Sepenggal Kisah Bahagia Head of Sales Area Indosat Erwiyati Sri Lestari

Cinta adalah ungkapan sebuah rasa. Tak bisa dilihat, tadi dapat dirasakan kehadirannya. Cinta dapat membuat hati berbunga-bunga, tapi juga mampu melahirkan cemburu buta. Cinta adalah ungkapan kasih sayang. Begitulah deskripsi cinta menurut Erwiyati Sri Lestari, Head of Sales Area  Indosat Malang.

Tak mudah bagi Eri, panggilan akrab Erwiyati, untuk menyampaikan semua deskripsi cinta tersebut. Berbeda ketika ia diminta untuk menjelaskan program dan produk andalan Indosat, ia bisa menjelaskannya dengan lancar dan tegas. Kali ini, ada rona merah di wajah putihnya. "Ah sudahlah, malu saya, sudah tua kok masih ditanya cinta-cintaan," katanya tertawa.
Suasana ‘malu’ ini tak berlangsung lama, secepat rona merah yang menghilang, Eri pun dengan bersemangat berbagi sepenggal kisah hidupnya yang dipenuhi kebahagiaan. Walaupun ia dan suami tidak bisa tinggal satu atap setiap hari, namun keduanya mampu membina keluarga yang harmonis.
"Suami bekerja sebaga Branch Manager BTPN Krian, Sidoarjo, saya di Malang," ungkapnya. Tuntutan pekerjaan membuat mereka baru bisa kumpul bersama saat akhir pekan, itu pun tak sekadar tinggal di rumah, terkadang mereka harus keluar untuk menghadiri acara tertentu yang digelar di weekend. Seperti pada 8 Januari lalu, Erwiyati dan suaminya menghadiri Jalan Sehat yang digelar Malang Post bersama Alfamart dan Pantene di Lapangan Rampal.
Kisah cinta Eri dengan sang suami Arief Rachman (46) dimulai sejak keduanya kuliah di UPN, Surabaya. Sama-sama mengambil jurusan Ekonomi Manajemen. Arief yang tidak banyak kata, tiba-tiba mengungkapkan cinta. Tentu saja Eri kaget karena tidak menyangka jika teman satu kelasnya ini jatuh cinta kepadanya. Meski kaget,  ia tidak kuasa menolak dan menerima Arief menjadi kekasihnya.
Selama pacaran, keduanya selalu memberikan perhatian. Tidak banyak konflik muncul karena keduanya sama-sama pengertian dan mendukung apapun yang dikerjakan pasangan.
"Kebetulan kami berdua sama-sama suka nonton saat itu, jadi tempat  kencan ya di gedung bioskop," katanya tertawa.
Eri mengatakan, Arief merupakan tipe pria romantis. Meskipun tidak banyak kata, tapi dapat dilihat dari sikapnya. "Waktu Valentine, tiba-tiba mas Arief datang ke kos bawa kado. Tentu saya bahagia, dan yang lebih membuat saya bahagia adalah kado itu berisi sertifikat cinta yang sudah dipigura. Kado itu tetap saya simpan sampai saat ini," urainya, sembari mengatakan keduanya tetap intensi bertukar kado dan memberi ucapan selamat di hari-hari spesial.
Setelah kuliah empat tahun, Eri dan Arief lulus bersama-sama.  Arief pun memberanikan diri untuk melamar, namun ternyata orang tua Eri tidak langsung menyetujui keduanya untuk menikah. Mereka dimintauntuk bertunangan terlebih dahulu supaya bisa mempersiapkan diri dan menikah dalam kondisi mapan.
Tuntuntan itu bagai cambuk, Arief dan Eri pun bekerja. Keduanya banting tulang untuk bisa menabung dan menikah. Hingga akhirnya pada 10 April 1997, keduanya mengikat janji sehidup semati. "Pertama menikah kami memang sudah sama-sama kerja, tapi belum punya rumah, jadi ya ngekos," ucap wanita ini. Kehabagaian kian menyelimuti keduanya begitu anak pertama yaitu Nola Sadyasari lahir. Hidup keduanya kian lengkap. Sama seperti saat pacaran, selama menikah dan memiliki satu anak, tidak banyak konflik yang dirasakan.
"Kalau cemburu terus bertengkar kecil wajar saat menjalin rumah tangga. Tapi jelas cemburu dan pertengkaran itu bukan hal yang besar, bumbu perkawinan lah," kata Eri.
Setelah mendapat satu anak, cita-cita memiliki rumah kesampaian. Dilema mulai melanda di tahun 2007 lalu, Arief ditugaskan di area Banyuwangi. Eri dan Arief pun berpisah rumah untuk pertama kalinya. Berbagai perasaan campur aduk. Kekawatiran pun melanda. Keduanya juga memiliki rasa lebih sensitif. Meski kawatir, keduanya tetap memberikan support dan selalu menjaga kepercayaan masing-masing. "Yang kami tanamkan saat itu adalah kepercayaan. Dan alhamdulillah, kami bisa melaluinya," urai Eri.
Meskipun tidak hidup satu atap, tahun 2010, keduanya sepakat untuk membeli rumah di Malang. Tapi empat bulan setelah di Malang Eri justru ditugaskan menjadi Head Of Sales Indosat Area Kediri. Alhasil Eri pun tidak hanya berpisah dengan suami, tapi juga dengan dua anaknya. "Suami di Banyuwangi, saya di Kediri anak-anak tetap di Malang. Sedih iya, tapi saya terus berusaha menanamkan kepada anak-anak apa yang saya kerjakan ini juga untuk mereka," katanya.
Tahun 2012 Eri kembali ke Malang dan menjabat sebagai Head Of Sales Indosat Area Malang. Tapi suaminya justru dipindah tugaskan ke Sidoarjo. "Terpisah sudah biasa, yang pasti suami dua kali dalam seminggu selalu pulang ke Malang," tambahnya.
Menikah 18 tahun dan 8 tahun tidak hidup serumah dengan suami, tapi keduanya tetap melanjutkan kebiasaan mereka saat pacaran. Yaitu mengucapkan selamat saat hari-hari spesial, memberikan kado ultah, jalan-jalan dan makan bersama keluarga.
"Suami sering memberi kado yang bergubungan dengan dunia kerja saja. Gadget paling sering," katanya. Pernah Arief memberi kado tas, tapi karena Eri tidak suka, tas itu tidak dipakai. Itu sebabnya, Arief lebih suka memberikan istrinya kado gadget.
Eri pun demikian, dia juga memberikan kado saat hari spesial, sesuai dengan pekerjaan sang suami.
"Kami selalu ada waktu bersama keluarga, Sabtu dan Minggu. Dua hari ini sangat spesial, biasanya kami gunakan untuk jalan-jalan atau sekadar makan," tambah ibu dua anak ini. Tidak jarang mereka melakukan liburan, mengambil cuti dan melakukan traveling. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri, seperti Malsysia, Singapura dan masih banyak lagi.
Sekalipun jauh, Eri mengaku tidak kesepian. Di samping ditemani dua anaknya, komunikasi dengan suami juga dilakukan secara rutin. Sedikitnya Arief menelpon empat kali dalam sehari. "Dia menelpon pagi mau berangkat kerja, siang, sore dan malam. Justru saya yang jarang telepon," katanya sambil tersenyum.
Eri mengakui, hidup tidak satu rumah membawa dampak kecemburuan. Tapi itu dinilai sangat wajar. Menurut Eri, cemburu adalah tanda dia dan suaminya masih saling sayang. "Kalau gak sayang kan ndak ada rasa, termasuk cemburu. Tapi karena saya sayang dengan suami, makanya saya cemburu," tambahnya. Dia juga mengaku saat Valentine ini dirinya juga mengucapkan selamat kepada suaminya.
Lalu apa yang menjadi harapan Eri bersama suami di masa mendatang?. "Di setiap doa yang saya panjatkan, saya selalu meminta kami kembali satu rumah. Dan menjalani hidup ini bersama hingga kakek nenek nanti," pungkasnya.(ira ravika/han)