Pacaran karena Sekotak Pempek, Kalah Romantis dengan Istri

Pasangan Muda Arema Cronus, Hendro Siswanto-Adirsti Dyah
Banyak kamu muda yang menunggu Valentine Day demi menyatakan perasaan sayang atapun memberikan hadiah spesial untuk pasangan. Padahal kasih sayang sebenarnya adalah wujud dari sikap sehari-hari, yang diberikan dengan tulus dan tak terbatas waktu seperti kisah pasangan suami istri yang akan dimuat dalam beberapa edisi mendatang.  
Hendro Siswanto, gelandang Arema Cronus tengah menikmati masa-masa pasangan muda yang baru menikah. Mei 2014 lalu, Hendro mempersunting Adirsti Dyah setelah melalui masa pacaran 2 tahun. Keduanya berbagi cerita manis selama menjalani pacaran hingga menikmati masa-masa awal pernikahan.
Hendro sendiri tidak pernah menyangka, sekotak pempek Palembang bakal menentukan nasib dan jodohnya bersama Adirsti Dyah, kenalan yang tidak disangka-sangka. Hendro berujar, awalnya ia hanya ngobrol-ngobrol biasa dengan Adis, setelah dikenalkan oleh teman SMP pemain kelahiran Tuban itu.
Ia lebih banyak ngobrol dengan Adis lewat BBM, telepon maupun SMS ketika awal kenalan. Pasalnya, Hendro telah menjadi penggawa Singo Edan. Ia sering tur dan tak selalu berada di Malang. Hendro mengaku obrolan awal dengan Adis, sederhana dan simpel.
“Saya kenalnya pertama dari teman SMP. Itupun lewat BBM dan SMS. Kita belum pernah ketemuan. Komunikasi ya cuma sesekali aja kok. Obrolan kita simpel dan sederhana. Meskipun jarang, saya merasa klop tiap ngobrol dengan dia,” kata Hendro kepada Malang Post, kemarin.
Berawal dari teman BBM, Hendro dan Adis semakin dekat. Pada saat Arema tur ke Palembang lawan Sriwijaya FC, teman SMP Hendro minta oleh-oleh pempek. Hendro sekalian menawarkan pempek kepada Adis. Setelah pulang dari Palembang, keduanya bertemu kali pertama di salah satu restoran fastfood daerah Kayutangan sembari membawa oleh-oleh.
“Tahun 2012, saya bertemu dengan istri di restoran fastfood daerah Kayutangan. Dia kebetulan bersama teman SMP saya. Rame-rame pas itu. Kita juga ngobrol biasa-biasa saja. Setelah itu, kami terus komunikasi,” kata pemain bernomor punggung 12 itu.
Setelah itu, pemain berumur 22 tahun ini mulai merasakan sesuatu yang beda dari obrolannya dengan Adis. Tepat pada 10 November 2012, Hendro pacaran dengan Adis. Dua bulan setelahnya, obrolan Hendro dan Adis menjurus serius ke arah pernikahan.
“Pacaranku gak lama. Mungkin hanya sekitar enam bulan. Setelah itu saya lamaran 23 April 2013. Masa setelah lamaran ini yang lama menuju nikah, hehehe. Pasalnya, saya baru resmi menikah Mei 2014,” tandas pemain tipikal ngotot itu.
Setelah menikah, Hendro dan Adis akhirnya menetap di Malang. Hendro merasakan perbedaan yang mencolok saat masa pacaran dan pernikahan. Sebelum resmi jadi pasangan suami istri, Hendro sangat mempertimbangkan jam malam. “Dulu saya keluar sama istri maksimal jam 10 malam. Saya menghormati batasan dari orangtua istri. Saat liburan pun, kita tidak selalu bisa jalan bareng. Susah ketemu. Sekarang kita ketemu setiap hari dan bebas mau traveling kemana saja,” sambung Hendro.
Sebagai pasangan muda, Hendro merasakan masa-masa yang menyenangkan bersama istrinya di rumah. Ia bisa sesuka hati mengajak Adis liburan ke luar kota. Selain itu, ia tidak kesepian karena ada istri yang bisa diajak ngobrol usai pulang latihan Arema.
“Sekarang bisa jalan bareng, nggak pulang ke rumah pun gak apa-apa. Saat liburan bisa berdua saja jalan-jalan kemanapun. Saat di rumah, sudah ada yang masak buat saya. Selesai latihan pun sekarang ada yang mijitin, hehehe,” seloroh mantan penggawa Persela Lamongan itu.
Jelang Valentine, Hendro mengaku tak terlalu sibuk menyiapkan kejutan. Sebab, Hendro bukan tipikal suami romantis. Ia mengaku kalah kepada Adis. Menurut Hendro, Adis lebih romantis dan mesra ketimbang dirinya. Hanya saja, Hendro dan Adis berusaha saling mengerti satu sama lain sebagai suami istri.
“Yang mesra itu istri. Saya tidak ada romantis-romantisnya. Mungkin kita bisa mesra dan romantis karena mengalir begitu saja. Soal mesra dan romantis itu hanyalah soal saling mengerti satu sama lain,” tambah Hendro.
Sementara itu, Adis mengaku tidak pernah menyangka bakal jadi istri pemain sepak bola. Alumnus Universitas Brawijaya itu sama sekali tak pernah membayangkannya, apalagi meniadi istri pemain Arema. Pasalnya, Adis mengaku tidak terlalu mengagumi pria olahragawan.
“Saya tidak pernah mimpi punya suami atlet sepak bola, apalagi pemain Arema. Dulu saya tidak suka sama cowok yang punya badan kekar dan berbentuk. Eh sekarang suami saya badannya begitu,hehehe,” celoteh Adis. Wanita berambut panjang ini mengaku tidak susah punya suami Hendro Siswanto.
Meskipun pemain bola, Hendro bukan tipikal pria rewel dan penuh tuntutan. Adis menyebut Hendro sebagai pria simpel. Soal masakan pun Hendro tidak banyak tuntutan. Menurut Adis, Hendro malah lebih rewel soal bangun pagi dan olahraga.
“Dia nggak banyak nuntut dan nggak ribet. Tapi, dia cukup rewel soal jam bangun pagi. Dia juga menyuruh saya olah raga. Selain itu, yang paling susah dari Hendro adalah jadwal. Karena dia pemain, jadwal liburnya tidak tentu,” sambung wanita berkulit putih tersebut.(fino yudistira/han)