Kerajinan Topeng Barong Khas Malang di Kepanjen

KERAJINAN Topeng Barong  tidak hanya berada di Pulau Dewata Bali. Di Kabupaten Malang, juga terdapat perajin Topeng Barong. Tepatnya di Jalan Ketanen Kelurahan Penarukan Kecamatan Kepanjen  yang  digemari hingga berbagai daerah di tanah air.

Suara ketukan palu sebagai pertanda memahat kayu, memecah kesunyian di salah satu rumah di Jalan Ketanen Kelurahan Penarukan Kecamatan Kepanjen. Suara ketukan palu itu, berasal dari sebuah ruangan di samping rumah tersebut. Ya,  ruangan  tersebut memang dipergunakan sebagai tempat untuk membuat Topeng Barong khas Malang.
Terdapat empat orang asyik memahat kayu untuk dibuat topeng. Salah  satunya adalah Johan Untung, penggagas kerajinan Topeng Barong khas Malang. Sejenak, aktivitasnya berhenti. Kemudian, bapak dua anak ini menceritakan awal mula dirinya berinisiatif membuat kerajinan Topeng Barong khas Malangan.
Bermula dari keprihatinannya dengan serbuan mainan modern dari luar yang digandrungi anak-anak zaman sekarang,  dia membuat kerajinan topeng itu. “Saya sudah tujuh tahun membuat kerajinan tradisional topeng ini. Tujuannya, saya ingin membangkitkan kecintaan terhadap kerajinan tradisional,” ujarnya kepada Malang Post.
Utamanya, menumbuh kembangkan kecintaan kerajinan tradisional kepada anak-anak dan juga remaja. Dia prihatin, banyak anak-anak dan remaja sekarang, lebih menggandrungi mainan modern ketimbang mainan tradisional. Anak-anak lebih suka mainan berbau gadget maupun teknologi, ketimbang mainan topeng tradisional.
Padahal, topeng tradisional salah satunya Topeng Barong ini, juga bisa menjadi permainan yang asyik dan juga menarik. “Topeng Barong ini, bisa dibuat menjadi mainan anak-anak. Selain itu, juga bisa dibuat alat untuk sebuah pertunjukan kesenian tradisional. Seperti barongan itu sendiri dan tari topeng,” kata bapak dua anak ini.
Proses rumit dan membutuhkan waktu yang lama untuk membuat Topeng Barong. Mulai dari pemilihan bahan pembuatnya yakni dari kayu dadap cangkring. Keberadaan dari kayu dadap cangkring ini, sudah sangat sulit. Biasanya, pohon dadap cangkring itu, tumbuh didekat pinggiran sungai atau sumber yang mempunyai mata air.
Setelah mendaptkan kayu dadap cangkring, kemudian dipotong kecil-kecil. Lalu, potongan kecil-kecil itu, dipahat untuk menjadi sebuah topeng. Berbagai ukuran topeng yang dibuat, mulai kecil, sedang dan besar. “Dibutuhkan waktu satu minggu untuk melakukan produksi sebanyak 30 topeng berukuran kecil,” tuturnya.
Setelah dipahat, di atas topeng ditambah beberapa hiasan untuk mempercantik topeng itu. Kemudian, dilakukan pengecatan menggunakan cat kayu. “Ada tiga jenis dari Topeng Barongm yakni kucingan, nogoan dan butoan,” imbuh pria berusia 55 tahun ini. Sedangkan yang menjadi minat, adalah Topeng Barong jenis kucingan.
Sedangkan untuk harga jualnya sendiri, mulai dari paling murah Rp 150 ribu berukuran kecil, hingga Rp 1 Juta yang berukuran besar. Pemasaran topeng itu, tembus berbagai daerah di tanah air. Seperti Jakarta, Bandung dan  Semarang maupun daerah diluar pulau Jawa seperti  Balikpapan, Makassar, Palembang, Riau dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.
“Pesanan dari luar pulau, berjumlah banyak. Minimal pesanannya itu berjumlah 50 buah. Memang, yang membuat topeng ini jarang,” kata dia. Sedangkan penggunaanya, untuk pementasan kesenian barongan dan kesenian tradisional. Disinggung pendapatannya membuat Topeng Barong itu, dia mengaku hingga Rp 10 juta per bulan.
Namun, yang dia pikirkan saat ini, bukanlah keuntungan. Melainkan menumbuh kembangkan kecintaan anak-anak dan pemuda terhadap mainan tradisional. Menurutnya, generasi mudalah yang wajib meneruskan kesenian dan kebudayaan tradisional. Tujuannya, supaya tidak  punah dan tergerus dengan zaman yang modern. (Binar Gumilang).