Jatuh dari Lantai Tiga, Jenazah Masih Tertahan di Taiwan

Bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita (TKW), sebetulnya bukan pilihan hidup. Tetapi lebih pada tuntutan ekonomi. Seperti halnya dengan yang dialami Sri Wahyuningsih. Ia terpaksa harus menjadi TKW di Taiwan, demi mencukupi kebutuhan ekonomi kedua anaknya.

Perjuangan wanita kelahiran 9 September 1985 ini harus dibayar mahal. Baru tiga bulan menjadi TKW, ia dikabarkan meninggal dunia. Sri menghembuskan nafas terakhir saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Taiwan, Senin 5 Januari 2015. Ia mengalami luka cukup parah di kepala setelah jatuh dari lantai tiga.
Lebih ironisnya lagi, jenazah alumnus PGSD Universitas Kanjuruhan Malang itu sampai sekarang masih tertahan di Taiwan. Padahal hari ini (Kamis, red) sudah 40 hari kematiannya. Keluarga sangat menunggu kedatangan jenazah perempuan cantik itu.
“Dulu ketika kami mendapat kabar kematiannya dari pihak PJTKI, katanya dalam waktu sekitar 10 hari akan tiba di rumah duka. Tetapi sampai 40 hari ini, jenazahnya tidak kunjung datang,” ujar Sugiono alias Ogy, kakak kandung Sri Wahyuningsih ditemani istrinya Ani Ekawati.
Ogy menambahkan, keluarga hanya berharap jenazah Sri Wahyuningsih bisa segera tiba untuk dimakamkan di tempat kelahirannya, di Bukit Cemara Tidar Malang. Selain itu, keluarga juga ingin meminta kejelasan kronologis terjatuhnya dari lantai tiga. Pasalnya, pihak perusahaan yang memberangkat Sri ke Taiwan, hanya memberi kabar kalau anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Suparni–Ruwiyah ini jatuh dari lantai tiga.
“Kami ingin tahu kronologis jatuhnya itu disengaja atau tidak. Terjatuhnya seperti apa? Apakah ada yang mendorong atau bagaimana. Termasuk pulangnya kapan, kami sebagai keluarga butuh kepastian. Karena selama ini, ibu selalu menangis memikirkannya,” terang Ogy.
Keluarga juga berharap ada campur tangan atau bantuan dari pemerintah tentang kejelasan nasib Sri Wahyuningsih. Pemerintah diharapkan bisa membantu proses kepulangan jenazah secepatnya. Bahkan untuk keperluan itu, keluarga juga sudah berkirim surat ke Presiden RI Joko Widodo. Isinya, selain bercerita tentang kronologis, juga minta bantuan kepulangan, termasuk hak-hak serta asuransi yang seharusnya diterima korban.
“Pada 24 Januari lalu, atas saran keluarga yang berprofesi sebagai pengacara, kami diminta berkirim surat ke pak Presiden. Surat sudah kami kirimkan ke Presiden, Deplu, Depnaker, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), Gubernur Jatim serta Disnaker Kabupaten, tetapi sampai sekarang ini belum ada jawaban,” jelasnya.
Sri Wahyuningsih, berangkat bekerja sebagai TKW di Taiwan pada pertengahan Oktober 2014 lalu. Saat berangkat, Sri menggunakan alamat rumah sesuai KTP di Desa Banjarejo – Banjasari, Kecamatan Tumpang. Alamat tersebut adalah alamat rumah suaminya.
Sri berangkat karena tuntutan ekonomi. Ia harus membesarkan dan mencukupi kebutuhan kedua anaknya yang sekarang berusia 8 tahun dan 2,5 tahun. Itu setelah Sri dengan suaminya sedang dalam proses perceraian.
Almarhumah berangkat melalui PT PJTKI Berkat Sukses Makmur Sejahtera (BSMS) di Jalan Mayjend Sungkono 108 Malang, dengan tujuan Taiwan. Ia bekerja mengurus orang jompo di sebuah rumah tangga. Baru sekitar tiga bulan bekerja, pada 4 Januari 2014 keluarga korban di Bukit Cemara Tidar Malang, didatangi petugas dari Disnaker, perwakilan PT PJTKI, petugas lapangan (PL) serta Kepala Desa Banjarejo, Tumpang.
Mereka menyampaikan Sri Wahyuningsih terjatuh dari lantai tiga. “Kondisinya saat itu dikatakan sedang koma dan dirawat di rumah sakit,” katanya. Namun esok harinya, keluarga mendapat kabar kalau korban meninggal dunia pada 5 Januari dini hari sekitar pukul 01.20 (waktu Taiwan).
Dari kematian itu, pihak PT PJTKI BSMS yang mengabarkan, mengatakan akan segera mengurus kematiannya dan jenazah korban sekitar 10 hari sudah tiba di Malang. “Tetapi sampai sekarang belum juga datang. Dulu pihak PJTKI mengatakan kalau salah satu keluarga harus berangkat ke Taiwan untuk mengecek. Tetapi kami memberi surat kuasa kepada pihak perusahaan untuk mengurusnya, karena kami pasrah. Namun sampai sekarang jenazahnya tidak kunjung datang. Kami hampir setiap hari menanyakan, jawabannya diminta untuk bersabar,” papar Eka yang diamini suaminya.
Di sisi lain, PT PJTKI BSMS melalui kuasa hukumnya, Yudo Prihanto, mengatakan lamanya kepulangan jenazah Sri Wahyuningsih, karena masih menunggu kabar dari Kamar Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan. Saat ini pihaknya masih menunggu proses pengurusan, untuk memulangkan jenazahnya.
“Proses pemulangan jenazah di Taiwan memang lama, paling cepat satu bulan. Berbeda dengan di Singapura, yang cepat satu minggu sudah selesai. Keterlambatan kepulangan ini, karena pengiriman surat nikah korban juga terlambat,” tutur Yudo.
Ia menambahkan, PT PJTKI BSMS sudah berusaha maksimal untuk mempercepat kepulangan jenazah Sri Wahyuningsih. “Sebab kalau terlalu lama, kami malah (PJTKI BSMS) yang rugi. Biaya sewa kamar lemari es untuk mengawetkan jenazah, seharinya Rp 2 juta lebih. Dan nanti setelah ada putusan dari rumah sakit, kepolisian serta kejaksaan di Taiwan selesai, pasti jenazahnya akan dipulangkan ke Indonesia,” jelasnya.(agung priyo/han)