu yang mengiringi pemain terbaik Galatama tahun 1989 tersebut.
Pembawaannya santai dan luwes. Badannya kecil. Tingginya tidak lebih dari 175 cm. Ototnya tidak menonjol. Secara kasat mata, I Made Pasek Wijaya bukan seperti pelatih sepak bola. Bahkan, kegemarannya bercanda menutupi prestasi dan pencapaian Made Pasek sewaktu muda.
Tawanya sesekali memenuhi ruangan tidur pemain di mess Arema Jalan Buring, siang itu. I Made Pasek Wijaya sudah dikenal sebagai pelatih dengan sifat humoris dan mudah akrab dengan pemain. Begitu juga, saat diwawancara Malang Post, pelatih kelahiran Denpasar 5 Juli 1969 itu sering melontarkan candaan segar.
“Ya saya memang seperti ini orangnya. Jangan serius-serius kalau sedang santai seperti ini. Saat latihan memang harus serius dan disiplin. Kalau di luar lapangan, buat apa pasang wajah garang. Santai saja,” tandas Made Pasek, ketika berbicara soal perjalanan hidupnya dalam sepak bola Indonesia.
Mungkin, pecinta sepak bola Arema sampai sekarang masih belum banyak yang tahu, bahwa Made Pasek pernah menikmati gelimang ketenaran sebagai salah satu pesepakbola terbaik Indonesia pada era 1990-an. Made Pasek muda keluar dari Bali ketika belum genap berusia 16 tahun.
Sebagai orang Bali, Made Pasek menentang segala arus dan adat di desanya. Sebab, sepak bola bukanlah pekerjaan yang menghasilkan pada masa itu. Namun demikian, ia tetap ngotot menggeluti bakat dan talentanya. Dia bergabung dengan Diklat Ragunan yang pada masa itu menjadi gudang calon pemain nasional.
Ia pun moncer di antara para pemain bola Diklat Ragunan dan menjadi langganan timnas. “Tahun 1984 saya jadi pemain timnas termuda saat berusia 17 tahun, main di Piala Kemerdekaan Malaysia,” tandas Made Pasek.
Memasuki usia 17 tahun itu juga, dia dipantau oleh klub kaya Galatama era itu, Pelita Jaya yang sekarang melebur jadi Arema. Pada tahun 1986, Made Pasek bergabung dengan Pelita Jaya. Kecepatan, kemampuan dribbling serta crossing Made Pasek termasuk paling top.
Dia pun bisa bermain di banyak posisi untuk mendukung Pelita Jaya. “Saya pernah jadi gelandang sayap, lalu turun jadi gelandang bertahan, turun lagi jadi center back. Terus, terakhir saya paling lama main di posisi wing back,” kata Made Pasek.
Selama 15 tahun, dia menjadi ikon Pelita Jaya. Keahliannya dalam mengolah si kulit bundar dan mengobrak-abrik pertahanan lawan, membuatnya selalu jadi sasaran. Bukan hanya permainan keras, Made Pasek sudah sering melahap permainan kasar lawan.
Ia menyebut, ada tiga klub yang terkenal dengan permainan keras di Galatama. “PSMS, PSM dan Arema. Tiga klub ini paling keras mainnya. Kalau saya sudah menggiring bola, pasti ada yang mengejar dan memberi tackling keras. Soalnya, mereka tidak mau saya lepas dan masuk pertahanan lawan,” sambung Made Pasek.
Dia menikmati tiga kali juara Galatama bersama Pelita Jaya, tahun 1989, 1990 dan 1994. Selain prestasi di klub, Made Pasek juga mencatatkan tinta emas di kancah internasional bersama Garuda. Tahun 1989, dia mempersembahkan medali perunggu di Sea Games Malaysia.
Setelah itu, dia menjadi langganan timnas. Bahkan, Made Pasek sempat menjadi pemain timnas tertua dengan umur 32 tahun, saat membawa Garuda lolos kualifikasi Piala Asia 2000. Namun, roda hidup selalu berputar. Saat Made Pasek sukses mempersembahkan dua kali gelar juara buat Pelita Jaya, dia tertimpa musibah.
Ayah dari Ni Made Claudia Ayu Wijaya, Ni Made Valencia Wijaya, I Made Andhika Wijaya dan Ni Made Nadine Wijaya tersebut, mengalami cidera parah yang mengancam karir sepak bolanya. Tepatnya, tahun 1990 akhir, Made Pasek masuk dalam pemusatan latihan timnas di Jerman.
Saat melakoni laga uji coba lawan tim lokal Jerman, Made Pasek dihantam oleh pemain lawan. Ia terjatuh, lalu punggungnya diinjak. “Saya langsung mengerang kesakitan. Setelah didiagnosa, ada urat syaraf saya yang terjepit. Saya sempat divonis lumpuh dan tidak akan bisa main sepak bola lagi,” katanya.
Momen tersebut adalah momen paling memilukan dalam karir sepak bola Made Pasek. Baru saja moncer di dunia sepak bola, ia langsung terkena musibah. Ia sempat merasa putus asa karena biaya pengobatan dan rehabilitasi penyembuhan sangat mahal. “Saya beruntung karena Pelita Jaya Cronus menanggung semua biaya pengobatan saya. Saya berjuang mati-matian untuk sembuh. Selama hampir dua tahun, saya absen dari sepak bola Indonesia agar benar-benar pulih,” kata Made Pasek.
Semangat serta keinginan untuk tetap berkarir di dunia sepak bola, membuat Made Pasek sembuh. Dia melakukan comeback, saat membawa Pelita Jaya juara tahun 1994. Meski demikian, ia kadang masih merasakan syarafnya yang terjepit.
“Kadang-kadang saya masih merasakan syaraf yang kejepit itu. Saya susah tidur di tempat empuk selama belasan tahun. Alas tidur harus keras. Baru saat melatih Arema, saya ketemu dokter yang menyuntikkan obat syaraf, sakitnya hilang,” tutur Made Pasek.
Setelah karir yang moncer selama 15 tahun di Pelita Jaya, Made Pasek yang sudah tak muda lagi, pulang ke Bali dan bermain untuk Persegi Gianyar selama dua tahun. Setelah itu, dia pindah lagi ke Persikaba Badung dan memastikan diri gantung sepatu tahun 2006.
Setelah pensiun, Made Pasek melatih tim Divisi 2 Perst Tabanan. Tahun 2007-2009, dia mengambil nahkoda Persipon Pontianak. 2010, dia pulang kembali ke Pelita Jaya sebagai pelatih. 2013 lalu, akhirnya Made Pasek menjadi pelatih Arema setelah masa peleburan.
“Malang kota yang nyaman. Saya berharap karir saya di Malang bisa tetap langgeng dan bisa mempersembahkan gelar juara untuk suporter fanatik kota ini,” tutupnya.(fino yudistira/han)