Melihat Kelurahan ‘Apik Berseri’ Kepanjen

KELURAHAN ‘Apik Berseri’. Itulah nama lain dari Kelurahan Cempokomulyo, Kecamatan Kepanjen, yang selama dua tahun terakhir diberi predikat nama yang cukup unik oleh Pemerintah Kabupaten Malang. Bukan tanpa alasan jika kelurahan itu mendapat predikat tersebut, warga dari 31 RT dan 3 RW di sana mempunyai gaya hidup yang berbeda.
Bersih, asri dan banyak tanaman hijau yang dirawat di dalam pot di sisi jalan sepanjang Kelurahan Cempokomulyo. Kesan asri itu, bisa dijumpai tatkala mendatangi wilayah yang masuk kawasan ibu kota Kabupaten Malang ini. Di balik hiruk-pikuk masyarakat yang biasanya jauh dari kesadaran dalam menjaga kondisi lingkungan sekitar, pemandangan yang sangat berbeda justru ditampilkan dari warga Cempokomulyo.
Apik berseri tak hanya sebutan yang mewakili keasrian wilayah itu, tapi juga memiliki filosofi lain. Huruf A pada ‘apik’ ternyata singkatan dari kata agamis. Warga disatukan dalam kegiatan internal bersifat keagamaan seperti tahlilan yang digelar seminggu sekali.
 “Kegiatan tahlilan ini juga dilakukan secara bergantian di masing-masing rumah warga. Jadi, hampir semua umat muslim, mendapat kesempatan menjadi jujugan tahlilan. Kegiatan keagamaan ini, juga berlaku untuk remaja Cempokomulyo. Mereka, punya kegiatan ‘terbangan’,” kata Ketua RT14 RW02, Agus Prihawansah.
Sementara P singkatan dari produktif yang mewakili mata pencarian warga yang memiliki banyak kerajinan home industry. Mulai pengolahan tahu, keripik tempe, roti, hingga gerai di dalam kelurahan. Tamu cukup mendatangi gerai produk kelurahan, bisa menemukan beberapa produk yang diminati atau dicari. Sedangkan I adalah inovatif, karena kreativitas warga dalam mengelola sampah dari hasil rumah tangga.
Jika selama ini warga menganggap sampah adalah barang yang tidak bisa diolah, maka Cempokomulyo menjadikannya barang yang memiliki nilai ekonomis. Dari sampah-sampah yang dihasilkan warga di RT01 RW03, diolah menjadi sampah organik dengan memakai mesin yang sudah disiapkan. Hasilnya, sampah yang dibuat dalam bentuk pupuk itu, selain dijual kepada masyarakat lain juga digunakan warga dengan bandrol harga relatif murah.
Yang sangat menarik dari kehidupan masyarakat Cempokomulyo, selain tetap membangun sistem kekeluargaan yang rukun melalui kegiatan ibadah, juga dibuat kegiatan lain melalui arisan bersama antar satu kelurahan dan RT. Kondisi itu yang diwakili huruf K dari apik yang berarti Kekeluargaan.
“Ada arisan satu kelurahan dan satu RT sehingga komunikasi antar warga selalu terjaga dan terjalin,” imbuh bapak satu anak itu.
Untuk kata Berseri, Agus menerangkan, kata BER diartikan sebagai bersih. Di lingkungan warga kelurahan, hampir setiap rumah sudah memiliki bak sampah yang ditaruh di halaman masing-masing. Meski pun jumlah bantuan yang diberikan UPTD cukup terbatas, namun mampu dioptimalkan oleh seluruh warga. Karenanya, di masa mendatang, mereka mengupayakan gerobak sampah, karena sudah memiliki sistem pengelolaan yang sangat bagus.
“Di Cempokomulyo juga sudah memiliki bank sampah. Jadi seperti plastik atau logam yang tidak bisa diolah, itu dikumpulkan sendiri ke bank sampah. Selanjutnya, bank sampah akan memanfaatkannya menjadi hal yang menghasilkan uang untuk dikembalikan kepada masyarakat. Selain bank sampah, di kelurahan juga memiliki ‘sodakoh sampah’. Istilah ini digunakan untuk membantu warga yang masih belum berpenghasilan bagus dan bisa bekerja di tempat pengolahan sampah,” terangnya.
Kata SE pada kata berseri, diartikan dengan sehat, sebab warga memiliki kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan. Meski lokasi pemukiman mereka berdekatan dengan sungai Molek, warga turut menjaga dengan tidak membuang sampah ke aliran sungai. Sementara huruf R pada tulisan berseri, dijabarkan sebagai rapi.
“Ini anjuran pada semua warga untuk memelihara tanaman di halaman atau depan rumah masing-masing. Dengan memanfaatkan tanaman hijau yang indah pada pot dan ditempatkan di depan rumah atau sisi jalan, menjadikan pemandangan hijau dan bersih di setiap akses jalan yang dilalui,” jelasnya.
Karena tanaman yang ditempatkan di pot dan sisi jalan perlu perawatan, warga pun memiliki gerakan bersama yang diberi nama GSMBB (gerakan sepuluh menit bersih-bersih). Gerakan yang dilakukan di pagi hari itu, dilakukan oleh semua warga dengan membersihkan halaman dan tanaman depan rumah masing-masing.
Sedangkan kata I di penghujung kata berseri diartikan sebagai kepanjangan dari indah. Maksudnya, ketika semua arti dari masing-masing singkatan bisa dijalankan dengan baik, maka keindahan dari segala sudut kelurahan bisa dinikmati bersama. Bahkan, kelurahan akan terasa menjadi sejuk, asri dan adem.
“Suasana seperti inilah, yang membuat hati setiap warga menjadi sangat nyaman. Saat melintasi jalan, banyak tanaman hijau di kanan-kirinya. Sementara kebersihan lingkungan, pun juga terjaga,” paparnya.
Terciptanya kondisi yang apik dan menarik di Cempokomulyo, Agus menjelaskan, tidak terlepas dari peran aktif kelurahan. Karena awalnya, kebersihan dan keindahan yang sekarang nampak, berawal dari lomba antar RT yang diselenggarakan kelurahan. Dari lomba kebersihan, direspon sangat bagus oleh warga hingga akhirnya dikembangkan suatu penataan yang kemudian dijalankan dengan baik oleh seluruh warga. (sigit rokhmad/han)